TERKINI
GAYA

[CERPEN] Kenangan dari Kota Mati

Kicauan burung dari semak belukar hutan terdengar riuh, seolah sahutan suara mereka menyambut kedatangan kami. Sungguh naif kota tua itu.

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 9 menit
SUDAH DIBACA 2K×

Oleh Nazarullah Armia

Singsingan angin sore membuat sekawanan awan di langit bergerak ke arahku. Perlahan semakin mendekat, sebagian telah melangkahi kepala hingga aku harus memutar badan untuk melihatnya. Aneh rasanya akan apa yang baru saja aku lihat, beberapa kali sempat kualihkan pandanganku.

“Mengapa ini?  Bagai mimpi saja,” bersitku dalam hati. Sampai ke sekian kali melihat keadaan masih juga sama, baru aku yakin itu benarlah nyata.

Tak heran memang, kala itu, mataku terpana saat menilik langit yang tak berujung itu. Ada kepulan awan membentuk serupa huruf abjad, hingga hati dan pikiranku lenyap ke dalamnya. Aku menjadi lupa di mana dan sedang apa. Padahal aku dengan teman-temanku sedang dalam perjalanan, aku menumpangi sepeda motor Mustaqim, salah satu teman kelas Sekolah Hamzah Fansuri.

Meskipun nyata, kejadian sore itu telah menyulapku, cuma perasaan aku saja menganggapnya bergerak. Padahal, laju sepeda motorlah menjadikan semuanya demikian. Aku makin ingat dalam pelajaran fisika SMP dulu. Kata guruku itu disebut gerak semu, gerak yang menipu akibat bergeraknya suatu benda. Aku makin tambah ilmu ini, hehe.

Ternyata tak hanya aku yang melihat awan itu. Reza, temanku yang selalu melucu, kami merasa bahagia karena selalu dibuat tertawa olehnya.  Ia sempat memanggilku beberapa kali. “Zar, Zar, coba lihat itu, aneh sekali, menurutmu itu berbentuk apa?” Serunya sambil  menunjukkan ke arah yang dilihatnya. Padahal, aku telah dahulu melihat dari padanya.

Sejak itu aku menjadi sadar, aku dipengaruhi keadaan. Apa yang diyakini benar tak selalu benar, mungkin inilah yang orang  maksudkan tipu daya dunia.  Terkadang kita sering melalaikan diri dengan bersikap dan bertindak sesuai hawa nafsu belaka, seakan hidup ini tempat menumpahkan kesenangan semata, hingga lupa akan makna dunia tempat sementara, ada kehidupan yang abadi setelahnya.

***

Baling-baling daun akibat tiupan angin menebarkan hawa dingin. Badanku sedikit menggigil dan merinding, angin masuk melalui celah lengan bajuku  hingga menjalar ke seluruh tubuh. Begitulah akibat sesekali berada di daratan tinggi. Itu pun karena mengikuti acara Kemah Kesenian Aceh dengan agenda kami Kemah Sastra Hamzah Fansuri. Seketika itu, kami tengah melintasi kota Jantho, ibukota kabupaten Aceh Besar, siswa sekolah Hamzah Fansuri bersama seorang guru Thayeb Loh Angen.

Sepanjang jalan deretan pepohonan berdiri tegak, sebagian dahan dan daunnya menutupi setengah badan jalan hingga tampak sangat teduh dan cahaya matahari tak mudah tembus dari sela-sela daun itu. Suasana sedikit sepi, hanya satu dua orang saja yang dijumpai tengah melewatinya.   

Dari jarak lebih kurang 500 meter terlihat sebuah mesjid,  kelihatan letak dan tekstur bangunannya sangat indah. Tak sabar untuk melihat dengan jelas dari dekat, kami pun segera menghampirinya. Tepat berada di depan gerbang pintu, kami memperlambat kereta supaya dapat memandang keindahan pekarangan di dalamnya.

Halaman mesjid tampak luas, beberapa batang pohon dan bunga-bunga di pekarangan menambah keindahan hingga dari jauh sekelilingnya tampak hijau. Bangunan mesjid cukup memukau, gayanya seperti mesjid-mesjid di timur tengah, kubahnya melungkup bagai tempurung, warna krem dinding dengan putih kubahnya menambah khas bak istana Tajmahal India, hanya bentuknya saja sedikit berbeda.

Keadaan kota tak biasa sebagimana umumnya. Suasana ramai dan karuan, deru-deru kendaraan tidak didapatkan di sana, orang-orang yang melintas bisa dihitung jari. Kicauan burung dari semak belukar hutan  terdengar riuh, seolah sahutan suara mereka menyambut kedatangan kami. Sungguh naif kota tua itu.

Mengapa dengannya? Sudah lama berdiri masih begitu saja. “Hidup tak mau matipun tak jadi”, ini istilah sebagian orang yang kesal dengan kenyataan kota itu. Tak heran, muncul perdebatan dari kalangan pejabat daerah untuk memindahkan ibukota Aceh Besar itu ke Lambaro, daerah yang sangat maju di dekat Kota Madya Banda Aceh.

Padahal, gerbang masuk di persimpangan jalan Banda Aceh-Medan berdiri megah bak memasuki kawasan istana. Bangunan tinggi besar telah dibangun sedemikian rupa. “Apakah memang tidak akan lebih baik lagi? ataukah Kota itu sudah takdirnya sebagai tempat kera, babi hutan, dan teman-temannya?” Hatiku sedih saat merenungnya, keindahan yang ada seakan sirna.

Aku ingat betul  apa kata guru agamaku. “Manusia ini dibekali akal, dengannya kita diberi keluasan berpikir, sehingga dapat menata kehidupan lebih baik, kita bisa saja merubahnya sebelum nyawa sampai ke kerongkongan,” katanya untuk menasehatiku. Aku masih percaya pemimpin negeri ini, sekarang bukan lagi saatnya terus menghujat, tapi bagaimana memberi kepercayaan kepada mereka.

Letak di pengasingan dan fasilitas kota yang tak memadai belum menarik minat masyarakat untuk pergi dan menetap di sana. Lihatlah kota-kota besar itu, sektor-sektor seperti pembangunan, ekonomi, pendidikan, seni, dan eko wisata mengundang decak kagum masyarakat sehingga menarik mereka untuk menetap di sana. Keberadaan pasar, lembaga pendidikan perguruan tinggi juga sangat mempengaruhi.

***

Jalan kota tampak masih bagus, licin dan mulus meskipun bukan baru dibangun. Mungkin disebabkan karena tak banyak orang yang melewatinya. Dari jalan utama yang kami lewati, ada beberapa cabang jalan kecil atau lorong yang saling menghubungkan di seputaran kota itu. Supaya tidak meragukan ke mana tembus lorong-lorong itu kami pun memasukinya satu-persatu.

Sebenarnya sore itu hendak mencari suasana yang tenang, tempat yang kiranya dapat bersantai, menikmati keindahan, atau melihat matahari terbenam. Akibat  belum menjumpai tempat yang cocok sebagaimana yang diinginkan, kami terus  mengikuti jalan yang ada sampai beberapa kali bolak-balik di jalan bagai orang tersesat saja.

Karena belum tentu jelas kemana, perlu rapat kecil untuk menyepakati tujuan perjalanan sore itu. Kami harus menghentikan kendaraan sejenak, teman-teman tampak mulai menepi dan mematikan mesin sepeda motornya. Ada beberapa tempat wisata, kata orang  yang pernah berkunjung ke sana di antaranya bukit jalin, air terjun peucari, greenland dan lain-lain. Kami akan memilih salah satu dari itu asalkan panorama alamnya bagus dan jaraknya terjangkau.

Kausar El Barazy, temanku ini sekilas tampangnya mirip bule tetapi namanya terdengar seperti orang Arab, ia sangat gemar menghadapi tantangan, seringkali ia mengiikuti petualangan bersama MAPALA (Mahasiswa Pencinta Alam) ke puncak gunung. Entah karena hobinya ia mengajak ke bukit Jalin. Kata orang tempat ini menjadi primadona pemuda-pemudi Aceh Besar. Tempat ini sangat cocok bagi siapa yang suka mengabadikan foto-foto. 

Jarak bukit Jalin dari pusat kota terbilang cukup jauh. Bukan bermaksud menolak Kausar, ada berbagai hal yang harus dipertimbangkan. “Ini waktunya cukup singkat, lebih kurang satu jam lagi telah tiba waktu magrib, ‘kan gak mungkin juga magrib nanti di semak-semak sana,” kata Rahmat dengan gaya khasnya yang sedikit tegas.  Semua orang tampak mengangguk apa yang dikatakannya,  bahkan Kausar sendiri tak membantah lagi.

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Berjalan sekitar satu kilometer, tepat di persimpangan ada sebidang papan penunjuk arah bertuliskan “Green Land”. Membaca nama  itu terbayang  akan sebuah tempat yang berbukit-bukit, rumput kecil halus, berberapa pohon yang teduh, dan  rumah-rumah kecil seperti vila terdapat di dalamnya. Tak kuasa membayangkan betapa indah andai benar-benar pemandangan demikian adanya. Akhirnya aku berpikir bahwa kami telah menemukan tempat yang tepat dan tak sabar untuk segera sampai di sana.

Dari jalan yang kami lalui, papan nama itu menunjukkan ke jalan kiri. Kami menghidupkan kereta dan perlahan masuk jalan itu. Tumpukan  rumah berdiri berdampingan dengan kebun dan ladang. Paling ujung rumah warga  itu langsung tampak jalan menanjak, sekelilingnya semak belantara yang sangat tebal. Sepertinya ke depan lagi kampung telah tiada, sebab, hanya hamparan sawah dan hutan tak terurus yang dijumpai.

Kami telah menempuh perjalanan lebih kurang sekitar 2,5 kilo meter dari pusat kota, tetapi Green Land yang dimaksud belum kunjung sampai. “Kok gak sampai-sampai, jangan-jangan memang tak ada, papan tadi jangan-jangan iseng saja,” keluh Kausar berlagak yang sudah setengah ragu.

 Reza, yang berjalanan  mengiringi berusaha menyanggahnya. “Mana  mungkin tidak ada, coba saja jalan lagi, jangan cepat berprasangka yang tidak-tidak,” tegasnya menyemangati teman-teman. Semua masih tampak terdiam sebelum Thayeb Loh Angen berusaha menegaskan lagi. “Lanjutkan saja perjalanannya, kalau memang tak kunjung sampai, kita kembali karena magrib harus tiba lagi di Jantho,” tegasnya.

Dari jauh tampak beberapa orang sedang berjalan pulang, bahu mereka menanggung sesuatu yang dibungkus dalam karung, sedang tangannya mengapit tas yang berisi parang. “Oooh 'ni orang pulang dari kebun, ooh ya tanyakan saya pada mereka dari pada terus tersesat begini,” pikirku dalam hati. Tak segan-segan segera kuhampiri mereka. Kutanyakan dimana letak Green Land yang tertulis di papan itu. Tampak mereka semua terdiam dan bingung. “Greeiiin laaaand, kami tidak tau, namanya saja tidak pernah didengar,” jawab salah satu dari mereka.

Jawaban itu membuat kami bertambah ragu, bagaimana mungkin orang kampung sendiri tidak mengenal nama tempat wisata di daerahnya. Meskipun demikian, ucapan ibu-ibu tadi tidak sepenuhnya kami yakini, mungkin saja mereka tidak mengerti sebab namanya disebut dengan bahasa Inggris. Kami kembali menancapkan gas sepeda motor hingga berjumpa dengan sekumpulan anak-anak di jalan, sebagian mereka sedang asik menarik benang layang yang mereka mainkan. Kami berhenti dan bertanya pada anak-anak itu.

Dari mereka diketahui memang benar ini jalan menuju tempat wisata yang namanya sangat tersohor itu. Barulah hati yang terbalut seribu keraguan dalam sekejap hilang, semua kembali bersemangat. Raut wajah tampak terpancar rasa gembira karena sudah menanti sampai di sana.

Sampai di penghujung jalan ditemui dua persimpangan kiri kanan. Sesuai pesan anak-anak, jalan ke kiri mengantarkan kami ke tempat yang sudah tak sabar ingin melihatnya. Jalan sedikit menanjak, sampai di puncak perlahan tampak tanah gersang, sedikit maju tanah di sebelahnya berserakan rumput liar, ke arah jauh tampak berdiri gunung-gunung biru pekat, belakangnya berlatar langit biru cerah, sedang di puncaknya berserakan awan-awan. Sungguh keindahan benar-benar nyata.

Di tepi jalan ada lahan kosong, di dalamnya dibangun beberapa rangkang beratap rumbia. Rasa penasaran semakin bertambah, tetapi sedikit bau busuk sehingga kami cepat-cepat berlalu meninggalkannya. Rupanya itu gubuk pemeliharaan ayam potong.

Melangkah beberapa ratus meter lagi ada satu area yang sangat luas, seluruhnya telah dipagar dengan kawat dan diikat pada tembok  beton. Di dalamnya rumput tumbuh lebat berserakan, beberapa kerbau tampak sedang asik membabatnya.

Paling ujung dari lahan itu tampak beberapa bangunan ditata cukup rapi di dalamnya. Sangat  penasaran, kami segera menghampiri gerbang masuk. Di atasnya terpampang tulisan “Green Land Kota Jantho Kabupaten Aceh Besar”. Sangat terkejut, tempatnya sudah tak terurus dan sepi. Pintu dibiarkan terbuka, kamipun melangkah masuk dan memarkirkan kendaraan.

Dari dekat gerbang ada satu bangunan seperti menara, dari satu sisinya dibentangkan jaring hingga ke tanah. Dari sisi lain diikat tali baja yang dihubungkan ke menara lain yang berada berseberangan dengan sebuah kolam renang. Sepertinya itu dibuat sebagai tempat menggantung dan menyusur hingga ke ujung yang berada di seberang kolam itu.

Di atas bagian kolam itu ada sebuah cafe. Sebelahnya rangkang kecil beratap rumbia dikotak-kotak untuk dinikmati pengunjung, sangat cocok untuk liburan keluarga. Kata salah seorang penjaga, saat masih aktif tempat itu terlbilang cukup mewah, sampai tukang masak cafe itu disewa orang-orang dari Medan yang profesional.

Di salah satu sudutnya berdiri sebuah gedung, fungsinya serba guna, dapat dipakai untuk penginapan dan acara-acara seminar karena terdapat aula dan kamar-kamar seperti hotel. Jarak ke pusat kota sangat jauh. Namun, mesjid dan beberapa bangunan lain tampak terlihat di sela-sela perbukitan.

Bagaimana bila malam hari di sana? Cahaya kelap-kelip lampu dari kota kecil itu pasti tampak indah dan mempesona, sungguh tak perlu diragukan keindahannya. Dari bagian atas tempat itu, kami abadikan beberapa foto dengan memegang spanduk yang berisi bait-bait syair perahu. Nah, semua itu menjadi tanda siswa sekolah Hamzah Fansuri  telah menapakkan kaki di sana.[](tyb)

*Nazarullah Armia, siswa Sekolah Hamzah Fansuri Kelas Sastra Dan Perkabaran 2015

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar