TERKINI
CITIZEN REPORTER

Teringatnya Sufi Kepada Sufiani

Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai* “Kepada malam aku berkata, bahwa engkaulah rembulanku. Kepada siang aku berkata, bahwa engkaulah matahariku. Kunafikan dunia dan seluruh isinya, hanya…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 5 menit
SUDAH DIBACA 1.3K×

Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai*

“Kepada malam aku berkata, bahwa engkaulah rembulanku. Kepada siang aku berkata, bahwa engkaulah matahariku. Kunafikan dunia dan seluruh isinya, hanya kerana ikhlasnya diriku mengingatmu,” pemuda ta’at itu selalu bersyair di kesunyian malam. Ia seorang yang teguh dalam hal beribadat kepada tuhan.

Filsuf adalah nama tempat orang tua Sufi, keturunan dari mereka itu, merupakan penduduk asli yang masih bertahan dan ada sampai sekarang ini. Kampung tersebut berada di daerah pesisir, penghasilan utama bagi setiap mereka yang ada di sana. Ialah seluruhnya berharap pada hasil dari laut, tidak pada yang lainnya.

Di kala angin, tak bersahabat. Gelombang di laut juga tidak bisa ditakat, semua mereka-mereka itu banyak menghabiskan waktunya dan lebih memilih untuk berada di dalam rumah masing-masingnya. Siang dan malam beribadat kepada tuhan, hanya sedikit sahaja membagi waktu itu untuk besosial dengan sesamanya.

Ketika angin dan laut tak bergemuruh lagi, barulah kegiatan mereka itu kembali seperti semula lagi. Akan terlihat ramai yang lalu-lalang di jalan-jalan kampung, dan di tepi laut hampir semua dari penduduk kampung tersebut berkumpul setiap hari-harinya. Mereka jarang untuk duduk di setiap semua kedai.    

Mereka-mereka yang ada di kampung Filsuf tersebut, tidak pernah sama sekali merasa risau di sa’at-sa’at angin dan laut berombak. Walau hanya mengandalkan, menghidupi akan kehidupan pribadi atas setiap tanggungannya pada hasil laut itu. Nakeuh, penduduk-penduduknya tidak pernah sekalipun mengeluh.

Sufi, salah seorang pemuda ta’at di kampung itu. Selalu melakukan ibadah tepat di setiap waktunya, namun ia suka menulis. Kegemarannya kepada syair, berawal daripada ia menemukan sebuah buku di dalam rumah orang tuanya. Buku itu berisikan tentang tata cara beribadah kepada Tuhan dengan baik dan benar, semua tulisan-tulisan tata cara itu termaktub dalam bahasa syair.

Bersabablah tertulis dengan bahasa yang indah, membuat dirinya tertarik untuk membaca buku tersebut. Dulunya ia hanya membaca buku itu dan sendiri sahaja, tidak pernah ada guru. Perlahan, ia mulai memahami akanpada keharusan bagi setiap siapa sahaja yang ingin belajar, menuntut ilmu haruslah ada pembimbing.

Maka ia pun berniat untuk mencari seorang guru di tempat lain, kerana kampung Filsuf tersebut melarang penduduknya untuk berguru. Ditambah lagi di dalam buku tata cara beribadat itu, jelas termaktub. Bahwa setiap ibadah yang dilakukan, haruslah ada seorang pembimbing. Tidak semata mengandalkan buku, kerana apa yang ada di dalam itu membutuhkan penjelasan terperinci dan mendalam.

Maka dengan demikian, merantaulah ia untuk mencari sang pembimbing. Tidak peduli dengan sumpah-serapah orang tuanya, apalagi penduduk-penduduk di kampungnya itu. Sufi, seorang pemuda yang mempunyai prinsip, bertekad kuat. Sekali ia berkata, maka akan dilakukannya. Pada hari yang sudah ditentukan itu, berangkatlah ia.

Tidak membawa bekal, walau hanya untuk sekali waktu sahaja. Ia seorang yang rajin beribadah, mengetahui bagaimana cara untuk tidak lapar. Menurutnya lapar itu adalah kekenyangan jiwa, dan kenyang (makanan) merupakan kebodohan. Apalagi ia sudah terbiasa dengan lapar, oleh kerana ia penduduk dari kampung Filsuf.

“Jika dirimu benar-benar ingin belajar dengan seorang guru, maka belajarlah untuk menggurui dirimu dahulu,” kata seorang perempuan yang mempunyai lesung di pipinya itu.

Perempuan tersebut tengah menulis, di hadapannya terbentang sebuah buku tebal dan besar. Di sisi lain dari tempat itu, juga tersusun buku-buku yang tebal dan lebih besar. Sebuah persinggahan yang tengah disinggahi Sufi sekarang ini, berada di tengah-tengah hutan belantara.

Pada sa’at itu, di dalam persinggahan tersebut. Ia hanya menemukan seorang perempuan yang berwarna langsat kulitnya, ialah ia, si Lesung pipi yang berkata-kata padanya tadi. Mereka hanya berdua. Setelah selesai daripada tugas menulisnya, perempuan tersebut baru menghidangkan air untuk Sufi.

Mereka larut dalam kata, sesekali terlihat senyuman bersahaja diantara keduanya. Akanpada masalah beribadah, merupakan fokus mereka. Sufi belum mengerti tentang cinta, ia hanya seorang pemuda kampung yang buta tentang persoalan itu. mereka masih sahaja berkata-kata.

Hari mulai senja, Sufi keluar dari dalam persinggahan itu. Suasana alam di tengah-tengah belantara tersebut begitu sejuk, angin-angin berhembus pelan. Senada dengan dedaunan yang terus berjatuhan, walaupun demikian. Pohon-pohon itu tidak pernah membenci akanpada angin yang membuat daunnya berguguran.

“Kalian telah hidup rukun dan berdampingan, kalian bisa menerima perselisihan. Kalian telah menyatu ke dalam makrifat yang satu,  sungguh hakikatmu hanyalah itu,” Sufi berguman sendiri. Ia  seakan meratapi kegelisahan hatinya, orang-orang yang ada di kampungnya, apalagi kepada orang tuanya.

Ia terus melangkahkan kakinya, walau ia belum tahu harus mencari dan akan bertemu dengan gurunya di mana. Hutan-hutan itu terus dijejaki, berhari-hari ia di dalamnya. Ia tak pernah makan dan minum, beristirahat jika sudah benar-benar merasakan kelelahan di jasadnya.

Sekali waktu di tengah perjalanannya, berdasar dari sabab kata-kata. Kerana selama hidupnya itu barulah ada seorang perempuan yang selain daripada ibunya. Telah bercakap-cakap dengannya, dan ia sangat menyesali hal itu. Oleh lupa untuk bertanya akanpada siapa nama perempuan yang berlesung pipi itu.

“Kenapa aku sampai lupa untuk menanyakan namamu duhai Sufiani, aku menyesalinya kini. Aku tak pernah tahu di dalam hidupku, kapan akan berjumpa lagi denganmu,” Sufi terus membatin sendiri di tengah-tengah belantara itu, semakin ia teringat akanpada Sufiani. Sebutannya untuk perempuan tersebut. Maka semakin cepat pula ia melangkahkan kakinya itu.[]

*Syukri Isa Bluka Teubai, penyuka sastra. 

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar