Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai*
Kepada malam aku berkata, bahwa engkaulah rembulanku. Kepada siang aku berkata, bahwa engkaulah matahariku. Kunafikan dunia dan seluruh isinya, hanya kerana ikhlasnya diriku mengingatmu, pemuda taat itu selalu bersyair di kesunyian malam. Ia seorang yang teguh dalam hal beribadat kepada tuhan.
Filsuf adalah nama tempat orang tua Sufi, keturunan dari mereka itu, merupakan penduduk asli yang masih bertahan dan ada sampai sekarang ini. Kampung tersebut berada di daerah pesisir, penghasilan utama bagi setiap mereka yang ada di sana. Ialah seluruhnya berharap pada hasil dari laut, tidak pada yang lainnya.
Di kala angin, tak bersahabat. Gelombang di laut juga tidak bisa ditakat, semua mereka-mereka itu banyak menghabiskan waktunya dan lebih memilih untuk berada di dalam rumah masing-masingnya. Siang dan malam beribadat kepada tuhan, hanya sedikit sahaja membagi waktu itu untuk besosial dengan sesamanya.
Ketika angin dan laut tak bergemuruh lagi, barulah kegiatan mereka itu kembali seperti semula lagi. Akan terlihat ramai yang lalu-lalang di jalan-jalan kampung, dan di tepi laut hampir semua dari penduduk kampung tersebut berkumpul setiap hari-harinya. Mereka jarang untuk duduk di setiap semua kedai.
Mereka-mereka yang ada di kampung Filsuf tersebut, tidak pernah sama sekali merasa risau di saat-saat angin dan laut berombak. Walau hanya mengandalkan, menghidupi akan kehidupan pribadi atas setiap tanggungannya pada hasil laut itu. Nakeuh, penduduk-penduduknya tidak pernah sekalipun mengeluh.
Sufi, salah seorang pemuda taat di kampung itu. Selalu melakukan ibadah tepat di setiap waktunya, namun ia suka menulis. Kegemarannya kepada syair, berawal daripada ia menemukan sebuah buku di dalam rumah orang tuanya. Buku itu berisikan tentang tata cara beribadah kepada Tuhan dengan baik dan benar, semua tulisan-tulisan tata cara itu termaktub dalam bahasa syair.
Bersabablah tertulis dengan bahasa yang indah, membuat dirinya tertarik untuk membaca buku tersebut. Dulunya ia hanya membaca buku itu dan sendiri sahaja, tidak pernah ada guru. Perlahan, ia mulai memahami akanpada keharusan bagi setiap siapa sahaja yang ingin belajar, menuntut ilmu haruslah ada pembimbing.
Maka ia pun berniat untuk mencari seorang guru di tempat lain, kerana kampung Filsuf tersebut melarang penduduknya untuk berguru. Ditambah lagi di dalam buku tata cara beribadat itu, jelas termaktub. Bahwa setiap ibadah yang dilakukan, haruslah ada seorang pembimbing. Tidak semata mengandalkan buku, kerana apa yang ada di dalam itu membutuhkan penjelasan terperinci dan mendalam.
Maka dengan demikian, merantaulah ia untuk mencari sang pembimbing. Tidak peduli dengan sumpah-serapah orang tuanya, apalagi penduduk-penduduk di kampungnya itu. Sufi, seorang pemuda yang mempunyai prinsip, bertekad kuat. Sekali ia berkata, maka akan dilakukannya. Pada hari yang sudah ditentukan itu, berangkatlah ia.
Tidak membawa bekal, walau hanya untuk sekali waktu sahaja. Ia seorang yang rajin beribadah, mengetahui bagaimana cara untuk tidak lapar. Menurutnya lapar itu adalah kekenyangan jiwa, dan kenyang (makanan) merupakan kebodohan. Apalagi ia sudah terbiasa dengan lapar, oleh kerana ia penduduk dari kampung Filsuf.