Oleh: Anton Widyanto*
Sepanjang karir perjalanan hidupnya, Musharrif lebih dikenal sebagai tukang obat keliling. Bak klinik berjalan, obat yang dijual Musharrif macam-macam. Ada obat panu, alergi, kurap, jerawat, sakit gigi, sampai penyembuh jantung dan lever. Kata-kata yang keluar dari bibirnya bagaikan sihir penyair Arab di Pasar Ukaz yang mampu membius banyak orang. Ramuan cap singa, badak, atau buaya, dengan bungkusan tertulis herbal akan laku dijual dengan kemampuannya beratraksi meyakinkan pembeli.
Musharrif memang sosok yang tidak pernah tinggal di satu tempat. Sekali waktu ia muncul di desa A, di lain waktu ia sudah ada di desa B, C, D dan seterusnya. Selalu begitu. Sosoknya bagaikan hantu belau. Muncul tanpa diundang, menghilang tanpa diantar.
Tapi sudah 10 tahun ini, masyarakat desa kami tidak pernah melihat Musharrif . Biasanya di musim hujan begini, dia sudah sibuk menggelar lapaknya di pojok pasar kecamatan. Tubuhnya berisi, tegap dan tinggi laksana pohon asam yang kokoh berdiri. Penampilannya selalu nyentrik dan khas. Ia biasa memakai topi ala koboi, memakai rompi, sepatu boot, plus kumis tebalnya yang melintang membuat orang langsung tanda, itulah Musharrif, Sang Penjual Obat Keliling. Kini riwayat sosok itu telah lenyap. Batang hidungnya yang mancung sudah tidak terlihat lagi.
Di tahun-tahun sebelumnya warga desa kami sempat terpikir, bahwa Musharrif pasti sedang menggelar lapak di tempat lain. Tapi hari sudah berganti bulan, dan bulan sudah bertimpa tahun. Telah satu dasawarsa sosok Musharrif hilang bak ditelan bumi. Ke manakah dia? Apakah dia sudah pensiun? Apakah dia sakit? Ataukah justru dia sudah meninggal? Pertanyaan-pertanyaan itupun menggelantung tanpa jawaban. Kalaupun ada jawaban, jawabannya hanya Wallahu alam. Masyarakat, bahkan pasar pun, akhirnya terbiasa tanpa kehadiran sosok Musharrif . Kisah tentang sang penjual obat misterius itu sudah ditulis dengan tanda titik. Tamat.
***
Lembaran kisah hidup baru yang lain mulai dibuka. Suatu hari, masyarakat desa kami kedatangan tamu asing. Ada seorang laki-laki berjas hitam, memakai sorban di bahu, berjambang dan berkumis lebat. Di kepalanya tersemat kopiah hitam dan di dadanya terpasang sebuah dasi, lebih mirip tampilan pejabat di TV. Lelaki tersebut terlihat pertama kali saat salat maghrib di masjid kami. Posisinya di shaf pertama, dekat mimbar. Kami sempat berbisik mempertanyakan siapa sosok manusia itu. Selepas salat maghrib, kami melihat sosok berjas hitam itu masih tetap saja duduk, sambil memegang tasbih. Matanya terpejam. Mulutnya komat-kamit. Mungkin sedang berzikir. Kami yang mau mendekat, menjadi segan. Akhirnya satu per satu jamaah yang penasaran, kembali pulang ke rumah masing-masing, tapi aku tidak. Aku menunggu dengan setia sampai salat Isya tiba, hitung-hitung sekalian itikaf.
Saat salat Isya tiba, laki-laki berjas hitam itu masih duduk di shaf pertama, persis di dekat mimbar. Herannya, dia tidak berdiri menjadi makmum kali ini. Tidak seperti salat maghrib tadi. Dia tetap duduk sambil berkomat-kamit mulutnya. Para jamaah tak ada yang berani bertanya, menegur, atau sekadar menepuk bahunya mengingatkan dia untuk salat. Mungkin semua sama-sama menyimpan pertanyaan yang sama dalam benaknya baik saat berdiri, rukuk, maupun sujud. Entahlah.
Selepas salat isya dan bersalam-salaman, lelaki berjas hitam itu masih juga duduk. Beberapa orang jamaah yang jumlahnya lebih sedikit dari salat maghrib, sempat berbisik-bisik.
Siapa sih dia?
Kok tidak ikut salat?
Jangan-jangan dia tertidur?
Sssst…Jangan-jangan dia penyebar aliran sesat?
Pertanyaan-pertanyaan itu cuma terbang sesaat. Tanpa jawaban.
Tak lama Imam Masjid mencoba mendekati lelaki berjas hitam itu. Beliau mengambil posisi di sampingnya.
Assalamualaikum, sapa Imam Masjid.
Tidak ada jawaban.
Lelaki berjas hitam itu seperti tidak mendengar apa-apa. Mulutnya tapi tidak berhenti berkomat-kamit sambil memainkan tasbih satu per satu dengan mata terpejam.
Assalamualaikum, sapa Imam Masjid kedua kalinya.
Tetap tidak ada jawaban.
Bibir lelaki berjas hitam itu masih setia berkomat-kamit.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, sapa Imam Masjid ketiga kali dengan suara agak sedikit dikeraskan.
Kali ini lelaki berjas hitam itu membuka matanya. Sambil mengembangkan senyum dia menjawab, Waalaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh.
Imam Masjid terlihat sedikit lega, karena akhirnya mendapat tanggapan. Dia julurkan tangannya untuk bersalaman. Tapi sayang, laki-laki berjas hitam itu tidak menyambut uluran tangannya.
Ada apa Ustadz? suara lelaki itu terasa berat.
Kalau boleh tahu, Ustadz ini dari mana? tanya Imam Masjid.
Lelaki berjas hitam itu hanya tersenyum.
Apa itu penting Ustadz? lelaki berjas hitam tersebut balik bertanya.
Ya penting, biar kita saling kenal, jawab Imam Masjid.
Kalau cuma alasan pengen kenal, tidak perlu tahu saya dari mana. Yang jelas kita sama-sama dari bumi Allah, ucap lelaki berjas hitam.
Para jamaah Isya yang penasaran akhirnya ikut mendekat dan mengelilingi lelaki berjas hitam itu.
Kalau boleh tahu, nama Ustadz siapa? tanya Imam Masjid lagi melanjutkan perbincangan.
Apa itu penting Ustadz? lelaki berjas hitam tersebut balik bertanya lagi.
Ya penting juga, biar kita saling kenal, jawab Imam Masjid.
Kalau cuma alasan pengen kenal, tidak perlu tahu nama saya. Yang jelas kita sama-sama mahkluk Allah, keturunan Adam dan Hawa, jawab lelaki berjas hitam.
Kami yang mendampingi Imam Masjid mulai terpancing geram melihat sikap si lelaki berjas hitam yang sepertinya tetap setia dengan kemisteriusannya. Tapi sikap Imam Masjid yang tenang dan menenangkan, meredakan kegeraman kami.
Kenapa Ustadz tadi tidak ikut salat Isya berjamaah? kali ini Anwar temanku menyela untuk bertanya.