Oleh M Kausar Al Barazy

Wussshh … …

Hembusan angin sore menerpa wajahku saat memasuki kawasan kota sepi ini. Perjalanan panjang nan melelahkan akhirnya berakhir sesaat sebelum azan magrib berkumandang. Kulirik kembali suasana di sekelilingku yang masih baru. Sebuah kota di tengah-tengah hutan ini ternyata menyembunyikan keindahan. Kiri kanan badan jalan ini ada pohon-pohon berbaris rapi mengelilingi tatanan kota. Sesaat, burung-burung pun terlihat saling berkicau, hinggap di sela-sela dedaunan, menyambut malam yang segera tiba.

Aku berjalan terus menuju sebuah bangunan di depan sana, tempat perjanjian peradaban mulia bagi kemajuan negeri ini akan kembali diperdengarkan, sambil lalu menikmati nyanyian alam. Terkenang kembali sesaat perkataan tetua di kampung ketika melepas kepergian diriku.

“Agam, manakala kakimu mulai melangkah pergi, manakah ia dekat maupun jauh dari negerimu, ingatlah bahwa setiap negeri memiliki adat untuk dijaga demi kemasyhuran negeri tersebut, seperti halnya negeri kita ini. Untuk itu, jagalah ia ke mana pun kamu melangkah, karena mate aneuk meupat jrat gadoh adat pat tamita,” katanya.

Terus kutelusuri lekukan setiap jengkal bangunan yang tampak mulai ramai. Hiruk pikuk kegiatan orang-orang mulai terlihat, tenda-tenda besar di halaman muka bangunan pun telah dilayarkan, hiasan-hiasan bercurak Aceh pun telah disematkan di setiap sudut bangunan dan halaman, menambah kemeriahan penyambutan hari mulia ini.

Telah banyak sekali cibiran-cibiran dari bangsa juga daerah–daerah lainnya kepada bangsaku. Seakan kami akan segera terhinakan sebentar lagi karena pelapukan adat atas jati diri kami, itu berarti kami akan menanggalkan adat yang sejak dulu telah dipelihara para pendahulu.

Tak kupungkiri saat aku mendengar suara sumbang itu. Memang saat-saat zaman modernisasi sedemikian ini merupakan saat-saat yang krusial bagi kami bangsa beradat ini, apalagi yang adat tersebut bersisian dengan Islam, pastilah banyak orang yang tak menyukainya.

Kudapati sekarang, para penerus  kami sudah mulai melupakan siapa mereka dan di mana mereka dilahirkan. Keberadaanya semakin mempermalukan bangsa mulia ini, akhlak tak lagi ada, ajaran agama Islam tak lagi diindahkan. Apalagi adat yang telah bersisian dengan ajaran itu, pastilah sejalan, akan ia lupakan pula.

Dan saat memikirkannya, hatiku merasa perih, pilu membayangkan betapa telah menjauhnya kami dari tatanan sosial ajaran indatu terdahulu dalam berkehidupan berada lagi beradat.

Sayup-sayup suara azan berkumandang. Panggilan sang Rabbi telah bergema berhembus menyaruk ke setiap relung hati hambanya untuk sesaat bergerak ke pelataran suci guna mengucap syukur atas segala nikmat yang telah Ia berikan.

“Teuku …!” Seseorang memanggilku dari balik tenda berwarna hijau tua di dalam sana. Kuperhatikan orang itu, ternyata ia salah satu sahabat lamaku, Puteh. Dengan pakaian biru dan berkalungkan papan namanya di leher tahulah aku bahwa ia saat ini telah menjadi salah seorang yang penting bagi bangsa yang beradat ini.

“Apa kabar,” katanya.

“Gimana perjalanan hari ini, melelahkankah?” Ia memotong lamunanku.

“Alhamdulillah baik, kamu bagaimana?” Tanyaku balik.

“Kurang baik. Setahun terakhir ini seni yang aku kerjakan kurang peminatnya dibandingkan seni zaman sekarang. Orang-orang lebih suka menikmati acara-acara yang kebarat-baratan dari pada kesenian bangsanya.”

Kulihat raut mukanya. Seketika ada rona kegelisahan karena sesuatu yang hilang itu.

“Sudahlah, beu teunang,” kataku.

“Tak usah kamu terlalu risau, ‘kan saat ini kita berkumpul di sini semua untuk itu, untuk kembali membulatkan tekat mengumpulkan semangat para indatu guna memerdekakan kembali adat kesenian kita dari pada shadow art

Setelah percakapan itu, kucoba merangkulnya, rangkulan kerinduanku karena betapa bahagianya aku kembali berjumpa dengannya. lalu panggilan iqamat pun terdengar, berarti shalat magrib akan segera dilaksanakan.

Di antara kesunyian malam, aku terjaga. Sambil menyingkapi tirai penutup tenda yang didirikan tadi sore, aku ke luar sana. Kurasakan udara semakin dingin, ditambah lagi saat ini kami berada di dataran tinggi. Bulan di atas bersinar dengan terangnya, bintang-bintang pun tak kalah banyaknya menghiasi langit malam menambah kebahagiaan pada sang malam.

Lalu, di antara buaian malam kudengar sayup-sayup suara pukulan rapa’i yang bercampur tiupan suara seurune kale.

“Aku rindu suara ini,” hatiku berkata. “Siapa gerangan yang menabuh mereka di kehingan malam ini.”

Terus kuperdengarkan suara itu seraya berjalan mencari asalnya. Semakin aku melangkah semakin bertambah jelas suara tersebut. Dan di depan sana, di antara sinar bulan, terlihatlah lima orang anak laki-laki kecil. Kutaksirkan, mereka berumur sekira sepuluh tahunan.

Sesaat, aku terkesima dibuatnya. Tangan-tangan itu seakan menari-nari memukul rapa’i tanpa kesulitan sedikitpun. Terlatih, pukulan demi pukulan pun bertabuh bersama, berirama tanpa ada kesalahan. Tiupan seurune kale yang menyayat hati diperdengarkan, seakan semuanya ingin menceritakan, betapa ibu pertiwi kini tengah memanggil anak-anaknya yang sangat mereka rindukan.

Aku termenung. Pikiranku menerawang jauh akan masa lalu. Kisah-kisah dari negeriku yang beradab ini. Sejak dahulu kala sudah sering kudengarkan dan kubaca, betapa negeriku sangat dimuliakan, bukan saja oleh masyarakat di sekitarnya, tetapi pula oleh orang negeri luar sana.

Pohon kehidupan yang telah lama mengakar terus tumbuh seiring waktu berjalan. Adat dan ajaran hukum Islam pun tak dapat dipisahkan shingga aliran darah di setiap jiwa-jiwa orang-orangnya terlumuri dengan kemuliaan tanpa bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Bagaikan zat dan sifat Tuhan Allah ‘azza wa jalla terus berdampingan.

“Teuku ….” Kembali seseorang memanggil, membuyarkan lamunanku.

“Ke sini! Untuk apa engkau di situ dalam gelap-gelapan, marilah bergabung bersama kami di sini,” kata suara dalam tenda di ujung bangunan sana, ternyata ia Puteh.

Lantas aku pun mengiyakannya sambil lalu mengayun langkah ke dalam tenda sana. Di dalam, ternyata kudapati betapa ramainya orang-orang berkumpul dengan berbagai macam usia, juga berbagai macam pegangan alat-alat beradat. Ada yang memegang rapa’i, serune kale, bahkan ada sekumpulan kawanan yang buku serta pulpen pun tergengam erat di tangan-tangan mereka, tengah menulis entah apa. Seketika aku bertanya-tanya. “Ada apa ini?”

“Mari duduk, Teuku. Perkenalkan, mereka ini para pemangku adat-adat negeri beradab yang mahsyur,” sebut sahabatku, seakan tahu kebingunganku seraya memperkenalkan mereka.

“Salam,” kataku. “Aku Teuku Polem. Kawan-kawan memanggilku Teuku,” kataku mengenalkan diri seraya menjabat tangan mereka, satu persatu.

Aku pun duduk di sisi Puteh, mengamati apa yang tengah berlaku di sini. Ternyata, mereka tengah membicarakan sebuah gerakan Putih untuk negeri ini, gerakan yang bermula dari adatnya yang kembali harus mengaung indah di negeri sehingga ia dapat kembali memberi keagungan marwah peradaban seperti dahulu kala.

“Baik, para hadirin sekalian, tuha-tuha, muda-muda serta kawan-kawan semua. Di malam ini kita kembali membicarakan sebuah gebrakan beradat untuk tanah tercinta ini. Gerakan yang sempat kita laksanakan dua puluh tiga tahun yang lalu, namun terhenti karena ada sebagian orang tak ingin negeri di paling ujung Sumatra ini kembali beradat,” kata laki-laki berperawakan kurus tinggi berambut panjang di depanku, membuka pembicaraan.

“Kalian telah mendengar kabar pertemuan ini sejak dari sebulan lalu pastinya, kami mewakili dari generasi masa silam telah mulai menyebarkan undangan ke seluruh penjuru negeri guna mengajak serta mengumpulkan orang-orang yang hingga saat ini masih ingin membangun negeri, baik itu anak-anak muda maupun yang tuha-tuha,” lanjutnya.

“Saat ini, keinginan membangun negeri bukan lagi lewat peperangan seperti lima belas tahun silam, namun sudah saatnya kini kita menyarungkan semua senjata itu dan beralih mengeluarkan pena juga alat-alat kehidupan yang telah alam berikan kepada kita sejak dahulu kala demi mencapai kebahagiaan yang semestinya tak harus bergelimangan darah,” katanya lagi seraya melanjutkan.

“Dengan semua bakat alam yang kalian miliki sejak lahir, kami berharap kalian dapat bergabung dalam gerakan ini dan kembali membangun peradaban di negeri ini melalui keseniaan maupun adat istiadatnya yang telah ada sejak dulu dan saat ini kalian miliki. Jangan malah kita menghilangkannya karena ia itu sungguh jati diri bangsa kita.”

Orang-orang dalam tenda diam sejenak, hening.

“Baik, setelah ini kita akan membentuk firqah-firqah kecil yang darinya kita akan mencoba mencari solusi juga menarik benang merah tentang bagaimana gerakan ini bermula mulai besoknya, walau kalian tahu mungkin di luar kita menamakan acara ini sebagai Kemah Seni 4 penyambung gerakan dua puluh tiga tahun lalu, namun di sini kita memiliki gerakan putih lainnya untuk membangun negeri ini,” kata laki-laki berperawakan agak gempal lagi putih di sampingnya.

“Di sini kita memulai menyatukan tekad dan membulatkan apa yang belum terbulatkan dari tatanan adat negeri beradat ini.”

Mereka menutup pembicaraan.

Sejak malam itu kudapati lagi arti dari keyakinan dan jati diri bangsaku ini yang dulu kupikir telah hilang. Ternyata masih ada segelintir masyarakatnya yang masih sangat ingin berbuat untuk negerinya. Panggilan sang ibu masih terdengar di hati setiap insan itu. Mereka berbuat walau itu terlihat kecil di mata orang-orang, namun sesungguhnya itu sangatlah berisi untuk masa akan datang. Gerakan itu bukan kamuflase belaka untuk menyombongkan diri  dan mencerai-beraikan bangsa, tetapi itu menyangkut harga diri yang telah bersemai sejak dahulu kala, bernafaskan Islam.

Aku keluar dari tenda hijau tua.

Di malam yang mulai hening itu, sebuah suara menggema, tetapi lirih seperti membisik.

“Kupesan padamu, sebagai anak negeri di ujung barat pulau sumatera, perkuatkanlah tekadmu, selalu tananamkan di hatimu yang merupakan keturunan beradat dari bangsa beradat Aceh ini, yang adatnya selalu bersanding lurus dengan hembusan nafas ajaran keislaman. Genggamlah ia selalu ke mana pun engkau melangkah pergi mencari kehidupan.”

Aku mencari-cari asal suara itu. Malam semakin hening. Lalu suara itu terdengar lagi.

“Sesungguhnya, sebagaimana kata bijak, bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai sejarah dan adatnya. Bukan saja mencintai, tetapi lestarikanlah ia, jika telah menjauh, dekatkan kembali.”

*M Kausar Al Barazy, Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri