BANDA ACEH – Bocah kurus berkulit hitam itu awalnya hendak bermain sepak bola bersama teman-temannya di lapangan Gampong Tibang, Banda Aceh, Minggu, 26 Desember 2004. Hari itu, dia memakai kostum nasional Portugal bajakan yang dibelinya di Kota Banda Aceh. Namanya Martunis.
“Tiba-tiba datang gelombang tsunami. Saya yang saat itu baru duduk di kelas III Sekolah Dasar bersama ibunya, Salwa; kakak laki-laki, Nurul A'la (12 tahun); dan adik saya, Annisa (2 tahun), berupaya menyelamatkan diri dengan menumpang pick up tetangga kami. Pada saat itu, bapak sedang bekerja di tambak,” ungkap Martunis, seperti dilansir dalam situs aceh.archiving.jp.
Situs ini merupakan rancangan Profesor Hidenori Watanave dari Jepang. Dia membikin produk serupa untuk korban bencana tsunami di Jepang.
Martunis kemudian melanjutkan, “saat digulung ombak tsunami, pick up pun tenggelam. Saya, ibu, dan dua saudara saya tenggelam bersama mobil yang kami ditumpangi.”
Martunis mengaku tidak tahu bagaimana tubuhnya yang kecil dibawa gelombang tsunami dan muncul ke permukaan air. Menurutnya sebelum terpisah dengan kakak, adik serta ibunda, dia sempat menarik lengan adiknya yang minta tolong, namun tangan mungilnya kalah oleh arus tsunami.
“Ibu, kakak dan adik pun hilang terseret arus tsunami, sehingga berpisah selamanya. Saya selamat setelah meraih sepotong kayu, lalu terapung-apung,” ujarnya.
Martunis kemudian berpindah ke kasur yang melintas di dekatnya, tapi nahas, kasur itupun tenggelam. Dia lantas memanjat sebatang pohon untuk bertahan hidup. “Saya selamat setelah terseret arus tsunami yang kembali lagi ke laut dan terdampar di kawasan rawa-rawa dekat makam Teungku Syiah Kuala,” ungkap Martunis kepada aceh.archiving.jp.