Karya: Syukri Isa Bluka Teubai
Lam Na Berlauni (Belum Ada Warna), Usman membatin sendiri. Ianya sedang rehat di atas bale di hadapan rumahnya pada malam Jumat kliwoen tersebut.
Semilir angin berhembusan pelan, adakalanya mereka berjalan bersama menapaki malam. Belum tahu pasti ke mana arah tujuan. Jelas di sana ada penantian, berjuta harapan, beribu impian. Akankah ke sana langkah itu dituju? Dan Qutub Rabbani nyatalah keadaan, Usman yang akan menghadiri musyawarah di hari lusa dua hari di hadapan menyambung lagi tuturnya.
Di pagi yang cerah, kicauan-kicauan burung masih terdengar begitu merdu. Adalah hari Minggu berbulan April. Perhelatan raya sebentar lagi akan dilaksanakan, demi untuk mencapai sebuah kesatuan yang haq. Setelah lama bergelut dalam ketidak jelasan ego, nafsu dan keangkuhan.
Puji syukur kehadirat Allah SWT. Selawat dan salam untuk Nabi Muhammad SAW selalu tersampaikan. Hadirin sekalian. Terima kasih, kalian semua sudah mahu berhadir di tempat ini. Adalah persoalan masalah yang mahu kita leraikan sekarang yaitu: Perbedaan pendapat, sudut pandang, egosentrik, seolah-olah, kepunyaan dan hak milik di antara kita. Kita, termasuk saya, Teungku Raja memulai muqaddimah sekaligus langsung menyampaikan pokok permasalahan.
Kerumunan manusia berhimpun pada hari itu. Hari yang akan menjadi sejarah dalam catatan masing-masing, mereka laksana lebah mengerumuni sarangnya yang bermadu. Dan berbagai macam peraduan di sana terpadu. Sungguh langka akan hal yang beginian, di mana semua kalangan berkumpul dalam kebijaksanaan. Langit mulai putih keabu-abuan berkawan mendung.
Ho ka neuh e saudara-saudara long (Ke manakah engkau wahai sekalian handai taulanku)? Uroe nyoe long peugah bak ureueng droe neuh ban-bandum (Hari ini saya sampaikan kepada kalian semua)! Tengku Raja berorasi di depan kerumunan manusia itu.
Adalah perbedaan dalam berpendapat itu yaitu Rahmat, sangat-sangat wajar dan baik sekali. Kita semua tahu tentang itu. Dan ia bertutur lagi.
Berbeda dalam berpendapat wajar-wajar sahaja, jikalau tidak. Allah SWT tidak menciptakan lelaki/perempuan, siang/malam, pagi/petang, bumi/langit, bulan/matahari, gunung/lautan, jin dan malaikat, jikalau itu tidak bisa disatukan, niscaya itu tidak diciptakan. Adapun itu disatukan dalam sebuah bentuk, adalah bentuk itu dinamakan dengan dunia. Tempat bersatu dalam kesatuan tunggal. Akhirnya itu bersatu jua. Mereka bersatu di situ, di dalam dunia, Pria bermuka serius itu belum berhenti dalam cakap-cakapnya.
Sudut pandang, ianya sudut penglihatan. Sama-sama kita melihat, maka berbahagialah mereka yang buta, yang tiada memiliki berbagai macam sudut penglihatan dalam kalanya pandangan. Kata-kata itu membuat Usman mengerutkan dahinya.
Teungku Raja begitu heroiknya menjelaskan satu persatu persoalan yang mereka persoalkan pada hari libur itu. Egosentrik, nyatalah kehendak bagi yang berkehendak. Ingat Dialah Allah SWT yang maha berkehendak. Camkan itu, kalian dan aku. Lagi-lagi Usman menelan ludahnya.
Seolah-olah, bukan satu keistimewaan, kebanggaan. Jikalau dijuluki dengan julukan Raja Olah. Tolong pahami ini. Usman memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan.
Kepunyaan, adakalanya kepunyaan saya, dia dan mereka. Di sini saya sengaja tidak menyebutkan punya kamu. Maknai ini, Istilah-istilah kata tersampaikan oleh Teungku Raja, entah apa maksud dan entah kepada siapa tujuannya itu!
Hak milik, berbicara tentang kepemilikan. Mudah-mudah sahaja kita menyebut itu milik kita. Sekali lagi saya tidak menyebutkan hak milik kami. Sekali lagi dan ini akan saya ulangi beberapa kali jikalau kalian belum memahaminya. Walau secara umum arti dari arti, kesemuanya itu sama. Namun akan Hakikat perbedaan terkandung padanya, Semakin berbahaya sahaja kata-kata Teungku berjubah itu.
Sekalian tetamu berbisik-bisikan sesamanya, adalah itu persoalan yang dibicarakan. Terdengar oleh Cek Malem yang duduk berdekatan dengan Cek Azis.
Ia, sangat halus dan begitu mendalam kata-kata Teungku Raja itu, butuh penguasaan yang mendalam tentang ilmu maani, niscaya barulah kita mudah untuk mengerti akan kata-kata itu, kata Cek Malem yang berada di sebelah kiri Usman.
Adalah cek Malem salah satu orang yang begitu peduli dengan permasalahan itu. Dia juga seorang pemuka suatu daerah yang turut diundang ke sana. Tetamu yang menghadiri pertemuan itu adalah dari kalangan masyarakat biasa sampai kalangan orang-orang berpengaruh di daerahnya. Mereka semua diundang oleh panitia acara Musyawarah tersebut.
Teungku Raja terus menyampaikan selebrasi-selebrasi berbagai elegi. Begitu bersemangat. Kerana semua menginginkan tujuan Abadi, tujuan Suci, akan pencapaian terhadap Ridha Ilahi Rabbi.