Kata rapa-i berasal dari suatu tarikat yang dalam penyampaian ajarannya untuk mengumpulkan massa pendengarnya memakai alat perkursi (alat musik pukul). Tarikat tersebut bernama Rifaiyah.

Tarikat adalah jalan untuk mendekati Allah. Ada beberapa macam tarikat yang terkenal, yaitu Naksyabandiyah dan Qadariyah. Masing-masing tarikat ini mempunyai cara tersendiri dan memakai beragam media dalam penyampaian ajarannya.

Rapai dabôh pada awalnya berfungsi sebagai latihan untuk memperkuat fisik. Latihan ini dipimpin oleh seorang khalifah. Karena semakin banyak penonton yang menyenanginya, akhirnya fungsi berubah sebagai tontonan/hiburan (performing art).

Pemukul rapai dabôh biasanya antara 8 s.d. 12 orang yang duduk agak melingkar di arena/pentas/gelanggang permainan.

Permainan dabus ini dimulai dengan pukulan raja, lalu masuk 2 s.d. 4 orang pemain dabusnya. Pemain dabus dan pendebusnya saling mengisi sehingga baik pemain rapa-i maupun pemain dabusnya mengikuti bunyi rapa-i sambil menikam-nikam dengan benda tajam, memukul kepala dan badannya.

Kemampuan khalifah terlihat dari kemampuannya melindungi penebusnya dari cedera. Kalaupun ada sedikit cedera, dengan sekali sapuan pada tempat cedera si pedabus kembali bermain seperti semula.

Permainan rapai debus ini dilakukan dalam empat babakan.

Babakan ditandai dengan tempo pukulan dari pemain rapa-i, yaitu tempo lambat dengan kisah/syair/penabuh dabus yang syairnya berbunyi sebagai berikut:

Salam alaikum tanglông hakeumad

Jaroe tamumat tanda mulia

Ranup kamoe brie bapak neupajôh

H’ana kamoe bôh racôn ngon tuba

Deungoe lôn kisah Teungku Lhôk Pawôh

Kubuneuh jiôh di dalam rimba

Bak sithôn sigo leumah berpanji

Muda raseuki ummat lam gampông

Wamulé tempo sedang dengan kisah/syair antara lain:

Ôh ya Tuhanku neutulông kamoe

Nibak malam nyoe neubrie sijahtra

Bèk neubi ayép, malèe, ngon keuji

Bèk Allah brie tubôh binasa

Amanah gurèe, tempo agak cepat, syair yang dibaca:

Nyoe hé rakan

Lôn yup éh tan, lôn that pèh h’ana

Meugah habéh ma’rifat beusoe

Bèk tatodroe wahé syédara

Para pemukul rapa-i biasanya memakai baju dan celana hitam, serta tangkulôk di kepalanya. Para pendebusnya, karena banyak memperagakan tikaman dan pukulan, hanya mengenakan celana panjang setinggi betis, tanpa baju, dan memakai ikat kepala. Khalifahnya memakai pakaian yang lengkap, yaitu celana, baju, dan tengkulak.

Rapa-i dabus ini bermaterikan pemukul rapa-i sebanyak 8 s.d. 12 orang, pedabus sebanyak 2 s.d. 4 orang, 1 orang khalifah, rapa-i untuk setiap pemukul rapa-i, benda-benda tajam, seperti rincông (rencong), pedang, rantai, dan kayu-kayu pemukul atau yang akan ditahankan.

Rapa-i dabus ini berkembang di daerah Aceh Barat dan Nagan Raya. Di kota-kota besar seperti Banda Aceh dan kota besar lainnya, penampilan rapa-i dabôh menggunakan pentas yang dilengkapi dengan sound system dan lighting sehingga bertambah dramatis. Untuk menjaga eksistensi tarian ini, diperlukan kaderisasi khalifah, perangkat pemain dabus, dan penabuh rapa-i. []

Sumber: Budaya Aceh, Pemerintah Aceh, 2009