Kesenian tradisional yang satu ini hingga kini masih banyak digemari oleh lintas generasi. Oleh karena itu, ratép meuseukat hingga kini masih lestari.
Terdiri dari dua kata, yaitu ratép dan meuseukat, ratép merupakan kata yang asalnya dari bahasa Aceh dan meuseukat dari kata maskwaihi, lengkapnya Ibnu Maskawaihi. Ia seorang filosof dan juga ulama besar di Baghdad. Ratép meuseukat berarti meuraten di Timur Tengah, khususnya di Irak (Baghdad).
Tarian tradisional ini berkembang di Aceh, khususnya Aceh Barat, Aceh Selatan, Nagan Raya, dan Aceh Barat Daya.
Meuseukat dipelopori oleh Teungku Muhammad Thaib. Ia bangsawan di Kuta Batèe. Sang Teungku pada awalnya belajar di Samudera Pasai, lalu meneruskan pelajaran ke Irak (Baghdad).
Di sana ia bertemu dengan ulama Muskawaihi dan berguru kepadanya. Dari Muskawaihi inilah dipakai media seni (tari) sebagai penyampaian ajaran-ajaran Islam.
Setelah selesai menuntut ilmu pada Muskawaihi, ia kembali ke Aceh, tepatnya ke Kerajaan Kuta Batèe (sekarang bernama Blang Pidie). Segala ilmu yang dipelajari di Baghdad dibawa pulang dan dipraktikkan di perguruan tempat ia semua belajar. Ia juga diangkat menjadi pimpinan perguruan itu.
Ratép meuseukat fungsinya untuk menyebarkan ajaran Islam. Jadi, fungsi adalah sebagai media dakwah. Namun, kemudian media pendidikan agama Islam ini menjadi tontonan dan hiburan. Orang-orang mendengar isi syair yang disampaikan berupa ajaran Islam.
Ratép meuseukat pada awalnya dipergelarkan ketika maulid Nabi Muhammad saw (awal Rabiul Awal), khusus untuk penonton wanita.
Para penari ratép meuseukat ini dalam posisi duduk seperti pada tahyat awal, membentuk satu barisan menghadap penonton. Penari dipimpin oleh seorang pimpinan tari yang berada dalam barisan.
Dalam pelaksanaannya, gerakan-gerakan yang dilakukan oleh pimpinan tari diikuti oleh sesama dan serentak oleh penari lainnya.
Para penari ratép meuseukat terdiri dari kaum wanita dan pada awalnya tidak terbatas jumlahnya. Para penari terus menari. Mereka yang telah kelelahan dapat mengundurkan diri keluar dari barisan tarinya, dan digantikan oleh wanita lain yang langsung duduk dan mengikuti semua gerakan yang sedang dilakukan oleh teman-temannya.
Sesuai dengan penampilan tari dalam zaman kemajuan teknologi pentas, jumlah penari ratép meuseukat dibatasi menjadi enam belas orang yang terdiri dari 3 orang sebagai syaikh dan apét syaikh, 2 orang sebagai aneuk syahi, dan 10 orang sebagai penari.
Dari segi pakaian, para penari ratép meuseukat memakai baju lengan panjang, warnanya tergantung pada kemampuan kelompok tari, celana panjang yang modelnya biasa dipakai oleh wanita-wanita Aceh, memakai sulam benang emas/perak di kainnya, kepala atau rambut ditutup dengan jilbab.[]
Sumber: Budaya Aceh, Pemerintah Aceh, 2009