Tarian tradisional Aceh yang juga dikenal sejak dulu adalah meurukôn. Kata ini bukanlah kata dasar, melainkan kata berimbuhan, meu- sebagai imbuhan melekat pada rukôn. Kata rukôn dalam bahasa Indonesia berarti ‘rukun’ yang merupakan kata benda.

Karena dilekati oleh imbuhan meu-, jadilah kata benda itu sebagai kata kerja. Ini karena meu- secara kebahasaan berfungsi membentuk kata kerja.

Meu- berarti ‘melakukan kegiatan seperti yang tersebut pada bentuk dasar’. Berarti meurukôn adalah ‘melakukan kegiatan/kajian rukun’ Pengubahan rukun menjadi rukôn adalah penyesuaian pelafalan menurut lidah orang Aceh. Selain rukôn, banyak kosakata bahasa Aceh yang diakhiri oleh un menjadi ôn, misalnya kebun menjadi keubôn, rabun menjadi rabôn, dan katun menjadi katôn.

Rukôn berkenaan dengan pengakuan akan keberadaan agama Islam dan mendalami rukun-rukunnya, termasuk menyangkut ibadah/akidah dan masalah lainnya.

Meurukôn awalnya dilakukan untuk memperdalam ajaran Islam sehingga dapat dikatakan bersifat edukatif. Tradisi ini mampu menarik minat masyarakat untuk belajar tentang Islam.

Ini karena teknik penyajian meurukôn, yang awalnya bertatap muka, bertransformasi menjadi dua jalur komunikasi sehingga mengarah kepada berbalas pantun atau h’iem. Meski demikian, meurukôn berbeda dengan h’iem sebab materi kajiannya seputar rukôn.

Karena penyajiannya sudah mengarah kepada seni pertunjukan, jadilah meurukôn sebagai seni yang dapat ditonton oleh khalayak (art performance). Otomatis, jadilah meurukôn sebagai hiburan.

Meurukôn biasanya dilakukan dalam tim yang telah terlatih dengan baik. Tim terdiri dari lima belas orang, dipimpin oleh seorang syaikh rukôn atau syaikhuna. Syaikhuna dipilih dengan syarat (1) berpengetahuan luas, terampil, pintar, dan dapat responsif, (2) menguasai situasi dan kondisi selama perlombaan atau pertandingan, (3) bersuara keras, nyaring, dan enak didengar, (4) mempunyai bakat seorang pemimpin dan sanggup memimpin.

Tiap-tiap kampung biasanya mempunyai tim meurukôn. Para pengurus masing-masing kampung mengadakan pertemuan dan permufakatan untuk mengadakan perlombaan.

Pertandingan meurukôn dilakukan secara bergantian dengan cara bertanya.

Adapun yang terlibat dalam kegiatan meurukôn adalah (1) dua kelompok perukun, masing-masing terdiri dari lima belas orang, (2) persiapan rukôn-rukôn yang telah dihafal, (3) tempat pelaksanaannya, (4) sekarang dilengkapi dengan sound system dan lighting, (5) tempat penonton, (6) tempat dewan juri.

Berkaitan dengan pakaian, pada awalnya pakaian peserta meurukôn boleh apa saja asalkan bersih dan sopan. Begitu pula dengan syaikhuna. Hanya saja, syaikhuna memakai serban.

Akhir-akhir ini setelah dijadikan perlombaan, pakaian perukun dan syaikhuna diusahakan seragam sehingga tampak lebih menarik.[]

Sumber: Budaya Aceh, Pemerintah Aceh, 2009