FLOHMARK, begitulah tulisan di pamplet dan kertas sebaran yang tertempel di beberapa tempat umum di Jerman, khususnya di Hamburg. Begitu mendengar atau melihat kata flohmark, para warga setempat ataupun pendatang yang berdomisili di sana akan riang dan gembira, baik yang berumur tua, kawula muda, laki-laki ataupun perempuan akan menjajakinya. Bagi mereka, ini merupakan kesempatan baik untuk sesuatu yang selama ini diincar sesuai dengan minat dan kecenderungan tersendiri, tidak terkecuali bagi saya.
Arti dari flohmark adalah pasar loak atau pasar kaget yang menjual barang bekas atau baru dengan harga (sangat) murah. Barang-barang disini dijajakan oleh orang-orang yang memiliki latar belakang beragam, misalnya sang kolektor, penjual barang-barang pecah belah, ataupun pribadi seseorang yang tidak memiliki jiwa usaha tetapi ingin menjual barang-barang yang tidak diinginkannya lagi.
Mayoritas dari mereka menjual segala jenis pakaian, mainan, sepatu, tas, barang rumah tangga, alat dapur, alat sekolah, perkantoran, buku-buku, vcd, prangko lama dan lainnya. Harganya tentu jauh di bawah harga pasar ataupun supermarket, sebab itu barang bekas (second) -walaupun sebagiannya terdapat yang barang baru-, dan kedua sang pemilik tidak ingin lagi memilikinya.
Di salah satu tempat di Elshorm, di luar kota Hamburg, flohmark kali ini diadakan pada musim panas, tepat sehari sebelum puasa Ramadhan 1437 H (2016). Klai ini, saya tidak mencari barang keperluan rumah atau lainnya, namun punya misi tersendiri dan lebih khusus, mencari manuskrip di pasar loak (flohmark) Jerman. Bagi saya tentu akan menarik jika menemukan sesuatu yang tidak pernah diduga sebelumnya, terlebih -kadang- dapat menemukan manuskrip-manuskrip Aceh ataupun Jawi (Melayu-Nusantara) di Jerman. Tentu, itu punya nilai tersendiri.
Hal tersebut tidak menutup kemungkinan adanya sebab jaringan-jaringan orang Aceh dan Melayu terdahulu telah terhubung dengan Eropa, dan Jerman adalah salah satu negara adikuasa di Eropa. Terlepas apakah ia punya hubungan langsung dengan Asia Tenggara khususnya Melayu Nusantara ataupun tidak, namun yang pasti Aceh lebih awal mencapai puncak keselarasan sebelum hancur akibat agresi Belanda 1873-1942.
Pada saat yang sama Jerman baru terbentuk yang dikenal era Jerman modern sekitar tahun 1871, atau lebih awal saat terbentuk konfederasi Jerman pada tahun 1815 yang diprakarsai oleh Kerajaan Prusia, dan ia mengalami kehancuran pada Perang Dunia II (PD II) tahun 1939-1945. Namun, negara bekas kekaisaran ini cepat “move on” dan mengorbit produk-produk terbaik dan bergengsi seperti Mercedes-Benz, BMW, Airbus, Siemen, Volkswagen, Allianz, Nivea dan lainnya, yang membuatnya negara dengan ekonomi terbesar dan terkuat di Eropa.