TERKINI
TAK BERKATEGORI

Pilkada Aceh 2017, Akankah Terjadi Pertarungan Prabowo Vs Jokowi Jilid II?

LHOKSEUMAWE – Terpilihnya TA Khalid sebagai bakal calon wakil gubernur/pendamping bakal calon gubernur Muzakir Manaf atau Mualem, diprediksi oleh pengamat akan membuat peta politik pilkada…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 2K×

LHOKSEUMAWE – Terpilihnya TA Khalid sebagai bakal calon wakil gubernur/pendamping bakal calon gubernur Muzakir Manaf atau Mualem, diprediksi oleh pengamat akan membuat peta politik pilkada Aceh 2017 semakin menarik.

Pasalnya, Mualem dinilai menjadi aktor utama di Aceh yang mendukung pendiri Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai calon Presiden RI saat Pilpres lalu. Dan, TA Khalid yang adalah Ketua Partai Gerindra Aceh dinilai sebagai “anak emasnya” Prabowo. Jika kemudian Jokowi—lawan Prabowo pada Pilpres lalu dan kini menjadi Presiden RI—“mendukung” salah satu kandidat gubernur selain Mualem, pengamat menyebut tidak menutup kemungkinan akan terjadi pertarungan Prabowo Vs Jokowi jilid II di pilkada Aceh 2017.    

Kepala Pusat Studi Sosial, Politik dan Ekonomi Unimal Anismar, M.Si., mengatakan, keputusan Ketua Umum Partai Aceh (PA) Mualem memilih TA Khalid menunjukkan sebuah situasi yang selama ini sudah diprediksi banyak pihak. “Walaupun Mualem sering ngomong bahwa dia sedang mencari calon pendamping, sosok yang tepat, tapi memang publik menilai (pilihan) ini akan terjadi. Beberapa bulan yang lalu sudah diprediksi ini akan terjadi, duet ini (Mualem-TA Khalid), dan kini (prediksi itu) terbukti,” kata Anismar menjawab portalsatu.com di Lhokseumawe, 3 Juni 2016, sore.

Menurut Anismar, publik selama ini tidak hanya melihat kedekatan TA Khalid dengan Mualem, akan tetapi juga keakraban Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat itu dengan pendiri Partai Gerindra, Prabowo. “Saya melihat karena kedekatan Mualem dengan sosok Prabowo, sehingga dia sangat hati-hati melihat arah perpolitikan ke depan. Sebagaimana kita ketahui, Mualem juga tokoh utama di Aceh ini yang mendukung Prabowo dalam Pilpres kemarin. Pengalaman ini juga akan berlangsung ke depan saya lihat,” ujar magister komunikasi lulusan Unpad Bandung ini.

Di samping itu, Anismar melanjutkan, dari sisi politik PA sebagai partai lokal (parlok) di Aceh mencoba merapat dengan partai politik nasional atau parnas lantaran Mualem menyadari bahwa Aceh harus dibangun secara bersama-sama antara kekuatan parlok dan parnas. Sebab, kata dia, untuk membangun Aceh lebih maju ke depan butuh dukungan Jakarta, sehingga Mualem memilih kader parnas sebagai bakal calon wakil gubernur.

Pengamat sosial dan politik Dr. Nirzalin, M.Si., mengatakan, ia tidak kaget ketika Mualem memilih TA Khalid. “Karena kedekatan (Mualem) dengan Prabowo selama ini, itu satu sinyal yang sangat terang benderang bagaimana Prabowo begitu mewarnai Mualem, terutama dalam satu periode terakhir,” kata Nirzalin menjawab portalsatu.com di Lhokseumawe, 4 Juni 2016, siang.

Menurut Nirzalin, Mualem merasa sangat butuh orang kuat di Jakarta untuk bisa membangun Aceh. “Dalam analisisnya, orang kuat itu sekarang yang dekat dengan dia, (yaitu) Prabowo. Karena itu, dia tidak punya pilihan, maka dia ke parnas,” ujar akademisi Fisip Unimal ini.

“Tapi ini menarik, jika seandainya Jokowi juga ‘main’ nanti. Sekarang kita tinggal menunggu, Jokowi ke siapa dukungan politiknya? Dan kemudian jika orang yang diberi dukungan oleh Jokowi bisa mengambil dukungan itu sebagai citra politiknya, ini akan terjadi kontestasi yang lumayan ‘dimakan’ di publik. Karena semua orang di Aceh ini paham bahwa ketika kita membangun Aceh, tidak mungkin tidak ada uluran tangan (Pemerintah) Pusat,” kata Nirzalin lagi.

Itu sebabnya, Nirzalin menilai pilkada Aceh 2017 bisa saja terjadi pertaruhan Prabowo Vs Jokowi jilid II. “Saya membaca dalam beberapa bulan terakhir kepemimpinan Jokowi, dia tampaknya cendrung akan mencari figur lain yang dia merasa bisa komunikasi, punya basis tindakan politik yang relatif sama dengan dia, dan itu tampaknya ngak pada Mualem. Jokowi suka pada orang yang bisa berkomunikasi secara terbuka, lalu bekerja, sebagaimana dengan Nawacitanya dia,” ujarnya.

Ia memperkirakan Jokowi tengah melihat siapa sosok yang akan “didukung” di antara figur-figur yang sudah muncul sebagai kandidat gubernur Aceh. Diperkirakan Jokowi akan menentukan sikap pada detik-detik akhir menjelang pilkada Aceh 2017. “Detik-detik akhir tentunya dalam dua bulan ke depan ini akan sangat terang,” kata Doktor Sosiologi lulusan UGM Yogyakarta ini.

“Tapi saya yakin ngak akan ke Mualem. Kalau ini terjadi, akan terjadi pertarungan Prabowo (Vs) Jokowi jilid II,” ujar Nirzalin lagi.

Pengamat politik Aryos Nivada menilai dalam memilih TA Khalid sebagai pendampingnya, Mualem tidak memiliki kebebasan bersikap secara personal. “Walaupun hasil musyawarah (PA) diberi mandat kepada Mualem untuk memilih wakilnya sendiri, akan tetapi dalam pemilihan wakilnya itu tidak dilandaskan kebebasan sikap. Hal ini terjadi karena adanya kesepakatan antara Mualem dan Prabowo yang belum tuntas,” kata Aryos menjawab portalsatu.com di Banda Aceh, 9 Juni 2016, malam.

“Kita mengetahui bahwa hubungan baik antara Mualem dan Prabowo terjalin sangat intensif. Jadi, bisa dibilang TA Khalid ini seperti ‘anak emasnya’ Prabowo. Maka dengan komunikasi otomatis sudah pasti Mualem akan menggandengnya untuk maju di pilkada 2017,” ujar Aryos.

Menurut Aryos, ada dua faktor mengapa Mualem memilih TA Khalid, yaitu karena adanya kesepakatan dan relasi.

Disinggung soal kemungkinan akan terjadi pertarungan Prabowo Vs Jokowi jilid II pada pilkada Aceh 2017, Aryos mengatakan, kalau dilihat saat ini, pasangan Mualem-TA Khalid cerminan dari Koalisi Merah Putih (KMP). “Dan itu sangat jelas dengan komposisi partai yang mengusungnya, seperti PKS dan Gerindra,” ujar Aryos.[] (idg)

Laporan Ramadhan

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar