LHOKSEUMAWE – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Peduli HAM, menggelar aksi damai peringati Hari HAM Sedunia di Bundaran Tugu Rencong, Simpang Kutablang, Kota Lhokseumawe, Rabu, 10 Desember 2015.  Dalam aksi tersebut mahasiswa mendesak pemerintah segera menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM berat masa lalu, khususnya di Aceh.

Mahyen Nufus, koordinator aksi kepada portalsatu.com mengatakan, setelah penandatanganan MoU Helsinki serta disahkan UU No. 11/2006 tentang Pemerintahan Aceh, konflik bersenjata telah sirna di bumi Serambi Mekah ini.

Menurut Mahyen, sayangnya sejauh ini tidak banyak memberikan dampak positif  bagi nasib korban konflik di Aceh. “Seharusnya yang sangat esensial dari damai tentu saja memberikan kesejahteraan dan keadilan bagi korban konflik maupun keluarga korban,” katanya.

“Tidak dipungkiri berbagai kasus telah terjadi dan merenggut banyak nyawa pada masa konflik di Aceh. Berdasarkan data Koalisi NGO HAM yang melakukan investigasi terhadap kasus pelanggaran HAM di Aceh, jumlah kasus mencapai 1.388,” ujar Mahyen. 

Selain itu, kata Mahyen, KontraS juga merilis ada 6.837 korban masa DOM. Adapun data temuan LBH Banda Aceh, kata dia, terjadi banyak kasus pembunuhan di luar proses hukum, seperti orang hilang, penyiksaan, dan penangkapan sewenang-wenang sejak 1999-2000 mencapai 7.587 orang.

“Tapi sangat disayangkan, data korban dan data temuan berbagai kasus itu hanya menjadi angka semata dan negara seakan masih bungkam dan lupa untuk  menyelesaikan kasus tersebut,”  tambah Mahyen.

Mahyen menyebutkan, dengan momentum Hari HAM Sedunia ini, pihaknya mendesak Pemerintah Indonesia segera menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM berat di Aceh dan fokus memberikan kesejahteraan bagi rakyat.

“Kita mengimbau dan mengajak kepada seluruh elemen masyarakat sipil untuk terus menyuarakan kepada negara agar segera menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM berat masa lalu, dan mengingatkan kita semua bahwa negara harus melindungi, memenuhi, dan menghormati hak asasi warga negaranya guna mencapai kesejahteraan di seluruh lapisan masyarakat Aceh khususnya,” pungkas Mahyen.[] (*sar)