Lalu salah satu burung menjawab pertanyaan sang anak, Kami bisa membantu kamu. Mendengar kata-kata burung, sang anak keheranan penuh tanya. Dalam hatinya ia berkata, Mana mungkin burung-burung ini mampu membantuku, mereka hanya seekor burung. Sang anak kembali bertanya untuk meyakinkan hatinya, Apa betul dengan kata-kata kalian? Burung-burung itu menjawab serempak, Benar wahai anak kecil, kami bisa membantumu bertemu dengan ibu dan bapakmu. Tiba-tiba raut muka sang anak seakan cerah dengan tiba-tiba, bagaikan mendung disapu badai. Dalam hatinya ia sudah merasa sedikit yakin dengan kemampuan burung-burung itu.
Sekarang kamu ikuti perintah kami. Kamu masak ketan hitam, lalu kamu lumuri ke seluruh tubuh. Kami semua bersedia membagi bulu-bulu kami kepadamu agar kamu bisa terbang dan pergi ke ladang orang tuamu. Namun ada syaratnya, kamu tidak bisa lagi menjadi manusia, kamu dan keturunanmu akan menjadi seekor burung selamanya. Apakah kamu sanggup menjalani kehidupan sebagai seekor burung? Tanya burung kepada sang anak, lalu sang anak hanya mengangguk dengan air muka gembira. Dia rela menjadi seekor burung karena hanya ingin pergi ke ladang orang tuanya. Asa yang telah terkubur selama ini seakan hidup kembali.
Lalu, bergegaslah sang anak untuk memasak beras ketan hitam, sementara burung-burung menunggu hingga ketan itu masak sambil mencabut sebagian dari bulu-bulu mereka untuk diberi kepada sang anak. Tidak lama kemudian, Wahai burung, ketannya sudah masak dan apa yang harus aku lalukan? Burung menjawab, Kamu lumuri semua ketan itu ke sekujur tubuhmu, ketan itu berfungsi sebagai tempat untuk menancapkan bulu-bulu kami ini pada tubuh mu. Sang anak menuruti dengan patuh pada perintah sang burung. Dilumurilah semua ketan itu ke sekujur tubuh hingga tertutup seluruh bagian tubuhnya, lalu satu demi satu burung-burung itu menyumbangkan bulunya untuk sang anak. Setiap satu biji ketan dipasang satu lembar bulu hingga menutupi seluruh tubuhnya. Sang anak kini telah memiliki bulu dengan warna kombinasi cokelat, hitam, dan putih sehingga tampak perpaduan warna ketan hitam dengan warna bulu burung seperti warna bulu burung perkutut saat ini
Setelah bulu-bulu dipasang semuanya, sang anak kini berubah bagai seekor burung (burung perkutut), burung yang memiliki bulu yang indah dan suara yang merdu. Sang anak merasa penuh heran dengan perubahan fisiknya, sekarang ia memiliki sayap yang kuat untuk terbang tinggi dan jauh. Lalu, tiba-tiba burung berkata, Wahai anak kecil, kamu sekarang telah menjadi seekor burung, namamu adalah burung perkutut. Kemampuanmu terbang sangat kuat, kamu memiliki bulu-bulu yang kuat. Sekarang kami juga bersedia mengantarkan ke ladang orang tuamu. Baiklah burung jawab sang anak, aku sangat berterima kasih pada kalian yang telah membantuku.
Matahari sudah tergelincir ke arah barat. Seperti biasa, ibu dan bapaknya masih di ladang karena sedang menghabiskan sisa waktu untuk bekerja memanen padi. Di rumah, anaknya yang sudah menjelma seperti seekor burung sedang bersiap-siap untuk terbang dan pergi ke ladang. Adiknya yang masih kecil sedang terlelap tidur dalam ayunan, sedangkan padi yang dijemur ia biarkan di halaman rumahnya. Ayo kita terbang, ikuti kami ya, ajak sang burung seraya memberi komando. Lalu, terbanglah sang anak dengan kawanan burung menuju ladang orang tuanya. Betapa senang perasaan sang anak sebab yang selama ini ia impikan ternyata terwujud juga.
Sesampai di ladang, kawanan burung dan sang anak memilih hinggap di pepohonan rindang di tepi ladang. Di kejauhan tampak orang tuanya sedang bekerja menuai padi. Wahai sang anak, tugas kami sudah selesai membawa kamu ke ladang, sekarang kami pamit untuk menemui anak-anak kami di sarang. Ingatlah akan janjimu, kamu tidak bisa lagi kembali menjadi manusia. Hidupmu selamanya akan menjadi seekor burung, bahkan sampai anak cucumu nanti. Janganlah sekali-kali kamu menyesali akan takdirmu hari ini. Sang anak mengangguk dengan perasaan terharu ditinggal kawanan burung. Setelah kepergian kawanan burung itu, sang anak yang telah menjadi burung itu terbang mendekat ke arah orang tuanya yang sedang bekerja. Ia terbang menelusuri pepohonan yang rimbun dan penuh duri-duri rotan.
Dia lalu memanggil orang tuanya dengan irama nyanyian burung yang merdu. Geuwoe e poma geuwoe padé lam uroe adoe lam ayôn. Sang ibu yang lebih dahulu mendengar suara anaknya itu mencoba memberi tahu pada suaminya. Bapak, apakah Bapak mendengar sesuatu? Seperti suara anak kita, dia memanggil kita. Sang bapak menjawab santai, Mana ada anak kita di sini ibu, dia kan di rumah sama adiknya, mungkin itu suara burung rimba. Dalam hutan seperti ini banyak suara burung rimba yang beraneka ragam. Ayo terus kerja ibu, sebentar lagi hari akan sore.
Sang ibu kembali bekerja seperti biasa. Namun, suara sang anak memanggil kembali terdengar, Geuwoe e poma geuwoe padé lam uroe adoe lam ayôn. Sang ibu kembali terkonsentrasi mendengar suara itu, Betul Bapak, itu suara si kakak, anak kita, Bapak. Sang bapak yang sejak tadi berusaha mendengar juga suara itu berkata, Mana mungkin ibu, anak kita kan sedang di rumah, mana mungkin dia kemari, dia pasti tidak tahu jalan menuju kemari. Sang bapak berusaha menenangkan ibu yang kelihatan resah mendengar suara mirip anaknya memanggil.
Sang anak tidak berhenti memanggil ibu dan bapaknya sambil berusaha terbang mendekat dengan menelusuri pepohonan. Dia berusaha menampakkan dirinya di balik dedaunan agar ibu dan bapak dapat melihatnya. Suaranya yang merdu terus memanggil orang tuanya. Dalam jarak yang tidak terlalu jauh, dia kembali memanggil-mangil ibunya, Geuwoe e poma geuwoe padé lam uroe adoe lam ayôn. Sang ibu dan bapak terkejut ketika melihat sosok burung yang berwajah manusia, mirip anaknya telah berubah menjadi seekor burung. Kakak, mengapa kamu, Nak? sang Ibu menjerit memanggil anaknya. Dia berlari mendekati pohon yang dihinggapi anaknya, sedangkan bapak berlari mengikuti ibu dari belakang. Anakku, turunlah Nak dari pohon itu, sang ibu memanggil anaknya dengan isak tangis kesedihan. Anakku, turunlah Nak, mengapa kamu berubah menjadi seekor burung, Nak?
Anakku, mengapa jadi begini, Nak, siapa yang telah membuatmu berubah, mengapa kamu mau berubah menjadi seekor burung, Nak, sang ibu terus bertanya. Anaknya hanya diam menatap kedua orang tuanya. Anakku, turunlah dari pohon itu, Nak, kemarilah bersama ibu, tangis kedua orang tuanya seakan memecah sunyinya hutan rimba petang itu. Lalu, sang anak menjawab, Tidak Ibu, aku tidak bisa kembali lagi dalam kehidupan ibu dan bapak, hidupku selamanya akan menjadi seekor burung. Aku telah berjanji pada burung-burung yang telah memberi bulu-bulu ini padaku, aku dan keturunanku akan selamanya menjadi burung. Biarlah aku hidup di hutan rimba, bebas di alam raya. Aku bisa pergi ke mana saja menjalani hidupku, aku lebih suka hidup begini daripada bersama ibu dan ayah yang tidak pernah peduli dengan keinginanku.
Ibu, Bapak, kedatanganku kemari ingin memberi tahu kalian, pulanglah sekarang, adik di rumah sendirian dalam ayunan dan padi masih di jemuran di depan rumah. Pulanglah Ibu, ya. Bapak, maafkan anakmu ini, anakmu terpaksa mencari jalan hidup sendiri, selama ini anakmu tidak pernah mendapatkan kehidupan bersama ibu dan bapak. Ibu dan bapak tidak pernah memberi waktu untuk kami, ibu dan bapak terus sibuk bekerja. Ibu, Bapak maafkan anakmu, aku pergi meninggalkan kalian dan memilih jalan hidupku di hutan rimba.
Tidak anakku, kamu harus kembali pada ibu, ibu janji akan memenuhi keinginanmu, jangan tinggalkan ibu, Nak. Kemudian, sang bapak juga turut merayu anaknya, Anakku pulanglah bersama ibu dan bapak walaupun dirimu telah berubah, kami akan merawat dan menerima keadaanmu yang seperti ini, pinta sang bapak dengan wajah penuh harap. Bapak, aku telah berjanji pada burung-burung yang telah membantuku, aku tidak bisa mengingkari janjiku, bukankah janji itu utang Bapak, selama ini bapak dan ibu terus berjanji padaku, begitu banyak sudah utang bapak dan ibu padaku, jawab sang anak memberi penjelasan dengan tegas. Jika pun kembali, aku tidak akan mendapatkan kehidupan yang bebas seperti ini, aku bagaikan burung dalam sangkar, jadi lebih baik begini menjadi burung yang bebas ke mana saja aku mau.
Sang anak pun terbang ke dalam hutan. Dengan lincah ia masuk pepohonan, lalu menghilang. Adapun ibu dan bapaknya mencoba untuk mengejar. Nak, jangan pergi, tunggu Ibu, Nak. Sang anak seakan tidak peduli dengan panggilan orang tuanya. Ia terus terbang menelusuri celah daun dan pepohonan. Semakin lama mengejar anaknya, semakin tidak lagi kelihatan ke mana anaknya terbang. Pulanglah Nak, pulang. Mereka memanggil saling bergantian, tetapi kelihatannya usaha mereka tidak membuahkan hasil, sang anak terus terbang menghilang entah ke mana.
Waktu terus berjalan. Matahari hampir pamit meninggalkan siang. Bapak, mengapa begini jadinya? Kita bekerja saban hari untuk anak kita, tetapi sekarang apa yang menjadi harapan kita telah pergi entah ke mana. Dia sebagai harapan penyambung kehidupan kita bersama adiknya telah meninggalkan kita. Lalu bapak menjawab, Ini semua salah kita, Ibu. Kita terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga lupa pada anak-anak kita. Kita lupa akan pertumbuhan mereka Ibu. Sekarang sudahlah Ibu, semua telah terjadi, biarlah ini menjadi pelajaran buat kita. Ayo kita pulang Ibu.
Keduanya bergegas pulang. Namun, tanpa sadar ternyata seluruh bagian kaki mereka mengeluarkan darah karena telapan kaki telah menjadi sarang-sarang duri. Ternyata saat mengejar anaknya, kaki-kaki mereka tertusuk duri-duri pepohonan dalam hutan. Bapak..Ibu tidak bisa berjalan, seluruh kaki terasa sakit sekali. Sang Bapak tahu kaki istri tertusuk duri, dengan cepat ia melepas bajunya untuk menutup luka-luka kaki istrinya. Ibu, kaki Bapak juga terkena duri, susah rasanya untuk berjalan. Tapi kita harus pulang, anak kita di rumah yang masih kecil tidak ada yang menjaganya.
Keduanya pulang dengan kaki tertatih-tatih. Duri-duri hutan telah melukai kaki keduanya. Lalu, sang bapak berusaha memapah istrinya yang sudah tidak kuat berjalan. Sepasang suami istri ini saling berjanji bahwa mereka tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Dalam sakit yang tiada terkira, mereka terus memikirkan anaknya yang di rumah, mereka tidak ingin anaknya yang kedua juga hilang seperti kakaknya. Ayo ibu, kita harus pulang sekarang juga, perjalanan kita masih jauh walau kita kelelahan dan tubuh kita terluka, kita harus sampai ke rumah untuk melihat anak kita.
Sesampai di rumah mereka mendapati anaknya sedang menangis seorang diri. Tidak kuat menahan sedih melihat bocah kecil sendirian, sang ibu dan bapaknya larut dalam tangis penyesalan. Mereka saling memeluk sambil mencoba mendiamkan anaknya. Duka bercampur penyesalan menyelimuti keluarga ini. Mereka sangat menyesal dan tidak ingin mengulangi kesalahan lagi. Kehidupan keluarga ini di kemudian hari menjadi hampa karena kehilangan seorang anak.
Itulah kisah asal mula burung perkutut dalam Cerita Rakyat Aceh.[] (*sar)
Penulis adalah Zulkipli R. Angkop. Ia peminat budaya dan tinggal di Nagan Raya.