Lanjutan tulisan sebelumnya Dongeng Asal Mula Burung Perkutut (Nasihat untuk Orang Tua dalam Mengasuh Anak
Ibunya lalu menjawab, Si kakak jaga adik di rumah ya, adik masih kecil, tidak mungkin kita bawa ke ladang, ladangnya belum bapak bersihkan, masih banyak hutan belukar. Ibu janji kalau nanti ladang sudah dibersihkan oleh bapak dan siap untuk ditanam padi, ibu dan bapak akan bawa kalian berdua ikut. Sabar, Nak ya? jawab sang ibu dengan mata berbinar menahan sedih. Mendengar jawaban ibunya, sang anak kembali dalam kesedihan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, ia tetap mengangguk dengan mata penuh harap pada ibunya. Terdengar sang bapak kembali meyakinkan anaknya, Iya Nak, nanti waktu ladang kita sudah bersih dan siap untuk ditanam padi, kakak dan adik boleh ikut. Lalu, berangkatlah bapak dan ibu untuk bekerja dengan meninggalkan dua anaknya di rumah. Begitulah hari-hari berlalu hingga waktu tanam padi pun tiba dan anak kembali menagih janji kedua orang tuanya.
Pagi yang cerah. Seperti biasa, ibu dan bapak bersiap-siap untuk pergi bekerja. Sang ibu menyiapkan sarapan pagi dan bekal untuk makan siang di ladang. Di luar rumah tampak sang bapak sibuk mempersiapkan peralatan kerja, sedangkan anaknya sedang menjaga adiknya bermain sembari mencari waktu yang tepat untuk kembali minta ikut pergi ke ladang. Maka, terjadilah percakapan singkat antara ibu dan anaknya. Ibu..Ibu kan sudah janji, kalau ladang kita sudah bersih dan musim tanam tiba, ibu dan bapak akan mengizinkan kami ikut ke ladang. Kalau ibu izinkan, hari ini kami ikut Bu ya, kami ingin pergi ke ladang, sekali saja juga boleh Ibu.
Sebuah pertanyaan yang sudah diduga sebelumnya. Akhirnya, permintaan anak kepadanya kembali menjadi beban bagi ibunya. Ibu kembali terdiam, sedangkan bapak di luar rumah yang hanya berbatas dinding papan juga ikut mendengar permintaan anaknya, keduanya terdiam sejenak. Tiba-tiba terlihat sang bapak masuk dan duduk di samping sang ibu. Keduanya beradu pandang seakan saling memberi isyarat untuk memberi jawaban kepada anaknya. Sang anak terus meminta, Ibu, kami ingin sekali ikut Ibu dan Bapak ke ladang, pasti Bapak sudah membuat gubuk untuk kami bermain di sana kan? Kami berharap hari ini kami bisa ikut Ibu dan Bapak.
Nak, betul ibu telah berjanji pada kalian, tapi rasanya akan lebih baik jika kalian ikut pada saat musim panen timun dan jagung tiba. Sang ibu meyakinkan anaknya bahwa pada musim panen timun dan jagung mereka akan dibawa ikut ke ladang. Nanti kalian bisa makan timun dan jagung bakar. Kalau sekarang kalian ikut, rasanya percuma saja karena di sana tidak ada yang bisa membuat kalian senang. Ibu dan bapak janji nanti pasti kalian boleh ikut. Sang anak pun kembali bersedih, ia seakan telah tahu bahwa ibu dan bapaknya tidak akan membolehkan mereka ikut hingga panen padi nanti. Hatinya sangat merasa sedih. Ia membayangkan pada tahun ini akan sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Ibu, kami ikut sekarang saja, kami telah bosan selalu tinggal di rumah, kami ingin menghabiskan banyak waktu bersama Ibu dan Bapak. Selama ini kami hanya bertemu Ibu dan Bapak pada malam hari saja, itu pun karena sudah sangat lelah, Ibu dan Bapak terus terlelap tidur. Rasanya kami tidak punya orang tua selama ini. Terlihat air mata ibu membuncah bak mata air di musim hujan ketika mendengar curahan hati anaknya, dipeluknya sang anak lalu berkata, Sudahlah Nak, ini janji ibu yang terakhir, kalian pasti ibu izinkan ikut ke ladang pada saat musim timun dan jagung nanti.
Singkat cerita, ketika musim panen timun dan jagung tiba, sang anak kembali meminta ikut pergi ke ladang. Ibu dan bapaknya tidak kehilangan akal untuk terus memberi janji pada kedua anaknya. Ibu dan bapaknya tidak pernah mengira bahwa janji-janji selama ini kepada anaknya telah membuat mereka putus asa. Hari-hari berikutnya sang anak tidak pernah lagi meminta pada orang tuanya. Ia hanya diam ketika orang tuanya pergi bekerja. Hingga pada suatu pagi ketika ibu dan bapaknya hendak berangkat, sang anak hanya merelakan kepergian kedua orang tuanya seakan ia telah lelah untuk terus meminta, sedangkan bapak dan ibunya tidak pernah sekalipun memenuhi permintaan anak-anaknya.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, pada pagi yang cerah saat itu sang anak mendapat tugas tambahan dari orang tuanya, yaitu menjaga padi yang sedang dijemur di halaman rumahnya agar tidak dimakan ayam dan burung. Menjelang siang setelah orang tuanya pergi, sang anak terlihat menangis menahan sedih. Harapan yang tidak pernah terkabul seakan membeku dalam dadanya, terasa sesak menahan asa yang tidak pernah terwujud. Air mata tumpah mengalir tanpa sadar dalam tatapan polos ketidakpastian. Matanya mengarah ke halaman rumah, pertanda sedang memantau padi yang sedang dijemur. Tangannya yang kecil bergerak mengayunkan adiknya yang sedang pulas tidur dalam ayunan.
Dalam kesedihan yang memuncak, sekawanan burung hinggap di pinggir padi yang sedang dijemur. Burung-burung itu dengan leluasa mencicipi butiran-butiran padi tanpa khawatir diusir oleh pemiliknya. Lalu, burung-burung itu merasa keheranan, mengapa mereka tidak diusir oleh pemilik padi, padahal pemilik padi melihat ke arah mereka. Tiba-tiba seekor burung berkata, Kawan-kawan, anak ini sedang menangis, coba kalian lihat ke arahnya. Spontan saja semua burung melihat ke anak kecil itu dan keheranan. Lalu burung lainnya berkata, Apakah dia bersedih lantaran padinya hampir habis kita makan, ayo kita tanya padanya.
Seekor burung dengan gesit terbang menghampiri anak kecil itu dan berkata, Wahai anak kecil, mengapa engkau menangis, apakah lantaran kami telah memakan padi milik kamu? Sang anak hanya terdiam tidak menghirau. Burung itu semakin penasaran. Ayo ceritakan pada kami, apa masalah yang sedang kamu hadapi. Apakah kamu takut dimarahi orang tua kamu karena lalai tidak menjaga padi?. Sang anak lalu menatap ke arah burung itu dengan wajah pesimis. Salam hatinya dia berkata, Percuma menceritakan pada burung, pasti mereka tidak bisa membantu, ah biarlah aku tidak menjawab pertanyaan mereka.
Sang burung terus mendesak dengan sedikit merayu. Ayo ceritakan pada kami, mungkin kami bisa membantu kamu. Lalu sang anak menatap ke arah burung itu dan mulai berbicara, Apakah kalian bisa membantuku? Sudah bertahun-tahun aku ingin ikut dengan orang tuaku pergi ke ladang, tetapi ibu dan bapak terus memberi janji yang tidak pernah beliau tepati. Aku ingin ikut bersama mereka, di rumah sangat sepi tanpa mereka. Jika malam datang, kami hanya sebentar bisa bermanja-manja dengan ibu dan bapak, beliau capek karena siang bekerja, lalu tidak ada waktu untuk kami. Sudah bertahun-tahun kami ditinggal di rumah. Kami sudah bosan hidup sepi tanpa kawan.
Mulailah sang anak menceritakan secara lengkap masalah yang sedang ia hadapi. Burung-burung itu semua terdiam mendengar kisah sang anak dan turut dalam kesedihan. Apakah kalian bisa membantuku? Bisakah kalian membawa aku dan adikku ke ladang orang tuaku? Di ladang sana pasti enak, kami di sini selalu berdua ditinggal ibu dan bapak setiap hari. Mereka pergi pagi dan pulang malam dengan kondisi kelelahan, kami tidak punya waktu untuk bermanja dengan ibu. Lalu, salah satu burung menjawab pertanyaan sang anak…[] Bersambung… (*sar)
Penulis adalah Zulkipli R. Angkop. Ia peminat budaya dan tinggal di Nagan Raya.