TERKINI
NEWS

Badriah, Korban Kekerasan yang Kini Jadi Aktivis Pembela Perempuan

Badriah mulai pulih dari traumanya dan menjadi sosok yang periang dan terbuka

DREAM Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 5 menit
SUDAH DIBACA 1.3K×

BANDA ACEH – Raut wajah Badriah seketika berubah ceria kala seorang dewan juri menyebut namanya. Tanpa komando, ia meloncat ke perempuan di sampingnya sambil memeluk erat-erat. Suasana dalam gedung menjadi riuh. Tepuk tangan membahana. Beberapa perempuan berteriak memanggilnya.

Badriah (40), perempuan asal Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara terpilih sebagai Perempuan Aceh Award (PAA) 2015. Penghargaan ini diberikan kepada mereka yang menjadi pejuang pemenuhan hak perempuan korban kekerasan terutama yang bekerja di tingkat gampong/desa. Ini merupakan kali keempat PAA digelar.

Dari 28 nama yang masuk, dewan juri memilih lima orang sebagai kandidat. Tapi setelah dilakukan seleksi lagi, terpilih tiga orang sebagai nominator. Ketiganya adalah Herlina (asal Aceh Selatan), Nurlina Abdullah (asal  Aceh Besar), dan Badriah A Thalib (asal Aceh Utara).

“Dewan juri memutuskan yang menjadi juara adalah Badriah A Thalib asal Aceh Utara,” kata seorang juri, Adi Warsidi saat membacakan pemenang di gedung Tjut Nyak Dhien, Banda Aceh, Rabu (25/11/2015) sore.

Badriah memang layak mendapat penghargaan tersebut. Di desanya, ia menjadi penyemangat dan motivator bagi puluhan warga yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, maupun berbagai tindak kekerasan lainnya. Baginya, membantu antar sesama menjadi sebuah keharusan. Apalagi, ia juga pernah merasakan pahitnya hidup dan menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh suami.

Kisah tersebut berawal saat Badriah menikah dengan seorang pria pilihannya sendiri. Saat itu, usia Badriah masih 18 tahun. Setelah menikah, bukan bahagia yang didapat. Saban hari, Badriah menjadi sasaran kekerasan yang dilakukan oleh sang suami. Bukan hanya itu, pendamping hidupnya itu juga seorang pemalas dan kerap pulang ke rumah dalam kondisi mabuk.

Mulai sejak saat itu, Badriah terpaksa mencari kerja untuk menafkahi keluarganya. Beban penderitaannya semakin bertambah kala mengandung anak pertama. Sang suami diketahui mulai berselingkuh dengan perempuan lain. Badriah hanya pasrah dengan keadaan.

“Saat anak pertama saya berusia tiga tahun, suami saya nikah lagi tanpa persetujuan saya,” kata Badriah saat ditemui usai acara.

Meski sudah menikah lagi, suaminya tidak pernah menceraikan Badriah. Ia juga tidak pernah lagi mendapat nafkah. Hidup Badriah menjadi terkatung-katung. Ia masih bertahan dengan keadaan demi membahagiakan anak-anaknya. Paling tidak, sang buah hati masih memiliki seorang ayah walau jarang melihat wajahnya.

Untuk menghidupi ketiga anaknya, Badriah bekerja sebagai pembuat batu bata dan buruh tani di desanya. Beban hidupnya semakin bertambah karena selain mengurus rumah tangga ia juga menjadi tulang punggung bagi buah hatinya. Karena keadaan itu, Badriah menjadi sosok yang pendiam dan tertutup.

“Apalagi dulu di desa kami masih memegang prinsip bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah aib yang harus ditutupi untuk menjaga nama baik keluarga,” ungkapnya.

Di desa tempat tinggalnya, ada juga beberapa perempuan lain yang mengalami nasib serupa. Mereka juga pasrah dengan keadaan dan menganggap kekerasan dalam rumah tangga  merupakan suatu kewajaran yang sudah menjadi takdir hidup. Tak ada penderita yang melapor ke pihak desa apalagi polisi.

Seiring berjalan waktu, Badriah mulai pulih dari traumanya dan menjadi sosok yang periang dan terbuka. Ia sudah suka bercanda dan aktif dalam berbagai kegiatan kelompok perempuan. Kala tsunami menerjang Aceh 26 Desember 2004 silam, Badriah juga menjadi korban. Seluruh harta bendanya hilang dibawa gelombang dahsyat tersebut.

Sejak usai tsunami, Relawan Perempuan untuk Kemanusiaan (RpuK) kemudian memberikan pendampingan kepada perempuan-perempuan di desa tempat Badriah tinggal melalui kegiatan bersama kelompok. Berbagai diskusi dan pendampingan terus dilakukan. Hingga pada akhirnya, Badriah berubah menjadi sosok yang gigih berusaha dan mempunyai keinginan yang kuat untuk pulih.

“Mulai saat itu saya mau bangkit untuk mengejar ketertinggalan. Trauma yang saya alami perlahan-lahan hilang,” ungkap Badriah.

Badriah kemudian sadar untuk mendapatkan status yang jelas dari perkawinannya. Ia sudah tidak tahan hidup menderita. Setelah melewati proses panjang, baru pada tahun 2008 Badriah berhasil memperoleh akte cerai dari pengadilan. Ia melanjutkan hidup sebagai seorang janda dan menghidupi ketiga anaknya.

Usai dirinya berhasil bangkit kembali, Badriah mulai aktif mengajak perempuan lain yang menjadi korban untuk menuntut keadilan. Para janda di desanya kemudian membentuk seubah kelompok yang bertujuan untuk  memberikan semangat kepada para wanita lainnya. Kini, sudah ada 50 orang anggota kelompok dan Badriah menjadi ketua.

“Sekarang saya yang mengkoordinir mereka semua,” jelas Badriah.

Berkat kegigihannya, usaha produksi batu bata yang menjadi salah satu mata pencariannya terus berkembang. Bahkan, ia sudah merekrut beberapa perempuan di desanya sebagai pekerja. Kini ia sudah menjadi 'bos' dalam produksi batu batu. Selain itu, Badriah juga sibuk mengurus sawah dan membuka usaha dagang di depan rumahnya.

“Di depan rumah saya ada kios kecil. Di sana saya menjual barang kebutuhan pokok rumah tangga dan jajanan untuk anak-anak,” kata Badriah.

Badriah kini juga terlibat dalam sejumlah organisasi perempuan di Aceh. Ia kerap tampil untuk memberikan motivasi kepada anggota kelompoknya agar tetap semangat dalam menjalankan hidup. Bahkan jika dulu kebanyakan perempuan ditinggal begitu saja oleh suaminya, sekarang mulai bersuara dengan menggugat cerai.

“Saya akan terus berjuang untuk memperjuangkan hak-hak perempuan,” jelas Badriah.

Pemberian penghargaan Perempuan Aceh Award (PAA) tahun ini bertujuan untuk memberi pengakuan terhadap para perempuan yang telah mendedikasikan dirinya untuk penegakan hak asasi perempuan di Aceh. PAA tahun ini mengangkat tema “Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan”.

“PAA ditujukan untuk mereka yang selama ini tidak diperhitungkan dan tidak diketahui tapi sebenarnya melakukan kerja-kerja yang cukup penting,” kata Ketua Panitia PAA 2015 Asiah Uzia, dalam keterangan tertulis kepada wartawan.

Pemenang PAA ini mendapat hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 10 juta, plakat dan sejumlah hadiah lainnya. Bagi Badriah, ke depannya ia akan tetap bekerja mendampingi korban KDRT, dan kekerasan untuk mendapatkan keadilan. Selain itu, ia juga akan terus mendampingi dan mengembangkan kelompok perempuan di desanya sampai benar-benar dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan di tingkat desa.

“Saya merasa senang mendapat penghargaan ini. Ke depan saya akan terus bekerja dengan baik,” ungkapnya.[] sumber: detik.com

DREAM
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar