TERKINI
ENTERTAINMENT

Apa Kabar APBA Perubahan

Saat ini para pejabat di pemerintah Aceh seperti sedang bekerja di kapal bocor.

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 1.6K×

APBA Perubahan 2015 sampai sekarang tidak jelas pengesahannya. Sepertinya Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA) diduga sengaja mengulur waktu. Diduga perilaku ini agar bisa menyiasati devisit anggaran berjalan. 

Kita tentu sudah makfum bahwa APBA 2015 yang sedang berjalan ada dua bolong besar. Pertama kesalahan perhitungan dana bagi hasil Migas yang disebutkan mencapai Rp 700 miliar lebih. Padahal kenyataannya hanya ada Rp 200 miliar lebih saja yang mengalir untuk Aceh. Sementara sejumlah proyek telah dianggarkan via pendapatan Migas itu. 

Hal kedua adalah kasus dugaan pencaloan anggaran. Sejumlah proyek diduga masuk pintu belakang tanpa pernah ada dalam usulan awal. Dalam kasus ini sejumlah proyek yang diusul dewan hilang. Anggarannya dibuat ke proyek siluman. 

Dua kasus besar dalam penyusunan APBA 2015 menyebabkan TAPA terbebani. Dalam perubahan 2015 dewan kembali mengusulkan program-program yang hilang. Ini mengakibatkan TAPA harus mencari sumber pendapatan atau Silpa. Bila tidak maka dewan akan menjegal APBAP dan APBA 2016. 

Nah sampai sekarang TAPA belum lagi menyerahkan rancangan APBAP 2015. Patut diduga ini adalah permainan mengulur waktu. Arti mendekati akhir tahun APBAP disahkan. Kalaupun usulan dewan dimasukkan maka dipastikan tidak bisa dilaksanakan dan dicairkan. Sehingga APBA menjadi aman. Artinya uang yang tidak sempat ditarik itu jadi Silpa. Walaupun sebenarnya Silpa kosong. Artinya memang tidak ada duitnya walau sudah dianggarkan.

Walaupun ini masih tahap kecurigaan, namun dari pernyataan Kepala Bappeda bahwa APBAP sedang di-entry alasan ini terlalu mengada-ada. Terkesan alasan orang bodoh atau membodohi publik. Sebab ini zaman canggih, zaman komputer. Semua serba instan. Mana mungkin untuk meng-entry butuh waktu selama ini. Apalagi ini bukan zaman mesin ketik. 

Untuk melancarkan anggaran perubahan itu, saat ini para pejabat di pemerintah Aceh seperti sedang bekerja di kapal bocor. Yang mereka pikirkan menyelamatkan diri masing-masing. Kapal memang sudah oleng. Sedikit lengah langsung jatuh ke laut dan tenggelam. 

Di lain pihak para petualang memanfaatkan situasi ini. Mereka juga turut menakut-nakuti Kepala SKPA. Tujuan adalah mengail di air keruh. Teori “memetik madu” berjalan. Mengalihkan perhatian para lebah kemudian mengambil madunya. 

Kepala SKPA yang takut dicopot dengan mudah ditakut-takuti. Mereka tiap hari hanya mengumpulkan rupiah untuk dirinya, dan untuk mempertahankan jabatan mereka. 

Maka APBAP jangan harap akan memihak rakyat. Uang rakyat ini menjadi alat bergaining banyak pihak. Bukan untuk rakyat tapi untuk sejumlah “hantu”. Ada tapi tidak terlihat.[]

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar