TERKINI
GAYA

Aceh dan Mantra (Bagian I)

Ketakutan Belanda kepada pejuang Aceh karena diyakini menggunakan mantra ketika sang pejuang melawan Belanda.

M FAJARLI IQBAL Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 2.1K×

Pembicaraan tentang Aceh rasanya belum lengkap jika tidak menyinggung persoalan mantra, lebih-lebih lagi bila kita sedikit mundur ke belakang, mengenang perang melawan kaphé Belanda.

Kala itu pejuang Aceh sangat ditakuti oleh Belanda. Salah satu penyebabnya karena kompeni itu meyakini orang Aceh melawan Belanda dengan menggunakan mantra. Kenyataan ini tercatat dengan rapi dalam buku Aceh karya Zentgraaf.

Ketakutan Belanda kepada pejuang Aceh karena diyakini menggunakan mantra juga pernah saya dengar dari beberapa orang tua yang sempat merasakan perang. Katanya, sebagian orang Aceh yang ditebas lehernya oleh Belanda ketika perang, tidak mati sebelum berhasil membunuh si Belanda yang menebas lehernya itu. Ini terus berlangsung berhari-hari meskipun leher terpisah dari badan.

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita ini, yang pasti mantra masih berkembang di Aceh hingga kini. Buktinya, ada beberapa daerah di Aceh yang takut didatangi dengan alasan penduduk di daerah banyak menggunakan mantra. Begitu pula, bila ada seseorang dari suatu daerah datang ke Banda Aceh, kepadanya ditanya, “Na mèe dabeuh dari gampông?” Dabeuh yang dimaksud di sini adalah mantra.

Setiap daerah punya istilah khusus untuk menyebut mantra. Masyarakat Batak menyebut mantra dengan istilah tabas, makatana dalam masyarakat Minahasa, dan sikerai dalam masyarakat Mentawai.

Di Aceh mantra disebut neurajah. Neurajah merupakan sastra lisan yang diwariskan secara turun-temurun. Neurajah hampir merata ada di seluruh Aceh. Bahasa yang digunakan tentu saja tergantung pada bahasa pengguna neurajah itu seperti bahasa Aceh, bahasa Jamee, atau bahasa Kluet di Aceh Selatan.

Dalam praktiknya, neurajah dipakai untuk mengobati berbagai jenis penyakit, mempertahankan diri, melumpuhkan lawan, dan untuk hiburan.

Neurajah di setiap daerah memiliki keunikan tersendiri. Di Kluet, misalnya, neurajah unik dari segi isi teksnya dan dari pemakai neurajah itu sendiri. Ditinjau dari segi isi, isi teks neurajah yang terdapat dalam masyarakat Kluet biasanya menggunakan lebih dari satu bahasa.

Lalu, jika ditinjau dari segi pemakainya, pemakai neurajah itu sendiri juga menggunakan neurajah yang terdiri dari bahasa yang terkadang tidak ia mengerti, misalnya pawang yang hanya mampu berbahasa Kluet, tetapi menguasai neurajah yang teksnya berbahasa Aceh atau Jamee. (bersambung) []

M FAJARLI IQBAL
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar