Pembicaraan tentang Aceh rasanya belum lengkap jika tidak menyinggung persoalan mantra, lebih-lebih lagi bila kita sedikit mundur ke belakang, mengenang perang melawan kaphé Belanda.
Kala itu pejuang Aceh sangat ditakuti oleh Belanda. Salah satu penyebabnya karena kompeni itu meyakini orang Aceh melawan Belanda dengan menggunakan mantra. Kenyataan ini tercatat dengan rapi dalam buku Aceh karya Zentgraaf.
Ketakutan Belanda kepada pejuang Aceh karena diyakini menggunakan mantra juga pernah saya dengar dari beberapa orang tua yang sempat merasakan perang. Katanya, sebagian orang Aceh yang ditebas lehernya oleh Belanda ketika perang, tidak mati sebelum berhasil membunuh si Belanda yang menebas lehernya itu. Ini terus berlangsung berhari-hari meskipun leher terpisah dari badan.
Terlepas dari benar atau tidaknya cerita ini, yang pasti mantra masih berkembang di Aceh hingga kini. Buktinya, ada beberapa daerah di Aceh yang takut didatangi dengan alasan penduduk di daerah banyak menggunakan mantra. Begitu pula, bila ada seseorang dari suatu daerah datang ke Banda Aceh, kepadanya ditanya, Na mèe dabeuh dari gampông? Dabeuh yang dimaksud di sini adalah mantra.
Setiap daerah punya istilah khusus untuk menyebut mantra. Masyarakat Batak menyebut mantra dengan istilah tabas, makatana dalam masyarakat Minahasa, dan sikerai dalam masyarakat Mentawai.