TERKINI
GAYA

Tarian Pho

Tarian ini dibawakan oleh para wanita, dahulu biasanya dilakukan pada kematian orang besar dan raja-raja, yang didasarkan atas permohonan kepada yang Mahakuasa, mengeluarkan isi hati yang sedih karena ditimpa kemalangan…

M FAJARLI IQBAL Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 5 menit
SUDAH DIBACA 3.6K×

Tarian ini populer di Pantai Barat dan Selatan, Aceh. Kata pho berasal dari kata puba-e yang berarti meratap atau meuratôh. Pho adalah panggilan atau sebutan penghormatan dari rakyat hamba kepada yang Mahakuasa, yaitu Po Teu Allah. Bila raja yang sudah almarhum disebut Po Teumeureuhom. Tarian ini juga digunakan dalam masa duka cita, kemalangan, dan kematian.

Tarian ini dibawakan oleh para wanita, dahulu biasanya dilakukan pada kematian orang besar dan raja-raja, yang didasarkan atas permohonan kepada yang Mahakuasa, mengeluarkan isi hati yang sedih karena ditimpa kemalangan atau meratap melahirkan kesedihan-kesedihan yang diiringi ratap tangis. Sejak berkembangnya agama Islam, tarian ini tidak lagi ditonjolkan pada waktu kematian, dan telah menjadi kesenian rakyat yang sering ditampilkan pada upacara-upacara adat.

Pho muncul akibat dihukum matinya dua orang remaja putra dan putri akibat fitnah yang menimpa mereka. Berarti dapat dikatakan bahwa pho muncul akibat ini dari kesedihan yang menimpa seseorang ataupun sekelompok orang, bahkan juga menyangkut kemalangan yang menimpa raja-raja.

Awal kisahnya bermula dari kerajaan Kuala Batèe. Seorang anak perempuan telah menjadi yatim piatu sejak kecil. Ia berparas cantik dan manis.

Anak ini diasuh oleh kakak ibunya, makwa atau uwak dalam bahasa Aceh, dan diberi nama Medion. Makwa yang mengasuhnya juga memiliki seorang anak laki-laki yang sebaya dengan Medion. Malelang namanya.

Sejak kecil keduanya selalu bermain bersama. Oleh karena itu, ibu Malelang pun berencana menikahkan mereka kelak. Makwanya mengusahakan menanam pohon-pohon yang kelak dapat dimanfaatkan untuk menunjang keperluan upacara perkawinan, seperti gaca (inai), pohon pisang, dan pohon-pohon lainnya. Pakaian pengantin telah mulai disulam sedikit demi sedikit.

Dari hari ke hari pohon-pohon itu tumbuh subur. Demikian pula dengan pakaian yang hampir selesai disulam. Alangkah bahagianya ibu Malelang melihat persiapan yang direncanakan terus menunjukkan hasil. Hasil ini kelak akan ditunaikan saat pernikahan Malelang dengan Madion.

Kebiasaan di kampung, perempuan-perempuan dewasa sangat senang makan sirih. Ketika waktunya ingin memakan sirih, pinang yang biasanya telah tersedia pada tempat sirih waktu itu habis. Dimintalah Malelang oleh ibunya memanjat pinang yang tumbuh subur dan lebat.

Sebagai anak yang baik, ia pun berusaha memanjatnya. Melihat abangnya memetik buah pinang, Madion pun meminta buah pinang pada abangnya itu untuk dirinya sendiri.

Ketika berlari menuju tempat abangnya memanjat pinang, kaki Madion tersangkut semak berduri, celananya punya koyak. Kejadian itu ada yang melihat dan kebetulan dilihat oleh pemuda yang sudah pernah mencoba meminang Madion, tetapi ditolak oleh makwanya.

Peristiwa itu dilaporkan oleh pemuda tadi ke istana dan tentunya dengan kalimat yang didramatisasi atau fitnah. Ini dilakukan sang pemuda karena ia sakit hati setelah pinangannya ditolak oleh Makwa Madion.

Dia mengatakan bahwa Madion dan Malelang berzina sehingga menjadi aib bagi kerajaan. Setelah mendengar hal itu, raja mengirimkan utusan untuk menyelidiki kebenaran laporan pemuda tadi.

Utusan raja langsung menuju ke tempat kejadian, lalu mendapati celana Madion telah sobek dan tepercik darah. Fakta tersebut dilaporkan kepada raja. Tentu saja raja menjadi berang. Sang raja melakukan sidang terhadap mereka berdua untuk memutuskan perkara yang menjadi aib bagi kampung dan kerajaan.

Malelang dan Madion bersumpah tidak melakukan seperti yang difitnahkan itu. Sayangnya, sumpah mereka tidak dihiraukan karena raja berpedoman pada fakta dan saksi yang melihat langsung. Diputuskanlah keduanya dihukum mati. Ibu Malelang meminta waktu penangguhan eksekusi hukuman mati selama seminggu untuk melepas rindu.

Si ibu meminta kepada hulubalang supaya mengizinkan keduanya menikah dan mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam sebagaimana direncanakan lagi pula ia sudah mengundang orang-orang. Permintaan itu dikabulkan.

Si Malelang minta ibunya membuat sambal daun encek gondok yang dalam bahasa di sana disebut bungong crot atau bungong yoh.

Beginilah ratapan ibu si Malelang yang malang:

“O bineuk sinyak dong di rot

kapot bungong crot pasoe lam ija

juloh juloh ie mon blang pidie

tujoh pucok jok keu taloe tima

O bineuk lon balek laen

puteh licen seuot beurata

Halo halo hai di kutidi

hai kumbang dodi oi kumbang dodi”

Ibu si Malelang ini meratap seraya menari-nari, para ibu lain yang melihatnya pun ikut hanyut dalam maha duka temannya, mereka ikut meratap dengan syair tersebut dan ikut menari bersama ibu si Malelang. Lama kelamaan gerakan mereka teratur mirip sebuah tarian.

Setelah si Malelang dan sepupunya menikah dan mengadakan pesta 7 hari tujuh malam, mereka dihukum. Setelahnya, ratapan dan gerakan ibu si Malelang bersama para ibu-ibu yang lain diulangi ketika mereka ingat kemalangan yang menimpa si Malelang dan kekasihnya. Lambat laun, syair dan gerakan itu menjadi tarian.

Tarian pho pada awalnya adalah ekspresi kesedihan, baik yang berupa kemalangan (meninggal) maupun melepas anak perempuan waktu akan dinikahkan. Karena penampilannya sangat menarik, pho berubah tontonan sebagai hiburan.

Tarian pho memiliki beberapa tahapan: (1) saleum, (2) bineuh, (3) trôn tajak manoe, (4) jak kutimang, (5) ayôn aneuk aneuk, (6) lanie, peulét manok, (7) bungong rawatu, (8) tum beudé, dan sebagainya.

Saleum merupakan tanda dimulainya tarian phô, berupa keluarnya dua orang penari sambil bernyanyi. Sambil berdiri, kedua tangan dalam posisi seperti menyembah dan berdiri berbanjar menghadap penonton.

Tahap berikutnya adalah bineuh. Bineuh merupakan syair yang dinyanyikan oleh syahi dan para penari mengikuti irama lagu tersebut  sambil membentuk selingkaran yang mengisahkan kejadian antara Madion dan Malelang.

Setelah bineuh, tari berlanjut ke bagian tren tajak manoe. Gerakan ini menunjukkan cara seorang ibu memandikan anaknya. Komposisi gerakan tarian ialah empat pengantin duduk, sedangkan dua orang lain berdiri, empat orang lainnya berdiri di belakang dengan bentuk setengah lingkaran.

Ada lagi gerakan selanjutnya, jak kutimang. Gerakan ini menunjukkan cara seorang ibu memandang sayang anaknya dengan sepenuh hati dan memperlihatkan kemesraan. Komposisi gerak tarian ini adalah kelompok penari dibagi menjadi dua, masing-masing empat orang dengan lingkaran yang bentuknya sama.

Lalu, ada gerakan ayôn aneuk. Tarian ini menunjukkan cara seorang ibu yang mengayunkan anaknya. Komposisi gerakan tarian ini adalah enam orang, masing-masing tiga orang membuat setengah lingkaran. Dua orang lainnya berdiri di samping masing-masing dari setengah lingkaran tersebut.[]

Sumber

Budaya Aceh, Pemerintah Aceh, 2009

http://koenciletcilet.blogspot.co.id/2014/05/tari-pho-tari-yang-berasal-dari-aceh.html

M FAJARLI IQBAL
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar