BANDA ACEH Hari itu, Rabu, 25 Oktober 2000, pasukan TNI dibantu Polri mengepung Gampong Cot Baroh, Kecamatan Glumpang Tiga, Pidie. Mereka hendak memburu para kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), salah satunya adalah Wakil Panglima GAM Teungku Yahya bin Abdul Wahab. Baku tembak terjadi dengan tewasnya delapan orang pasukan GAM termasuk Teungku Yahya.
Jenazah mereka ditemukan warga di areal persawahan dan sungai Jimjiem, Kecamatan Bandar Baru, Pidie. Sekarang kawasan ini masuk dalam wilayah administrasi Pidie Jaya. Jarak temuan jenazah ini sekitar 4 kilometer dari lokasi baku tembak antara GAM dengan TNI/Polri.
Saat itu Tgk Yahya bin Abdul Wahab yang menjabat sebagai Wakil Panglima TNA syahid, dan kemudian digantikan oleh Haji Muzakir Manaf, kisah Suadi Sulaiman, Juru Bicara Partai Aceh kepada portalsatu.com pada akhir Maret 2016 lalu.
Tanggung jawab Muzakkir Manaf kian besar ketika Abdullah Syafii, selaku Panglima Tertinggi GAM juga tertembak di Cubo. “Abdullah Syafii pun ikut syahid sehingga Wali Nanggroe Aceh saat itu, Tgk Hasan Tiro, berembuk untuk menentukan siapa panglima tertinggi pasukan. Dan pilihan itu pun jatuh pada Haji Muzakir Manaf, kata Adi lagi menceritakan sosok Muzakir Manaf.
Bagi pria yang karib disapa Adi Laweung ini, sosok Muzakir Manaf memiliki kharisma dan segudang kisah sepanjang hidupnya. Dia juga menilai Muzakir Manaf sebagai potret pemimpin yang telah terbukti selama 14 tahun lebih.
Semenjak menjadi panglima tertinggi militer GAM, Muzakir Manaf masih memegang komando itu sampai sekarang, dan masih memimpin selama 14 tahun lebih. Dan tentu saja bukan garis komando seperti dulu tapi KPA, kata Adi.
Kepemimpinan Muzakir Manaf dalam komando GAM turut mempertegas larangan penggunaan narkoba untuk para prajuritnya. Adi mengatakan Muzakir Manaf sangat memegang teguh doktrin ke-aceh-an dan agama dalam kepemimpinannya.