SIGLI – Nurbani, 45 tahun, warga Gampong Paya Tijue, Kecamatan Pidie, mempertanyakan bantuan rumah dari Pemerintah Aceh tahun 2014. Rumah yang anggaran pembangunannya melalui Dinas Cipta Karya Aceh tersebut diinformasikan sudah keluar pada 2014 tapi raib di tengah jalan.
Rumah yang diberikan unruknya tersebut sudah masuk dalam daftar penerima manfaat. Namun anehnya hingga saat ini Nurbani mengaku belum tahu di mana dibangun rumah tersebut dan untuk siapa dijatahkan.
Nurbani didamping suaminya Aziz, 56 tahun, mengaku sudah mengajukan permohonan pembangunan rumah ini sejak 2009 lalu.
“Kami sering melakukan pengecekan dengan mendatangi langsung ke Banda Aceh. Pada tahun 2013 baru nama saya tertera dalam komputer sebagai penerima bantuan rumah,” katanya kepada portalsatu.com, Rabu, 2 Desember 2015.
Menurutnya saat itu petugas dari Cipta Karya meminta dirinya menunggu saja di kampung halaman. Sudah sekian lama ditunggu, bantuan pun tak kunjung datang hingga 2013 berakhir. Di tahun 2014, rumah jatah keluarga miskin ini belum dibangun juga.
Dia mengatakan suaminya bekerja sebagai buruh pada penjual ayam potong di pasar Tijue.
Ketika putrinya dinikahkan, Nurbani terpaksa mencari papan barangan untuk membuat kamar dan menutup dinding rumah yang bolong.
“Kami pasrah saat itu, mungkin belum selesai proses administrasi rekanan,” kata perempuan yang mempunyai 2 orang putri dan satu putra ini.
Tahun 2015 sedang berjalan, rumah dhuafa untuk orang lain sudah banyak dibangun tetapi tak satu pun disebutkan untuk dirinya. Melalui seorang tokoh masyarakat, Abah, dia kemudian meminta tolong untuk menanyakan kembali ke Banda Aceh.
“Abah itu kenal dengan orang Cipta Karya, maka kami minta bantu dia untuk menanyakan ke sana,” kata Aziz.
“Informasi Abah dapatkan dari petugas Cipta Karya, rumah itu sudah turun bahkan sudah selesai dibangun. Tapi tidak tahu siapa penerima sekarang, ” kata Aziz seraya berharap jika memang ada jatah rumah untuknya agar diberikan.[]
Laporan: Zamah Sari