TERKINI
HEALTH

Ini Pembahasan Alquran tentang Petir

Petir atau guruh diabadikan menjadi salah satu nama surat dalam Alquran, yaitu surah ke-13, ar-Ra'du.

VIVA Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 2.5K×

Umat Islam meyakini, petir dimaknai bukan sekadar peristiwa alam semata. Petir atau guruh diabadikan menjadi salah satu nama surat dalam Alquran, yaitu surah ke-13, ar-Ra'du. Setidaknya, ada tiga istilah dalam Alquran yang merujuk pada makna petir, yaitu ar-Ra’du, ash-Showa’iq, dan al -Barq. 

Para Ahli tafsir mendefenisikan ar-Ra’du lebih dekat dengan makna suara petir atau geledek. Sedangkan, ash-Shawa’iq dan al-Barq maknanya lebih dekat untuk istilah kilatan petir, yaitu cahaya yang muncul beberapa saat sebelum adanya suara petir. Demikian dipaparkan Dr Muhammad Luqman As Salafi dalam Rasy Al-Barad Syarh Al-Adab Al Mufrod (381).

Kronologi petir ini sudah dijabarkan dalam Alquran. Firman Allah SWT, “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih. Maka, kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan, seperti) gunung-gunung. Maka, ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (QS an-Nur [24]: 43).

Umat Islam meyakini, petir dimaknai bukan sekadar peristiwa alam semata. Petir atau guruh diabadikan menjadi salah satu nama surat dalam Alquran, yaitu surah ke-13, ar-Ra'du. Setidaknya, ada tiga istilah dalam Alquran yang merujuk pada makna petir, yaitu ar-Ra’du, ash-Showa’iq, dan al -Barq. 

Para Ahli tafsir mendefenisikan ar-Ra’du lebih dekat dengan makna suara petir atau geledek. Sedangkan, ash-Shawa’iq dan al-Barq maknanya lebih dekat untuk istilah kilatan petir, yaitu cahaya yang muncul beberapa saat sebelum adanya suara petir. Demikian dipaparkan Dr Muhammad Luqman As Salafi dalam Rasy Al-Barad Syarh Al-Adab Al Mufrod (381).

Kronologi petir ini sudah dijabarkan dalam Alquran. Firman Allah SWT, “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)-nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih. Maka, kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan, seperti) gunung-gunung. Maka, ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (QS an-Nur [24]: 43).

Ketika menafsirkan surah al-Baqarah (2) ayat 19, As Suyuthi mengatakan bahwa ar-Ra’du adalah malaikat yang ditugasi mengatur awan. Dalam tafsir Jalalain juga disebutkan bahwa ar-Ra'du adalah suara malaikat. Sedangkan, al-Barq (kilatan petir) adalah kilatan cahaya dari cambuk malaikat untuk menggiring mendung.

Secara umum, umat Islam meyakini ar-Ra’du sebagai malaikat yang ditugasi mengatur awan atau suara dari malaikat tersebut yang tengah bertasbih dan mengatur awan. Sedangkan, al-Barq atau ash-Showa’iq adalah kilatan cahaya dari cambuk malaikat yang digunakan untuk menggiring mendung. 

Ibnu Abbas menambahkan, sesungguhnya petir adalah malaikat yang meneriaki (membentak) untuk mengatur hujan sebagaimana pengembala ternak membentak hewannya. (Adabul Mufrod/ 722).

Jadi, ketika mendengar petir atau guntur, Nabi SAW mengajarkan doa, “Subhanalladzi sabbahat lahu (Mahasuci Allah yang petir bertasbih kepada-Nya)”. Atau, “Subhanalladzi yusabbihur ro’du bi hamdihi wal mala-ikatu min khiifatih (Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya).” | sumber : republika

VIVA
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar