Kegagalan menghidupkan kembali bahasa yang telah mati menyebabkan orang memikirkan cara lain untuk mendapatkan sebuah bahasa universal. Cara yang dimaksud adalah menggunakan sebuah bahasa modern yang juga merupakan bahasa nasional. Ada beberapa bahasa nasional yang sempat diperjuangkan menjadi bahasa universal, yaitu bahasa Prancis dan bahasa Inggris.
Pada 1665-1750, Prancis merupakan negara menonjol di Eropa, baik secara politis maupun intelektual. Pada masa itu Prancis memiliki jumlah penduduk amat besar (sekitar 20 juta orang), memiliki tentara paling besar dibanding dengan negara lain, dan memiliki jaringan diplomatik yang dikelola dengan baik.
Dari Prancis pulalah ide-ide mengenai ilmu pengetahuan dan buah pikiran manusia mulai muncul. Banyak pemikir pada masa itu berasal dari Prancis, seperti Montesque, Voltaire, Rousseau, Diderot, Edward Gibbon. Semua yang diterbitkan dalam bahasa Prancis segera dapat diterima oleh kaum terpelajar di seluruh Eropa. Yang belum ditulis dalam bahasa Prancis segera diterjemahkan ke dalam bahasa itu. Selain itu, bahasa Prancis menjadi bahasa pengantar internasional.
Oleh karena pengaruh bahasa Prancis itulah, seorang tuan tanah Prancis menulis surat kepada anaknya dengan mengatakan, Seorang yang mengerti bahasa Prancis dapat melanglangbuana ke seluruh dunia tanpa rasa takut tidak dapat dipahami menjadikan dirinya dapat diterima dengan baik di berbagai daerah dan hal itu tidak mungkin dilakukan dengan bahasa lain.