BANDA ACEH – Acara Kota Puisi ke 4 dilaksanakan di halaman komplek Makam Meurah Pupok dan Belanda (Kerkhof), Blower, Banda Aceh. Acara tersebut mengangkat tema Mahabbah Rumi-Fansuri-Shirazi, untuk memperingati Maulana Jalaluddin Rumi, penyair Persia-Turki yang meninggal dunia pada 17 Desember 1273, Konya, Turki.

Acara tersebut juga peringatan Sa'adi El Shirazi yang wafat pada 9 Desember 1291, di Syiraz, Iran. Salah satu puisi Sa’adi dipahat di marmar nisan sultan Samudra Pasai.

Sebagian besar hadirin membaca puisi Maulana Jalaluddin Rumi yang dibawa oleh Syukri Isa Bluka Teubai, seorang penyair muda, alumnus Sekolah Hamzah Fansuri. Acara yang dihadiri belasan orang dari berbagai kalangan dan usia tersebut dimulai sekira pukul 17:00 WIB.

Dalam acara yang dipandu oleh Teuku Mukhlis, alumnus Sekolah Hamzah Fansuri, terlihat penyair Din Saja, penyair Heri Efrian, aktivis Islam dan guru Rahmi Soraya, aktifis kebudayaan Fery Mardiansyah, penyair Laskar Syu’ara 227 FLP Banda Aceh, dan beberapa alumnus Sekolah Hamzah Fansuri.

“Rumi itu orang cerdas. Puisi-puisinya bermakna dalam dan berguna untuk pemantapan jiwa. Ia banyak membaca dan mendengar. Kita juga harus banyak mendengar dan membaca. Rumi tidak berencana menjadi penyair atau menulis puisi, tapi ia belajar terus dan menulis untuk mencerahkan kehidupan manusia, makanya ia menjadi orang besar sepanjang zaman. Hamzah Fansuri juga begitu,” kata Din Saja.

Pemandu acara mengatakan, yang menarik di acara tersebut, ada seorang anak bernama Aliffia Jasmin, kelas 2 SDN Punge Blang Cut yang juga binaan Ruman Aceh, membaca sebuah puisi berjudul ‘Guruku” karyanya sendiri.[](tyb)