BANDA ACEH – Juru Bicara Tim Pengawal UUPA, Muhammad MTA, mengaku tidak bisa memberikan pandangan khusus terkait perayaan damai Aceh yang dilaksanakan pada 14-15 November 2015. Pasalnya dia belum menemukan substansi yang dibahas di perayaan tersebut.
“Namun perayaan yang tidak dilakukan pada 15 Agustus lalu, dimana tanggal tersebut hari penandatanganan MoU Helsinki oleh para pihak (GAM-RI), ini termasuk dalam kategori a-historis,” ujarnya kepada portalsatu.com, Sabtu, 14 November 2015 dinihari.
Menurut Muhammad MTA hal itu adalah tindakan yang ingin mereduksi sakralistik perdamaian. “Disadari atau tidak, itu bisa mereduksi sakralistik,” katanya.
Di sisi lain, dia menilai kegiatan tersebut bakal menjadi reuni kauman jika di dalamnya hanya mendengar ceramah-ceramah tokoh yang kemudian bercerita nostalgia-nostalgia perdamaian. “Tidak bermanfaat apa-apa selain menghabiskan energi untuk 'peutimah-peutimah' jas dan dasi,” katanya.
Dia berharap acara tersebut bisa menjawab dan membahas progress perdamaian. “Jangan hanya pidato-pidato kita jaga perdamaian, kita rawat perdamaian, tetapi tidak pernah menjalankan perdamaian yang substantif bagi rakyat Aceh,” kata pria yang juga pernah menjadi tahanan politik tersebut.[]