Pada bulan November 2015, saya berniat untuk mengunjungi kakak ipar saya yang berada di Bosnia-Herzegovina. Kakak ipar saya adalah seorang wanita asli yang berasal dari Bosnia dan juga Islam dari lahir. Alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi salah satu negara ini. Kakak ipar saya tinggal di kota Zivinice, yang tidak jauh dari ibukota Bosnia, Sarajevo.

Bosnia-Herzegovina adalah sebuah negara di Eropa bagian tenggara. Sarajevo adalah ibu kota dan kota terbesarnya. Sebagian besar orang Bosnia adalah muslim. Pemeluk agama Islam sebagian besar berasal dari etnis Bosnia. Saya terkejut saat melihat suasana yang tidak jauh yang saya rasakan seperti di Aceh. Terdapat mesjid di mana-mana. Bangunan mesjidnya sangat unik, dan setiap tiba waktu shalat saya dapat mendengarkan Azan, Subhanallah.

Tidak heran melihat mesjid ada di mana-mana di kota Bosnia, karena Bosnia merupakan salah satu negara paling multireligius di daerah Balkan. Di negara tersebut memang tidak ada agama yang membentuk mayoritas mutlak, hingga pada abad ke-20 Bosnia menjadi satu-satunya tempat di Eropa di mana terdapat gereja, masjid, dan sinagog yang berdiri berdampingan.

Di dekat rumah kakak ipar saya terlihat mesjid dan juga terlihat orang-orang Bosnia shalat di mesjid. Dan kebanyakan wanitanya memakai jelbab. Alhamdulillah sekali bisa merasakan seperti di kampung halaman sendiri. Kakak ipar saya juga membawa saya ke kota Mostar di mana di situ terkenal akan jembatan legendaris (Staari Most) tanda kejayaan Islam di Bosnia.

Pada masa itu Islam sangat berjaya di Bosnia. Hal itu dibuktikan oleh keberadaan Stari Most yang dirancang oleh arsitek Ottoman (Turki) Mimar Hayruddin, murid dari arsitek terkenal Mimar Sinan.

Ketika kami berjalan-jalan di kota Mostar, ketika tiba waktunya shalat kami pun tidak merasa khawatir untuk mencari tempat beribadah karena banyaknya mesjid yang dapat kami temukan dan bisa beribadah dengan tenang di mesjid bersama warga Bosnia lainnya. Sungguh indahnya kota Bosnia dengan banyaknya masyarakat muslim lainnya yang saya temukan.

Bosnia juga terdapat banyaknya keturunan Turki dengan makanan khas yang sering mereka makan yaitu “Cevap”. “Cevap” adalah makanan khas Bosnia, yang seperti Kebab. Sungguh sangat bersyukur dapat melihat negara lain yang penduduknya muslim dan mudahnya menemukan mesjid dan mendengarkan Azan di Benua Eropa.[](tyb)

Laporan Fauziah Aida Fitri, mahasiswa International Accounting Program Universitas Syiah Kuala yang tengah berada di Bosnia-Herzegovina.