JAKARTA – Pemerintah Myanmar kini tengah menjadi sorotan dunia internasional. Dengan alasan memburu pelaku penyerangan markas kepolisian, sepasukan militer malah menyerbu wilayah permukiman etnis Rohingya di Negara Bagian Rakhine.
Sejak 9 Oktober, diperkirakan lebih dari seratus orang tewas dan ratusan lainnya ditahan militer Myanmar. Sekitar 150 ribu warga tidak mendapat bantuan pasokan pangan dan obat-obatan, puluhan wanita mengaku diperkosa dan lebih dari 1.200 rumah warga dibumihanguskan. Angka itu belum termasuk 30 ribu warga yang mengungsi.
Serbuan dilakukan dengan senjata lengkap. Termasuk penggunaan helikopter tempur yang disebut-sebut dipakai untuk menembaki warga tidak bersenjata.
Tak hanya militer Myanmar, kecaman juga diarahkan kepada pejuang demokrasi Aung San Suu Kyi. Wanita yang pernah mendapatkan nobel perdamaian ini diam saja saat serangan militer terjadi di selatan negerinya, bahkan tak ada upaya untuk mencegahnya.
Diamnya Suu Kyi membuat dunia marah. Warga di seluruh belahan dunia mendesak agar lembaga di Swiss untuk mencabut nobel yang diberikan kepada Suu Kyi.
Tragedi kemanusiaan ini bukan hanya sekali ini terjadi di Myanmar. Hampir setiap tahun masalah yang sama terulang kembali. Gara-gara itu pula, ribuan warga etnis Rohingya memilih menjadi pengungsi ke negara-negara melalui lautan.
Pembunuhan dan pembantaian besar-besaran yang dilakukan militer Myanmar terhadap kaum muslim juga pernah terjadi di tanah Eropa. Tragedi itu berlangsung antara tahun 1992 sampai 1995, di mana bangsa Serbia melakukan penyerbuan terhadap etnis Bosnia.
Tidak diketahui secara pasti penyebab Perang Bosnia dimulai. Namun, krisis antara etnis Muslim Bosnia, Serbia dan Kroasia sudah berlangsung sejak Februari 1992, dan mulai menjadi perang terbuka sejak 6 April.
Aparat Serbia beralasan, penyerangan terhadap permukiman Muslim Bosnia dimulai pada 1 Maret, di mana terjadi serangan terhadap sebuah pesta pernikahan yang diduga dilakukan warga Bosnia.
Sementara, Amerika Serikat dan Komunitas Ekonomi Eropa (EEC) menduga serangan terjadi setelah mereka memberikan jaminan kepada Bosnia untuk lepas dari Serbia, pada 6 April 1992.
Perang ini tak hanya menghancurkan kota-kota di Bosnia. Sejumlah warga sipil, baik pria, wanita maupun anak-anak dikumpulkan lalu dibantai dengan sadis. Seolah, bangsa Serbia sedang memerangi kelompok bersenjata.
Kejadian itu menyebabkan 101.040 orang tewas atau hilang, di mana 31.583 adalah warga sipil, dan 5.100 lainnya tidak diketahui sebab kematiannya. Meski terjadi pembantaian besar-besaran, dunia tak bisa bertindak apa-apa karena tidak memiliki kewenangan untuk mencegah pembunuhan tersebut.
Akibat tekanan dunia, Serbia akhirnya mengakui kekalahannya. Mereka menandatangani perjanjian dan menjamin kemerdekaan Bosnia dan Kroasia.[] sumber: merdeka.com