BANDA ACEH – Salah satu wartawan tirto.id, Reja Hidayat, dilaporkan mengalami tindak kekerasan saat meliput rencana Aksi Bela Islam Jilid III, di dekat Markas FPI di Petamburan, Jakarta Pusat, Rabu, 30 November 2016 sekitar pukul 14.00 WIB. Reja yang merupakan salah satu wartawan asal Aceh, yang bertugas di Jakarta ini membenarkan hal tersebut.
Dia menceritakan kronologis pemukulan ini kepada portalsatu.com, Kamis, 1 Desember 2016. Saat itu, ada seorang pria tambun yang menghardik Reja yang sedang menunggu Ketua FPI Habib Rizieq Shihab, di markas FPI kawasan Petamburan.
“Dari mana ente?” Kisah Reja menirukan teguran lelaki itu.
Sebagai wartawan, Reja kemudian memperkenalkan dirinya dari media online tirto.id. Namun, pria tambun tersebut malah meminta Reja untuk menghapus berita yang ditulisnya.
“Saya enggak buat berita,” kata Reja kepada lelaki tersebut. Sayangnya, pria tambun ini tidak puas. Dia marah tanpa alasan jelas dan memukul bahu Reja.
“Masuk ente ke sana (rumah warga) sembari mendorong, kamu tulis apa tadi? Hapus,” hardik pria tambun tadi lagi seperti dikutip Reja dalam kronologis kejadian pemukulan terhadapnya.
Reja yang saat itu belum menuliskan laporan untuk media tempatnya bekerja memperlihatkan bukti isi handphone. Namun pria yang tak diketahui namanya tersebut malah kembali memukul kepala bagian belakang wartawan tirto.id.
“Lalu (pria itu) menampar muka saya. Saya tidak ada buat berita,” ujar mantan Pimpinan Umum UKM Pers DETaK Unsyiah tersebut.
Reja kemudian mengatakan kepada pria tambun tersebut, bahwa ia sedang menunggu Habib Rizieq di depan pintu gerbang yang sedang mengikuti rapat GNPF MUI. “Lillahi ta'ala, saya enggak buat berita,” kata Reja seperti saat dia meyakinkan pria tambun tersebut.
Dia kemudian diusir dari rumah warga di kawasan markas FPI Petamburan. Reja juga mengaku mendapat initimidasi saat didorong keluar dari gang tersebut.
Sesampai di ujung gang ada dua wartawan lain. Salah satunya dari media Gatra, dan satu lagi dari JPNN. Menurut Reja, kedua wartawan ini juga diusir oleh pria tambun itu.
“Saya berinisiatif mencari tahu nama lelaki memukul saya. Saya sembari menyodorkan tangan kanan untuk bersalaman dengan lelaki tersebut. Bukannya menyambut baik, tetapi menghardik lebih keras, saya tidak percaya sama media,” kata Reja lagi.
Dia kemudian mundur beberapa langkah dan menjauh dari lokasi dengan dua wartawan tersebut.
Seperti diketahui, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI) merencanakan Aksi Bela Islam Jilid III di Monas, Jakarta, Jumat, 2 Desember 2016. Aksi yang kemudian dikenal dengan Aksi 212 ini sejatinya dilakukan sebagai reaksi atas kasus penistaan agama yang melibatkan Gubernur DKI Jakarta non aktif, Basuki Tjahaja Purnama.
Koordinator GNPF MUI, Habib Rizieq, sebelumnya telah sepakat untuk menggelar aksi ini secara damai. Agenda aksi juga hanya berisi zikir, doa, tausyiah dan salat Jumat bersama di Monas.[]