LHOKSEUMAWE – Pemkab Aceh Utara tahun 2016 mengalokasikan anggaran pengadaan bibit lada bantuan untuk petani di sembilan kecamatan. Namun, kualitas bibit tanaman tersebut dipertanyakan, karena ada yang mati setelah ditanam.
Ada yang mati pak, tapi belakangan diganti dengan bibit baru di tahun ini oleh dinas. Kata orang dinas kualitas Petaling 1 dari Bogor. Apakah benar jenis bibit ini memang bisa menghasilkan lada berkualitas? Saya tidak tahu, kata sumber yang tidak ingin disebutkan identitasnya kepada portalsatu.com, pekan lalu.
Sumber itu mengatakan, apabila bibit yang disalurkan tidak sesuai spesifikasi pengadaan yaitu bibit yang sudah bersertifikat Petaling 1, dikhawatirkan kualitas lada yang dihasilkan saat panen juga tidak baik.
Bibit itu disalurkan ke kelompok tani di setiap desa di sembilan kecamatan di Aceh Utara, pengadaan tahun 2016, tapi sebagian bibit baru disalurkan oleh rekanan pada Januari 2017, ujar sumber itu.
Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Aceh Utara Kastabuna dihubungi portalsatu.com, Selasa, 31 Januari 2017, membantah ada pencampuran bibit lada Petaling dengan bibit asal Medan.
Kastabuna mengakui ada bibit yang mati. Namun, kata dia, bibit itu sudah diganti oleh rekanan. Sesuai addendum kontrak, kata Kastabuna, bibit yang mati akibat iklim harus diganti dengan bibit baru. Ia menyebut hal itu tidak menyalahi aturan kontrak walau harus disalurkan setelah masa kontrak habis.