FORUM Kota Pusaka Aceh (FKPA) yang terbentuk dalam sebuah rapat antar organisasi di Forum LSM Aceh, Banda Aceh, Jumat, 21 April 2017, memiliki visi dan misi yang terukur. Lalu mana sajakah yang termasuk Kota Pusaka di Aceh?
Bidang penelitian FKPA masih menghimpun berbagai informasi awal tentang kota-kota tersebut. Kini, baru ditemukan ada sekira 42 kota yang dapat dijadikan kota pusaka, baik itu sekarang masih menjadi kota atau sudah berubah menjadi kampung atau bahkan sudah tergerus ke pantai ditelan laut.
Peneliti sejarah dan kebudayaan Islam, Taqiyuddin Muhammad, yang menjadi orang penting dalam penelitian tersebut, berpendapat bahwasanya jumlah kota pusaka itu juga akan bertambah seiring gerak penelitian. Dan FKPA akan membuat sebuah pangkalan data untuk ini semua.
Taqiyuddin Muhammad mengatakan, tujuan dari FKPA adalah memberikan hak kepada sejarah dalam bidang ilmu pengetahuan, kesejahteraan, dan ingatan, sebagai membalas utang budi peradaban kepada para tokoh zaman silam, yang karyanya masih bisa dipelajari dan dikenang di zaman ini. Pendapat ini disetujui oleh anggota forum yang hadir.
Ada banyak bandar (pelabuhan/kota) yang tercatat di peta tua, seperti peta yang digambarkan oleh Muhammad Ghauts, seorang laksamana dan duta besar Kesultanan Aceh Darussalam pada masa Sultan Syah Mansur Aceh, sekira tahun 1869 Masehi. Banyak bandar ditulis di sana, dari Aceh sampai Bali. Bandar Bali, di kota itu Syah Mansur Aceh menempatkan seorang wazir. Begitu juga di Bandar Burnie, dan Bandar Patani.
Ada yang menarik di peta itu, kita menemukan nama asli dari kota yang kita kenal dengan nama berbeda sekarang. Misalnya Bandar Sumatra. Ini mengartikan bahwasanya Bandar Sumatra adalah ibukota Kesultanan Sumatra (Samudra Pasai). Bandar ini terletak di sekitar makam Sultan Malik Ash-Shalih.
Selain itu ada Bandar Teluk Samawi yang kini disebut Lhokseumawe. Hal ini membantah dongeng asal kata Lhokseumawe dari kata lhok meuwewe. Itu hanyalah ulok-ulok bikinan penjajah. Teluk Samawi, nama asli Lhokseumawe.
