Forum Kota Pusaka Aceh
Latar Belakang
Dua kawasan besar di belahan timur dunia telah diperkenalkan sebagai India dan Cina oleh para ahli geografi Muslim Arabo-Persia sejak abad ke-3 Hijriah (ke-9 Masehi). Sumatra dan pulau-pulau lain di sekitarnya sejak itu pula telah dikenal dengan satu sebutan umum: Kepulauan India (Jaza'ir Al-Hind).
Nama dari beberapa tempat di ujung utara pulau Sumatra ditemukan dalam kepustakaan geografi Islam paling awal itu beserta deskripsi yang kendati singkat namun masih dapat digunakan untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah mana yang dimaksud. Beberapa nama wilayah di ujung utara Sumatra kerap disebut dalam kepustakaan tersebut semisal Ramani atau Ramni untuk satu wilayah di barat laut Aceh hari ini; Jawah atau Javah untuk satu wilayah di pantai utara Aceh, dan Fanshur untuk satu wilayah di selatan Aceh.
Kepustakaan geografi Islam itu, secara umum, telah menginformasikan tentang adanya pelabuhan-pelabuhan, bandar-bandar atau kota-kota pesisir di ujung utara Sumatra yang telah dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai tempat di Asia Daratan.
Sejarah awal pertumbuhan dan perkembangan pelabuhan-pelabuhan itu sampai kini masih belum dapat diterangkan oleh karena belum ditemukan sumber-sumber autentik untuk itu. Namun sesuatu yang dapat dipastikan bahwa pelabuhan-pelabuhan atau kota-kota pesisir itu telah mengalami kemajuan dan kepesatan seiring semakin besarnya kepentingan perdagangan, bahkan lebih dari itu, justru semangat perluasan wilayah Islam telah menjadi faktor paling utama dalam tumbuhnya kota-kota Islam serta perubahan wajah kepulauan India, khususnya di bagian yang paling awal bersentuhan dengan gerak hijrah dan da'wah.
Dari semangat perluasan wilayah Islam itulah kemudian dipahami asal-usul kemunculan negara-negara Islam terawal di kepulauan India. Negara yang dibangun oleh Sultan Al-Malik Ash-Shalih, sejauh didukung oleh bukti-bukti autentik, merupakan negara pertama berlandaskan Islam dan diperintah oleh seorang yang bergelar sultan. Almarhum Sultan Al-Malik Ash-Shalih wafat pada 696 Hijriah (1297 Masehi) adalah pendiri dinasti Islam yang sempat memerintah sampai dengan dua abad lebih. Ibukota pemerintahan dinasti ini adalah sebuah kota yang bernama dengan Syummuthrah (Samathar; atau yang kemudian lazim disebut dengan Sumatra). Kota ini terletak di daerah muara sungai Pasai di pesisir utara Aceh (wilayah Aceh Utara, hari ini).
Kota ini pernah dikunjungi oleh Ibnu Baththuthah, penjelajah Muslim terbesar asal Thanjah di Maghrib (Maroko), pada pertengahan abad ke-8 Hijriah (ke-14 Masehi). Ia mendeskripsikan kota yang namanya dilafal dengan “Sumuthrah” sebagai sebuah kota besar dan indah dikelilingi benteng dan menara-menara dari kayu.
Itulah kota Islam pertama di Asia Tenggara sejauh didukung oleh bukti-bukti peninggalan sejarah yang ditemukan sampai dengan waktu ini.
Bukti-bukti peninggalan sejarah yang pernah ditemukan di berbagai tempat di Aceh menunjukkan kenyataan bahwa kota-kota Islam semakin bermunculan setelah kota pertama itu semisal Lamuri, Peudada, Pedir, Aceh, Daya.
Tome Pires dalam The Suma Oriental (Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins: Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri Cina) yang ditulisnya pada 1512-1515 menyebut kerajaan-kerajaan dan negeri-negeri yang hari ini berada dalam wilayah Aceh:
1. Kerajaan Aceh
2. Lambri (Lamuri)
3. Negeri Biar (Biheu?)
4. Kerajaan Pedir (Pidie)
5. Negeri Ayilabu (Ie Leubu)
6. Kerajaan Lide (Meurdu?)
7. Kerajaan Pirada (Peudada)
8. Kerajaan Pase/Sumatra (Sumatra)
9. Kerajaan Mancopa/Daya
10. Kerajaan Singkil
Pada 1840, “Acheen” karya John Anderson diterbitkan di London, dan di dalamnya, ia menyebutkan bandar-bandar di bawah kekuasaan Sultan Aceh. Di pantai barat:
1. Tapoos (?)
2. Sebadi (Pasi Seubadeh-Bakongan Timur?)
3. Pulo Dua (Bakongan?)
4. Kalavat (Kluet)
5. Utara dan selatan Mucki (Meukek)
6. Labuan Haji (Labuhan Haji)
7. Manghin (Manggeng)
8. Scimeyon (Kuala Seumayam-Darul Makmur, Nagan Raya?)
9. Tareepuli (?)
10. Taddow (?)
11. Tarang (Kuala Trang-Kuala, Nagan Raya)
12. Senangkan (Seunagan)
13. Annalaboo (Meulaboh)
14. Pulo Ryah (?)
15. Singkel (Singkil)
16. Ayam Dammah (?)
17. Terooman (Trumon)
18. Rambong (Rambong-Bakongan)
19. Saluhat (Seuleukat-Bakongan Timur?)
20. Soosoo (Susoh)
21. Kevala Batu (Kuala Batu)
22. Bahroos (Barus)
23. Tampattuan (Tapak Tuan)
24. Sama Dua
Sementara bandar-bandar di pantai utara ialah:
1. Acheen (Aceh)
2. Pedada (Peudada)
3. Lawang (Laweung?)
4. Pedir atau pantai Betel-nut (Pidie)
5. Pakan (?)
6. Selu (?)
7. Burong (?)
8. Sarong (?)
9. Murdoo (Meurdu)
10. Samalangan (Samalanga)
11. Passangan (Peusangan)
12. Junka (Jangka)
13. Teluk Samoy (Teluk Samawi; Lhokseumawe)
14. Chunda (Cunda)
15. Passy (Pasai)
16. Curtoy (Keureuto)
Sebagian bandar dan tempat yang disebutkan Anderson belum dapat teridentifikasi dengan baik, namun tampak jelas pertumbuhan bandar-bandar dan kota-kota Islam sepanjang pesisir Aceh telah mengalami perkembangan besar sejak abad ke-7 hijriah (ke-13 Masehi).
Informasi lebih akurat tentang bandar-bandar dan kota-kota Islam di Aceh justru diketahui dari sebuah peta yang dikirim bersama surat Aceh Darussalam ke Istanbul di paroh kedua abad ke-13 Hijriah (ke-19 Masehi). Peta itu bertandatangan Muhammad Ghauts Saiful 'Alam Syah, duta Almarhum Sultan Manshur Syah ke berbagai negara di dunia. Dengan demikian, peta itu dapat disebut dengan Peta Muhammad Ghauts.
Peta Muhammad Ghauts menyebut sejumlah besar bandar di Asia Tenggara, dan di antaranya adalah bandar-bandar atau kota-kota yang hari ini berada dalam wilayah Aceh. Bandar-bandar tersebut dari pantai timur ke selatan ialah:
1. Bandar Tamian (Tamiang)
2. Bandar Farlak (Peurlak)
3. Bandar Sumatara (Sumatra)
4. Bandar Teluk Samawi (Lhokseumawe)
5. Bandar Fasangan (Peusangan)
6. Bandar Samalanka (Samalanga)
7. Bandar Mardu (Meurdu)
8. Bandar Fidir (Pidie)
9. Bandar Aceh Darussalam (ibukota kesultanan)
10. Bandar Salun (Lhoeng?)
11. Bandar Daya (Lamno)
12. Bandar Teluk Krueng
13. Bandar Patik (Patek)
14. Bandar Teluk Gelumpan (Teluk Geulumpang)
15. Bandar Rikas
16. Bandar Sabi (Sabei)
17. Bandar Tanum (Teunom)
18. Bandar Waila
19. Bandar Bubun
20. Bandar Melabuh
21. Bandar Tanagan (Nagan)
22. Bandar Kuala Batu
23. Bandar Susuh (Susoeh)
24. Bandar Mankin (Manggeng)
25. Bandar Labun Haji (Labuhan Haji)
26. Bandar Mukik (Meukek)
27. Bandar Samadua
28. Bandar Tempat Tuan (Tapak Tuan)
29. Bandar Trankan (Trangon?)
30. Bandar Rasian (Pasi Rasian/Ujung Padang Rasian?-Pasi Raja)
31. Bandar Asahan (Pasi Kuala Asaha-Kluet Utara/Ujung Padang Asahan-Pasi Raja?)
32. Bandar Klut
33. Bandar Bakunkan (Bakongan)
34. Bandar Trumun (Trumon)
35. Bandar Buluseuma (Buloh Seuma)
36. Bandar Sinkil
37. Bandar Sigulai
38. Bandar Simulur
39. Bandar Tuanku
Pada peta juga terlihat kota-kota besar di bagian tengah Aceh:
1. Bukit (Bukit Tusam, Aceh Tenggara?)
2. Laut Tawa
3. Gayo
4. Farik (?)
Dengan demikian, jumlah bandar dan kota Islam dalam abad ke-13 Hijriah (ke-19 Masehi) yang masuk dalam wilayah Aceh hari ini tidak kurang dari 42 bandar dan kota. Jika ditambah dengan kota-kota yang tidak dimunculkan dalam Peta Muhammad Ghauts seperti Lambri atau Lamuri, Biheu, Ie leubeu, Peudada dan beberapa lainnya, maka jumlah kota bersejarah di Aceh dapat mencapai lebih dari 47 kota.
Berdasarkan dokumen-dokumen sejarah tersebut diketahui bahwa kota-kota itu telah ada, setidaknya, semenjak waktu yang telah berselang 200 tahun dari hari ini, bahkan sebagiannya diketahui secara pasti telah tumbuh beratus tahun lebih lampau dari itu.
Kota-kota itu merupakan panggung pelbagai peristiwa sejarah dengan berbagai tingkat luas pengaruhnya, baik lokal, kawasan maupun dunia. Pelbagai peristiwa pada gilirannya telah meninggalkan bekas serta rekaman yang dapat menghidupkan ingatan tentang perjalanan sejarah masyarakat penghuni kota-kota itu mulai masa tumbuh, berkembang sampai kemerosotannya. Sejarah itu sendiri merupakan sumber pelajaran dan inspirasi sekaligus memori yang dapat mengukuhkan identitas serta menjaga kepribadian masyarakatnya.
Kota-kota itu juga merupakan tempat penumpahan berbagai gagasan dalam mengatur dan memanfaatkan lingkungan hidup. Perkembangan dan perubahan pola tata ruang perkotaan dari masa ke masa dapat pula memperlihatkan bagaimana bentuk kehidupan dan hubungan sosial di dalamnya telah berlangsung. Semua ini merupakan pengetahuan teramat bernilai yang dapat digunakan bagi penentuan arah kehidupan yang lebih arif di masa depan.
Lain itu, kota-kota tersebut merupakan salah satu sumber inspirasi dari berbagai karya cipta masyarakat penghuninya di berbagai lapangan kehidupan. Sebagian karya cipta itu mengakar dan mentradisi dalam kehidupan masyarakatnya sehingga menjadi bagian identitas serta warisan yang perlu dilestarikan demi mempertahankan keluhuran akal budi yang telah dimiliki di sepanjang sejarahnya.
Nilai-nilai sejarah, pengetahuan dan kebudayaan yang dimiliki kota-kota itulah yang menjadi alasan mengapa kota-kota bersejarah itu kemudian perlu memperoleh perhatian yang besar baik dari pemerintah maupun masyarakat. Namun sayang, secara umum, seluruh bandar dan kota yang ditemukan nama-namanya dalam dokumen-dokumen sejarah Aceh tersebut belum memperoleh perhatian sebagaimana mestinya dari berbagai segi yang meliputi:
1. Penelitian dan pengkajiannya;
2. Pendataan dan inventarisir warisan kebudayaannya;
3. Perlindungan dan pelestariannya;
3. Publikasi serta pengajarannya dalam ruang pendidikan;
4. Pemberdayaannya sebagai aset kebudayaan dan pariwisata.
Untuk mencurahkan perhatian sepenuhnya kepada kota-kota bersejarah yang merupakan pusaka Aceh Darussalam inilah maka sejumlah lembaga masyarakat telah sepakat untuk membentuk sebuah forum yang diberinama dengan Forum Kota Pusaka Aceh.
Visi Forum Kota Pusaka Aceh
1. Memberikan bagi sejarah Aceh haknya dalam ruang georgafis dan lingkungan hidup sebagai museum yang hidup (living museum).
2. Mengangkat kembali nilai-nilai sejarah, kebudayaan, pengetahuan dan estetika yang dimiliki kota pusaka (bersejarah) untuk mengukuhkan serta melestarikan citra dan karakteristiknya sebagai kota yang memiliki masa lalu.
3. Membangkitkan rasa kecintaan dan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap kota pusaka (bersejarah) dalam rangka mengikat masa lalu, masa sekarang dan masa depan dalam satu kesadaran untuk memajukan kehidupan berbangsa dan bertanah air.
4. Memperjelas keanekaragaman kota pusaka (bersejarah) untuk saling mengakui dan menghormati masing-masing keistimewaan sebagai upaya mewujudkan interaksi yang baik (ta'aruf) dan saling memajukan di antara seluruh kota pusaka (bersejarah).
4. Menumbuhkan sumber daya ekonomi yang baru lewat pemberdayaan keunikan kota pusaka (bersejarah) sebagai objek pariwisata kebudayaan dan peradaban dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat penghuninya.
Misi Forum Kota Pusaka Aceh
1. Melakukan penelitian dan pengkajian yang komprehensif untuk seluruh kota pusaka (bersejarah) dalam wilayah Aceh, mengadakan berbagai bentuk pertemuan ilmiah, serta membangun pangkalan data yang menghimpun berbagai data dan informasi menyangkut kepusakaan kota.
2. Menyiarkan pelbagai informasi menyangkut kota pusaka sekaligus sosialisasi serta mendorong tumbuhnya sikap sadar kota pusaka bagi seluruh lapisan masyarakat Aceh.
3. Mengupayakan berbagai bentuk perlindungan hukum (legeslasi/advokasi) bagi seluruh kota pusaka (bersejarah) untuk tujuan pelestariannya.
4. Mempromosikan seluruh kota pusaka dalam wilayah Aceh ke dunia luar serta membangun hubungan dengan berbagai pihak dalam pelbagai lapangan menyangkut kota pusaka.
5. Memberikan saran-saran dan pertimbangan-pertimbangan kepada berbagai pihak yang berkepentingan mengenai penyusunan tata ruang yang mengindahkan kelestarian kota pusaka.
6. Membangun komunikasi dan aliansi yang intens dengan berbagai organisasi peduli kebudayaan Aceh dalam rangka mewujudkan kekuatan bersama demi pelestarian dan pengelolaan yang berkelanjutan bagi kota pusaka.
Sumber Bacaan:
1. Buletin Cipta Karya, Mengembalikan Identitas Kota Pusaka, Edisi 06, Tahun XIII, Juni 2015.
2. John Anderson, Acheen and The Ports on The North and East Coasts of Sumatra, London: 1840
3. Syawqiy 'Abdul Qawiy Utsman, Tijaratul Muhith Al-Hind fi 'Ashr As-Siyadah Al-Islamiyyah, Kuwai: 'Alamul Ma'rifah, 1990.
4. Tome Pires, The Suma Oriental of Tome Pires, Vol. I, London: The Hukluyt Society, 1944.
5. Yusuf Asy-Syirwani, Akhbar Ash-Shin wal Hind li Sulaiman At-Tajir wa Abi Zaid As-Sirafiy, Kairo: Ad-Dar Al-Mishriyyah Al-Lubnaniyyah, Ramadhan 1420/Januari 2000.
6. Widjaja Martokusumo, “Kota (Pusaka) Sebagai Living Museum”, (Makalah disampaikan pada Temu Pusaka Indonesia 2014, Jakarta).[]
Sumber: Dokumen Forum Kota Pusaka Aceh (FKPA, disusun oleh Taqiyuddin Muhammad. FKPA adalah gabungan puluhan organisasi lintas bidang untuk menyelamatkan dan melestarikan warisan budaya di Aceh dan sekitarnya.
