BANDA ACEH – Maraknya kasus penganiayaan dan pelecehan seksual terhadap anak-anak di wilayah Aceh saat ini kian memprihatinkan. Dalam dua bulan terakhir, sejumlah kasus penganiayaan dan pelecehan seksual yang menimpa anak-anak di bawah umur terus mengalami peningkatan, seperti yang baru-baru ini terjadi di Aceh Utara, Pidie, dan Aceh Besar.

Fenomena tersebut memunculkan ragam bentuk keprihatinan dari sejumlah kalangan. Salah satunya datang dari Korps HMI-Wati (Kohati) Banda Aceh.

Ketua Umum Kohati Cabang Banda Aceh, Erna Ufni mengatakan bahwa kasus kekerasan yang menimpa anak-anak saat ini haruslah menjadi tanggung jawab semua pihak.

Ia mengungkapkan kekecewaannya kepada pemerintah Aceh yang sedikit sekali mengalokasikan dana dalam mencegah dan menanggulangi tindakan kriminal yang menimpa anak di bawah umur.

“Saya sangat berharap hari ini kepada semua pihak dan yang utama pemerintah Aceh memberi perhatian kusus terutama dari segi anggaran untuk melakukan rehabilitas korban dan upaya pencegahan,” kata Erna yang juga Menteri Pemberdayaan Dewan Mahasiswa UIN Ar-Raniry.

Menurut Erna, kasus yang terjadi saat ini sangat mengancam psikologis dan kehidupan anak-anak yang masih memiliki masa depan.

“Hal tersebut sangat mengancam psikologis anak dan menghancurkan masa depannya. Kita berharap pemerintah benar-benar serius dalam mengusut semua kejahatan jenis ini,” kata Erna.

Sebagaimana diketahui,  bahwa dalam beberapa waktu terakhir sejumlah kasus kekerasan terhadap anak di Aceh terus meningkat, seperti di Aceh Utara menimpa siswi SD Matangkuli.  Selanjutnya di Kabupaten Pidie juga kekerasan juga dialami oleh siswi SD Geumpang yang dianiaya oleh gurunya dan menyisakan bekas luka di beberapa bagian tubuhnya.

Sementara di Aceh Besar,  salah seorang sisiwi SD menjadi korban bullying teman-temannya. Korban juga diduga dipukuli oleh beberapa siswa tempat ia bersekolah, menyisakan bekas sejumlah memar di tubuhnya sehingga ia pun meninggal dunia. [] (mal)