TAKENGON – Pemerintah Aceh Tengah dan Bener Meriah bakal sambut kedatangan pimpinan peserta tim Specialty Coffe Association Of Europe (SCAE) ke dua kabupaten itu Pada 15-21 November 2015 nantinya.

Rakor yang digelar antara pemerintah Aceh Tengah-Bener Meriah itu digelar di gedung Ummi Takengon, Senin 12 Oktober 2015.

Ikut hadir Kepala Badan Investasi dan Promosi Aceh, Iskandar msc, Direktorat Industri Minuman dan Kemasan dari Kementerian Perdagangan, dan sejumlah pelaku usaha Eksportir kopi wilayah Tengah Aceh.

Bupati Aceh Tengah Ir. H. Nasaruddin, MM, dalam sambutannya Rapat Koordinasi (Rakor) pelaksanaan promosi kopi arabica dan persiapan kunjungan itu menyatakan komitmenya melakukan promosi kopi Gayo ke ranah international.

Ia berharap kunjungan SCAE pada November nanti, salah satunya ada satu kontrak kerja dengan pemerintah Aceh Tengah-Bener Meriah terkait peningkataan ekspor kopi Gayo.
    
“Kunjungan ini merupakan tindak lanjut ekspo yang kita ikuti di benua Eropa beberapa Juni lalu. Kunjungan itu nanti akan di ikuti oleh 20 pimpinan perusahaan luar negeri. Jadi kalau ada kontrak kerja otomatis kuota ekspor kopi gayo akan membludak, dan ini kesempatan besar bagi peningkatan ekspor kopi Gayo,” kata Nasaruddin.

Dikatakan, Eropa merupakan konsumsi kopi gayo terbesar, bahkan melebihi konsumsi di Aceh. Di Eropa dibutuhkan 15 kilo kopi pertahun untuk setiap jiwa.

“Tapi bahan baku kopi tidak hanya dari kita. Makanya kalau ada kontrak kerja dengan SCEA, maka dapat kita pastikan kopi gayo akan treen di Eropa dan akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani kopi di wilayah tengah Aceh,” katanya.

Di wilayah Tengah Aceh, kata Nasaruddin, merupakan pusat penanaman kopi arabika terbesar di Indonesia. Dari keseluruhan penduduk, diperkirakan 80 persen diantaranya penggiat kopi.

“Luas tanam di Aceh Tengah sekarang capai 48 hektar dengan produksi pertahun tembus pada 25 ribu ton. Sementara di kabupaten Bener Meriah juga diprediksi memproduksi jumlah kopi yang sama,” ujar Nasaruddin.

Sementara itu Kepala Badan Investasi dan Promosi Aceh, Iskandar Msc mengatakan, ekspor kopi gayo dewasa ini telah mengalami penurunan akibat kebutuhan kopi dalam negeri meningkat. Selain itu ekspor kopi gayo menurun karena negara Vietnam saat ini juga giat melakukan promosi kopi robusta dan arabica untuk industri kopi international.

Kendatipun demikian, ia optimis agar kopi Gayo diminati di kalangan pencinta kopi dunia melalui promosi yang dilakukan secara berkesinambungan.

Selain itu, Iskandar berharap agar investor kopi dapat mendirikan perusahaan kopi terbesar di Indonesia di wilayah tengah Aceh, mengingat bidang area dan bahan baku juga mencukupi.

“Perusahaan semacam kapal api saya pikir tidak mustahil ada di wilayah tengah Aceh. Karena bahan bakunya kan mencukupi,” kata Iskandar. [] (MAL)