DIA pernah menjabat sebagai Wali Kota Sabang usai Aceh mengecap damai. Namanya Munawar Liza Zainal. Putera Aceh yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Al Azhar, Cairo, Mesir. Sejatinya dia adalah aktivis. Bukan korban konflik seperti orang kebanyakan di Aceh. Namun apa yang menyebabkan Munawar Liza Zainal berkecimpung dalam Gerakan Aceh Merdeka di bawah komando Dr Hasan Muhammad Di Tiro? Berikut penuturan mantan anggota perunding GAM di Helsinki, Munawar Liza Zainal, melalui tulisan yang dikirimnya ke redaksi portalsatu.com, Senin, 7 Desember 2015.

+++

GAMPONG kami dikenal dengan nama Keudee Laweueng. Sejak zaman Soeharto menjadi Desa Sukajaya. Kemukiman Laweueng, Kalee dan sekitarnya kemudian dinamakan dengan Kecamatan Muara Tiga. Penamaan kawasan ini disesuaikan dengan keberadaan tiga muara atau kuala di sana, yaitu Kuala Sagi di arah timur, Kuala Laweueng di gampong kami dan Kuala Kalee di sebelah barat.

Kakek saya, ayah dari ibu, adalah kepala mukim untuk beberapa periode. Beliau seorang pensiun tentara yang pernah bertugas di Ambon, Papua, dan di beberapa tempat di Sumatera serta Aceh. Di antaranya di Binjai, Panton Labu dan Meureudu.

Sejak kecil saya sering tinggal bersama kakek dan nenek di gampong Meunasah Keupula. Ayah dan ibu sering pergi belanja ke Sigli dan Medan sebab membuka usaha menjahit di keudee. Ibu juga satu-satunya perias pengantin di gampong saat itu.

Gampong kami minim infrastruktur. Laweueng seperti terisolasi. Arah timur yang berbatasan dengan Kulee Batee tidak ada akses jalan. Padahal untuk menuju Sigli, paling dekat lewat sana. Arah selatan, satu-satunya jalan yang terbuka, selalu dalam kondisi rusak berat. Ke Simpang Beutong yang hanya 7 Kilometer kadang-kadang memerlukan waktu berjam-jam. Jalan rusak parah, lhok limbo, demikian istilah orang kampung. Itu satu-satunya jalan yang agak bagus untuk akses ke jalan hitam. Sebelah barat, Biheue merupakan gampong terakhir, berbatasan dengan Lampanah dan Leungah, Aceh Besar. Jalan juga belum ada saat itu.

Puskesmas hanya satu untuk kecamatan dan sangat terbatas fasilitasnya. Listrik juga belum ada. Tahun 1980 saya masuk SD dan selesai pada 1986. Halaman sekolah saya selalu menjadi rawa di saat hujan. Tidak ada penimbunan, tidak ada perhatian. Pagar untuk sekolah saja merupakan sumbangan 'bak geurundong' dari murid-murid, masing-masing setahun 7 batang.

Penghasilan orang di gampong hanya dari jualan di kedai-kedai. Jualan ikan oleh nelayan dan sebagian lain bertani cabai, tomat, mentimun, semangka dan kacang hijau. Untuk belanja, ada pasar mingguan di hari Senin, peukan Seulanyan.

Karena sering membantu kakek, saya paling disayang. Sering disuruh untuk menjaga padi di sawah dari gangguan burung. Karena kepala mukim, maka sawah kakek adalah sawah yang paling pertama ditanami padi.

Saat di kampung, aroma konflik tidak terlalu terasa. Tentara dan polisi hilir mudik tapi jarang mengganggu keluarga kami. Mungkin karena kakek pensiunan tentara.

Namun dari bisik-bisik, sering kami dengar kisah heroik Tengku Hasan Tiro, Tengku Ilyas Leube dan tengku Daud Paneuk. Pernah ada seorang pakcik ditangkap Koramil hanya karena bercerita di sebuah warung kopi bahwa Tengku Daud Paneuk, seorang panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) masih hidup.

Saat itu memang tentara dan polisi memaksa orang meyakini bahwa semua pimpinan Aceh Merdeka sudah meninggal dunia. Siapa yang menceritakan mereka masih hidup, maka akan ditangkap dan ditahan.

Ketika SD, ayah mempunyai sebuah vespa. Beberapa kali ayah dan ibu membawa saya ke Lueng Putu. Membawa buah atau makanan menjenguk Cut Sari. Kemudian hari saya baru tahu bahwa Cut Sariwati, sepupu ibu dan juga keponakan ayah, adalah istri dari Tengku Muhammad Usman Lampoih Awe, Menteri Keuangan GAM. Beliau saat itu ditahan dan mengalami penyiksaan berat di Rumah Geudong.

Suatu waktu di musim padi, ketika naik kelas V SD, saya sedang membaca sebuah buku dari Departemen Agama yang dipinjam dari perpustakaan SD, di atas rangkang di sawah sambil mengusir burung yang memakan padi, kakek datang ke rangkang. Beliau membawa thermos kopi. Sambil duduk beliau bertanya, lagi baca apa. Saya jawab, sedang membaca buku tentang pesantren. Langsung kakek berseru, “Nak, nanti setelah tamat SD, kakek mau sekolahkan kamu ke Jawa, di pesantren Guntur (maksudnya Gontor) atau di Tebuireng. Waktu kakek tugas di Madura dulu, banyak orang cerita tentang dua tempat itu. Insya Allah bagus sekolahnya”.

Saya langsung membaca lembaran yang berisi informasi tentang Gontor di buku yang saya pegang. Saya tertarik dan sangat senang.

Saat Kelas VI SD, ada informasi bahwa di Sigli ada santri Gontor. Namanya Lismaryeddi, ibu dan kakek mengantar saya beberapa kali ke rumah ibu Asma, ibu Lismaryeddi, untuk belajar berhitung dan imla' (cara menulis Arab). Dua pelajaran penting dalam ujian kelulusan untuk masuk Gontor.

Setamat SD saya diantar oleh ibu dan kakek bersama beberapa saudara sekampung ke Gontor. Kami menumpang bus ALS dengan waktu tempuh 4 hari 4 malam.

Demikian lah, sesampai di Jawa, sesampai di Gontor, setelah melewati Jakarta dan kota lainnya, saya kemudian sering bertanya dalam hati, apa salah gampong saya? Kenapa di Ponorogo, di kampung kleklok (terpencil) tetapi listriknya ada? Jalan-jalan teraspal bagus, ada puskesmas dengan peralatan kesehatan yang memadai. Saya merasakan ada sesuatu yang salah. Gampong saya di Aceh seperti dizalimi. Ini tidak adil!

Selama di Gontor, jiwa perlawanan itu timbul. Apalagi oleh pemerintah, ijazah Gontor tidak diakui. Padahal waktu belajar 24 jam dalam sehari. Alumni Gontor saat itu tidak bisa masuk ke universitas negeri karena ijazah tidak disamakan. Justru ijazah Gontor diakui di Malaysia, Mesir, Saudi Arabia dan Pakistan.

Saya banyak mengetahui ketimpangan negara selama belajar di sana. Saya kerap menyampaikan masalah kezaliman penguasa dengan berapi-api dalam latihan pidato, muhadharah. Perpustakaan Gontor lumayan lengkap. Di sana saya banyak belajar tentang sejarah Indonesia yang berbeda dengan yang diajarkan di sekolah biasa.

Setamat dari Gontor dan selesai mengabdi setahun di Sulawesi, saya melanjutkan ke Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir.

Di sana, keluarga mahasiswa Aceh adalah orang-orang pertama yang membeli dan mengoperasikan komputer. Keluarga Mahasiswa Aceh yang dimotori bang Maykur Abdullah dan bang Lukman Hakim, memprakarsai SCC atau Seulawah Computer Course. Ini adalah kursus komputer pertama tempat mahasiswa belajar komputer. Bahkan pihak KBRI Cairo memakai jasa SCC untuk menginstalasi dan mengajarkan komputer. Saya menjadi bagian dari SCC.

Di tahun 1997 dan 1998, kala internet marak, KMA adalah kelompok pertama yang mempunyai akses internet. Berita-berita tentang perjuangan aktivis dan tentang pelanggaran HAM di Indonesia selalu kami baca dan kami sebarkan.

Kami di Mesir berdiri di depan bersama mahasiswa di luar lainnya dalam melawan Soeharto dan membongkar kasus-kasus pelanggaran HAM di Papua, Timor Leste dan Aceh. Kami kemudian berkomunikasi dengan aktivis-aktivis Aceh khususnya dari SIRA, dan saya menjadi konsul SIRA di Cairo.

Kami juga mengadakan kontak dengan pimpinan GAM yang ada di Swedia dan negara lainnya. Mahasiswa Aceh di Cairo, Mesir, saat itu tidak ragu-ragu mendukung upaya perjuangan kemerdekaan dan referendum untuk Aceh. Kami membentuk tim publikasi dan mengeluarkan beberapa buku, klipping koran dan kumpulan data-data kekerasan di Aceh. Dokumen itu kemudian kami sebarkan ke berbagai pihak di Mesir dan negara Timur Tengah lainnya.

Di Cairo juga kami membina komunikasi dengan rekan-rekan mahasiswa lainnya yang berasal dari daerah konflik seperti Bosnia, Chechnya, terutama lagi dengan bangsa Moro dan Patani.

Tahun 1998, adalah tahun saya meyakini bahwa GAM adalah pemerintah yang sah di Aceh. Saya kemudian menjadi bagian dari Aceh Merdeka.

Saya meyakini perjuangan Aceh Merdeka bukan karena pernah menjadi korban atau ada keluarga yang menjadi korban kekerasan. Saya menjadi penggiat Aceh Merdeka semata-mata karena pencarian, karena membaca buku-buku sejarah dan hasil komunikasi dengan tokoh-tokoh pejuang yang ada di Aceh dan di luar negeri.

Karena masih baru, di waktu pertama kurang paham tentang intrik di dalam tubuh GAM yang ada di Swedia, semua saya hubungi. Saya sempat berkomunikasi dan mendapat ilmu via email dari dr. Husaini Hasan dan Yusuf Tengku Daud Paneuk serta kawan-kawan.

Kemudian  saya berhubungan dengan guru-guru saya dalam perjuangan, Musanna Tengku Abdul Wahhab dan Iqlil Tengku Ilyas Leube, Musrial Mahfuzh di Amerika Serikat, Tengku Abdul Kadir, Tengku Thahir Hasan (Raya Panyang), Tengku Mahmud, M. Nur Djuli dan Tengku Usman Payong Nanggroe di Malaysia, Tengku Abdullah Musa di Singapura dan Bakhtiar Abdullah di Swedia. Merekalah kemudian membimbing saya di dalam GAM.

Demikianlah sekelumit kisah, bagaimana awalnya saya bergabung dengan Aceh Merdeka. Sebuah kapal besar yang dinahkodai oleh Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Gerakan ini bertujuan membuka mata rakyat Aceh untuk menegakkan identitas yang terkubur menuju kesejahteraan dan kemuliaan.[]