MUKA Fitriyani (19) asal Bangka Jaya, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, terus meringis menahan rasa sakit dari kaki kirinya yang sudah membusuk. Kaki kirinya kini telah…
MUKA Fitriyani (19) asal Bangka Jaya, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, terus meringis menahan rasa sakit dari kaki kirinya yang sudah membusuk.
Kaki kirinya kini telah diperban, setelah pada Jumat (4/12/2015) malam dioperasi untuk proses pembersihan di Rumah Sakit Kasih Ibu Lhokseumawe.
Sedangkan kakinya bisa membusuk, pascaterjadinya tabrakan di Malaysia pada Senin, 27 Oktober 2015.
Dimana dia ditemukan di Jalan oleh warga Aceh lainnya, sehingga berkat bantuan KBRI di Malaysia, gadis malang ini pun dipulangkan ke Aceh dan tiba di rumahnya Rabu (2/12/2015) malam.
Saat ditemui Serambinews.com, di Rumah Sakit kasih Ibu, tadi pagi, Fitriyani tidak dapat bercerita secara detail bagaimana dia mengalami kecelakaan, karena kelihatan seperti orang trauma.
Namun sempat dai ceritakan, pada 27 Oktober 2015, dia diajak majikannya di Kuala Lumpur untuk berbelanja dengan menggunakan sepeda motor.
Tidak jauh berjalan dari rumah, dari belakang datang mobil dan menabrak mereka, sehingga kakinya tergilas ban mobil.
Namun saja, usai kejadian, majikannya malah meninggalkannya di jalan seorang diri. Sehingga tidak lama kemudian ditemukan oleh seorang warga Aceh Timur di Malaysia.
Abang Kandung Fitriyani, Ridwan menjelaskan, kalau adiknya pergi ke Malaysia sekitar dua tahun lalu. Dia berangkat dengan jasa seorang calo asal Aceh Utara.
Setelah berangkat, tidak ada kabar sama sekali selama dua tahun, Namun baru diketahui adiknya telah kembali, saat diantar BPTKI Banda Aceh.
“Saat dibawa pulang kakinya sangat bau, dan saat saya bawa ke rumah sakit, kata dokter kakinya sudah infeksi,” ulasnya.
Sesuai cerita adiknya ke dia, awal ke Malaysia,dia bekerja sebagai pembantu di daerah Iboh. Satu tahun lebih kerja di sana, dia tidak pernah mendapatkan gaji. “Bahkan kata adik saya, dia sering disiksa oleh majikan,” kata Ridwan.
Tidak tahan di Iboh, dia pun menghubungi calonya di Malaysia dan meminta pulang. Namun si calo di Malaysia malah mempekerjakan Fitriyani ke tempat lainnya di kawasan Kuala Lumpur.
“Di tempat kerjanya yang kedua, dia pun tidak pernah mendapatkan gaji. Bahkan saat dibawa pulang dari Malaysia, hanya satu baju saja yang melekat di badannya,” ujarnya.
Sehingga dengan pengalaman adiknya tersebut, dia pun mengharapkan agar wanita-wanita Aceh lainnya yang ingin menjadi TKI, agar pergi dengan menggunakan agen tenaga kerja resmi, jangan menggunakan calo.
“Jadi apa yang dialami adik saya, bekerja tanpa gaji, disiksa dan saat kecelakaan di tinggalkan begitu saja di jalan, tidak sampai dialami wanita Aceh lainnya,” demikian Ridwan.[] Sumber: serambinews.com