TAKENGON – Tiga kesenian tradisianal dari lintas budaya yang ada di Takengon berhasil memukau massa di seputaran Simpang Lima Takengon, Minggu, 27 Desember 2015/kemarin. Ketiga kesenian itu Guel Gayo, Reog Ponorogo, dan Tambuih Padang.

Panitia Seni dan Budaya Aceh Tengah yang diramu menjadi GAYOfest.2015 men-setting kelompok kesenian dari tiga penjuru di Simpan Lima tersebut. Kelompok Reog Ponorogo memulai pertunjukan seraya melakukan karnaval melewati pertokoan di Pasar Inpres. Sedangkan Tambuih Padang bergerak dari Jalan Lebe Kedir (depan Polres Aceh Tengah), di Simpang Lima. Gueal dari arah Jalan Mahkamah menyambut kedua tari tradisional tersebut.

Massa datang dari berbagai arah, berbagai usia, berkumpul melingkar menyaksikan adegan yang tidak biasa tersebut.

Tari Guel dalam gaya menghipnotis yang dimainkan Aga langsung menyambut Reog Ponorogo yang datang dari arah Kodim. Di situ tampak gerakan energik Guel memberi salam kepada Reog Gayo, lantas melanjutkan ke Tambuih Padang.

Adegan itu membuat massa terdiam, dan tampak mengapresiasi apa yang dilakoni Tari Guel. Bahkan applause buat Guel.

Setelah Guel, Tambuih Padang maju ke depan. Mereka memainkan tambur dan gendang sekitar 20 menit. Di situ terjadi bunyi gemuruh dengan irama yang membuat penonton bergoyang. Kali ini Tambuih Padang tanpa Tari Piring dan Silat Padang, namun atraksi gendang tetap mendapat apresiasi para penonton.

Sesi selanjutnya, giliran Reog Ponorogo. Begitu penari masuk ke lingkaran massa, spontan penonton membesarkan lingkaran karena bunyi “cambuk” yang disentuhkan ke jalan raya mengagetkan. Dalam atraksinya, Reog Ponorogo menampilkan sekitar 20 pemain yang memerankan gerakan kesurupan. Dalam adegan tersebut, beberapa pemain yang mengenakan topeng tumbang bergantian karena mulai kesurupan. Di situ muncul peran orang khusus untuk menyadarkan.

Kesurupan dalam Reog adalah bagian dari adegan tari asal Jawa Timur tersebut. Gerakan kesurupan itu silih berganti, bahkan pelakon “merak” yang melekat di kepala, namun lebih identik dengan “Singa”. Reog Ponorogo sungguh memberi kejutan dan menegangkan.

Seluruh penampilan kesenian tradisioal berasal dari lintas budaya yang mendiami Aceh Tengah seperti Reog Ponorogo dimainkan masyarakat dari Jagong Jeget, Tabuih Padang dari Kota Takengon, dan Tari Guel yang memang berasal dari Gayo.[] (idg)