KERETA kencana peninggalan sejarah Cirebon itu sangat jarang dipakai. Hanya orang tertentu, semisal raja dan petinggi keraton yang bisa menggunakannya. Namun berbeda halnya dengan Wakil Gubernur Aceh, H Muzakkir Manaf. Pria yang kerap disapa Mualem ini mendapat keistimewaan menaikinya, Selasa, 10 November 2015.

Kereta kencana itu tidak memakai tenaga kuda, tapi ditarik oleh manusia. Mualem duduk santai di atasnya dalam perjalanan hampir satu kilometer menuju makam Fatahillah. 

Fatahillah adalah ulama asal Aceh yang menyebarkan Islam ke pulau Jawa. Fatahilah juga dikenal sebagai Falatehan, pendiri daerah Sunda Kelapa, cikal bakal Kota Jakarta. Nama Jakarta baru dikenal pada tahun 1527.

Kedatangan Mualem ke Cirebon disambut dengan musik hajir marawis persis sarah dari Kabupaten Majalengka. Musik ini dimainkan oleh enam orang, salah satunya memakai baju hitam. Pawangnya adalah Ali Zainal Abidin.

Mualem dipayungi dengan payung keraton ketika menuju pesantren Darul Hikmah. Kedatangan mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ini ke Cirebon dalam rangka tabligh akbar dan Haul ke-47 Pesantren Darul Hikmah.

Nah, di sinilah awal mula cerita kereta kencana untuk Mualem. Saat Ketua KPA Pusat tersebut hendak meuju ke lapangan dari pesantren, ternyata masyarakat Cirebon telah menyiapkan kereta kencana untuk dinaiki Mualem. Kereta kencana itu kemudian ditarik oleh manusia hingga satu kilometer jauhnya.

Masyarakat berjejer di sepanjang jalan melihat kereta kencana yang dinaiki Mualem bersama Habib Syeh Kurais, pimpinan Majelis Rasulullah Kabupaten Kuningan. Di depan kereta kencana berjalan para pemain musik marawis. Ada juga puluhan anak-anak usia belasan tahun membawa obor sambil bersalawat menuju tempat tabligh akbar.

Sampai ke lapangan masyarakat semakin ramai menunggu Habib dan Mualem. Ketika Mualem dan Habib turun dari kereta kencana menuju panggung, gema salawat semakin membahana. Warga satu persatu yang berdiri sepanjang jalan kemudian mendekat ke panggung dan berusaha menyalami Mualem.

Begitu tiba di panggung, panitia mengalungi bunga di leher Habib dan Mualem. Adalah Kyai Muhammad Hanafi Maulana yang mengalungi bunga itu. Mualem tersenyum dan memeluk ulama dan sesepuh masyarakat Cirebon tersebut. Kemudian Mualem melambaikan tangan ke massa yang berjubel di depan panggung.

Tak lama kemudian, Mualem disilahkan untuk berpidato. Dalam sambutannya pada tabligh akbar itu, Mualem mengatakan ada ikatan batin antara Aceh dan Cirebon sejak ratusan tahun lalu. Salah satu hubungannya melalui Wali Songo yang menyebarkan Islam di Tanah Jawa. 

Empat dari sembilan wali itu merupakan ulama yang datang dari Aceh. Salah satunya adalah Maulana Malik Ibrahim, pemimpin sembilan wali tersebut. 

Usai prosesi Haul ke 47 Pesantren Darul Hikmah, Mualem bersama Ketua Partai Gerindra Aceh, Teuku Abdul Khalid juga berziarah ke makam Sunan Gunung Jati. Letaknya bersebelahan dengan makam Fatahilah. Lokasinya masih satu kota dengan Pesantren Darul Hikmah.[]