Semua bahasa di dunia ini memiliki kata ganti orang. Kata ganti orang (personal pronoun) merupakan kata-kata yang digunakan untuk menggantikan orang atau benda. Meski setiap bahasa memiliki kata ganti orang, keunikan yang diemban oleh masing-masing kata ganti tidaklah sama.
Bahasa Aceh memiliki sejumlah kata ganti seperti berikut ini:
lôn/ lông/lôntuan/ulôntuan saya; kèe aku; droeneuh Anda; gata Anda; kah kamu; droeneuhnyania, beliau; gopnyan ia, beliau; jih ia; geutanyoe kita; kamoe kami
Kata ganti yang digunakan dalam bahasa Aceh memiliki keunikan yang tentu saja tidak ditemukan dalam bahasa Austronesia lainnya, seperti bahasa Indonesia. Keunikan yang dimaksud adalah terdapatnya persesuaian kata ganti orang (agreement). Persesuaian ini digunakan setelah kata ganti orang.
Bentuk-bentuk persesuaian itu adalah sebagai berikut.
lôn/ lông/lôntuan/ulôntuan persesuaiannya adalah lôn-, -lôn; droeneuh persesuaiannya adalah neu-, -neuh; gata persesuaianya adalah ta-; kah persesuaiannya ka; droeneuhnyan persesuaianya adalah neu-, -neuh; gopnyan persesuaiannya adalah geu-, -geuh; jih persesuaiannnya adalah ji-, ih; geutanyoepersesuaianya adalah ta-, -teuh; kamoe persesuaiannya adalah meu-, -meuh, -teu.
Penggunaan kata ganti orang dan persesuaian itu dapat dilihat dalam beberapa kalimat berikut ini.
– Lôn lônjak u keudèe saya ke kedai; Droeneuh peue neupeugöt? Anda sedang apa;
– Gopnyan ka geujak beliau sudah pergi; Geutanyoe ta-éh inan singöh kita tidur di sana besok, -Kamoe meujak u krueng kami ke sungai
Perhatikan pada kalimat-kalimat bahasa Aceh itu, lalu bandingkan dengan terjemahan bahasa Indonesianya. Berbeda bukan. Pada kalimat bahasa Aceh, sesudah digunakan kata ganti orang, persesuaian mengikutinya dan melekat pada kata kerja; lôn- melekat pada jak, neu- melekat padapeugöt, geu- pada jak, ta- pada éh, meu- pada jak.
Akan tetapi, tak demikian halnya dengan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia tidak memiliki persesuaian seperti dalam bahasa Aceh. Jadi, tidak ada kalimat bahasa Indonesia seperti berikut ini: – Saya sayapergi ke kedai; Anda sedang Andamengerjakan apa?; -Beliau sudah beliaupergi; Kitakitatidur di sana besok; Kami kamipergi ke sungai.
Keunikan kata ganti dan penyesuaiannya itu semakin nyata terlihat jika dikaitkan dengan dialek-dialek bahasa Aceh.
Yang perlu dicermati lagi adalah mengenai tata penulisan persesuaian kata ganti orang itu. Secara kebahasaan, kata ganti orang itu merupakan bentuk terikat. Artinya, bentuk-bentuk itu tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah kata dalam suatu kalimat karena tidak punya arti. Kasusnya sama dengan imbuhan dalam bahasa Indonesia. Oleh karena itu, penulisan persesuaian ini harus dirangkaikan dengan kata kerja, tidak boleh terpisah seperti dalam kalimat berikut. -Kamoe meungiengureung mate lam krueng (penulisan yang benar); –Kamoe meu ngieng ureung mate lam krueng. []