BANDA ACEH – Sejarawan dan juga penulis buku, Iwan Gayo, menyebutkan Kerajaan Aceh Darussalam sudah takluk kepada Belanda sejak 1873. Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi sejarah yang membahas Genosida di Gayo oleh Belanda pada 1908.

“Buktinya pembangunan rel kereta api sudah dibangun saat itu di Ulee Lheue,” kata Iwan Gayo dalam diskusi sejarah yang diadakan di ruang teater UIN Ar Raniry, Banda Aceh, Jumat, 18 Desember 2015.

Pernyataan Iwan Gayo ini tentu bertolak belakang dengan catatan sejarah perang Belanda di Aceh selama ini. Pasalnya pada tahun tersebut, Belanda baru saja mengumumkan perang dengan Kerajaan Aceh Darussalam.

Dihubungi secara terpisah, Ketua Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Syiah Kuala, Dr Mawardi Umar, M.Hum, mengatakan Aceh tidak pernah tunduk kepada Belanda apalagi di tahun 1873. Mawardi mengatakan pada tahun tersebut Belanda baru memulai perang dengan Kerajaan Aceh Darussalam. Saat itu Belanda malah gagal mengekspansi Aceh dan bahkan panglima perangnya, JHR Kohler, tewas dalam perang tersebut. Kemudian Belanda kembali mengirimkan armada perangnya di agresi kedua pada 1874.

1874 baroe mulai perang, nyan ekspedisi phon (1874 baru mulai perang, itu ekspedisi (1873) pertama). Karena Aceh tidak mau tunduk makanya diperangi,” kata Mawardi yang dihubungi portalsatu.com melalui sambungan seluler, Jumat, 18 Desember 2015.

Mawardi mengatakan Belanda baru membangun rel kereta api di Aceh pada 1900-an. Saat itu Ulee Balang Ulee Lheue yang menyerah kepada Belanda, sehingga kereta api yang dibangun pertama sekali waktu itu adalah kereta api dari Ulee Lheue ke Koetaradja.

“Benar memang pada tahun 1900-an ada beberapa ulee balang yang tunduk pada Belanda tapi bukan pada tahun 1873. Namun secara keseluruhan Aceh tidak pernah tunduk pada Belanda,” kata Mawardi.[](bna)