TERKINI
GAYA

Peusaba Diskusikan Sejarah Aceh di Titik Nol Banda Aceh

BANDA ACEH - Peubeudoh Sejarah Adat dan Budaya (Peusaba) Aceh mendiskusikan sejarah Aceh di Titik Nol Banda Aceh di Gampông Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, Minggu,…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 996×

BANDA ACEH – Peubeudoh Sejarah Adat dan Budaya (Peusaba) Aceh mendiskusikan sejarah Aceh di Titik Nol Banda Aceh di Gampông Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, Minggu, 20 Agustus 2017.

Ketua Peusaba Aceh Mawardi Usman dalam diskusi tersebut turut menceritakan kondisi Kerajaan Arakan yang pernah menjadi kerajaan besar Islam yang berhubungan dengan Mughal dan Turki Usmani. Namun ketika kondisi kerajaan lemah, Arakan akhirnya dikuasai Birma. Akibatnya, mereka harus tunduk, semua budaya mereka dihancurkan, bahkan semua situs peninggalan Kerajaan Arakan dilenyapkan.

“Pemerintah Birma kemudian menguasai Arakan melakukan tindakan pengusiran besar-besaran hingga hari ini. Kaum yang diusir itu kita kenal dengan kaum Rohingya,” ujar Mawardi melalui keterangan tertulis, Minggu, 20 Agustus 2017.

Untuk menghilangkan sebuah bangsa, kata Mawardi, yang perlu dihilangkan adalah sejarahnya. Hal yang sama, kata dia, terjadi pada Titik Nol bekas Kesultanan Aceh dimusnahkan menjadi tempat pembuangan tinja dan sampah. Peusaba khawatir di masa yang akan datang bukti tersebut malah akan hilang.

“Titik Nol Islam Banda Aceh bisa berpindah ke mana saja dan jika kita kalah perang dengan bangsa luar, jika ada invasi seperti Irak, misalnya. Maka saat itu orang Aceh yang tidak punya bukti sejarah yang sudah habis dimusnahkan akan diusir ke Arab, Cina, Eropa, dan Hindia.”

Kondisi yang sama, kata Mawardi, juga dialami Palestina yang semua situs Islam ingin dihancurkan dan dipertahankan mati-matian oleh kaum muslimin Palestina. Bahkan Israel ingin menghancurkan Masjid Baitul Maqdis.

“Kalau dibiarkan terus menerus akan lenyaplah Aceh dari peta dunia, jangan bangga dengan banyak situs sekarang sebab dalam sekejap bisa diratakan dengan tanah,” kata Mawardi.

Ketua Seuramoe Pasee, Murtadharuddin, yang ikut dalam diskusi meminta pemerintah benar-benar serius menjaga situs demi generasi mendatang.

Pertemuan ini juga merekomendasikan permintaan bantuan menjaga situs kepada Pemerintah Turki sebab di sanalah pada masa Sultan Ilako Khan pada 383 Hijriah orang Turki penyebar Islam datang ke Aceh.

Peusaba juga meminta Pemerintah Turki membangun ulang Darul Makmur Kerajaan Sultan Johan Syah Seljuq sebab cetak biru Kesultanan Aceh berupa istana, taman, dan khazanah masih tersimpan dengan baik dalam Diwan Humayun Turki.[] (*sar)

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar