BANDA ACEH  – Guru Besar Universitas Negeri Malang, Prof. A. Syukur Ghazali, M.Pd., mengatakan pada dasarnya Indonesia secara keseluruhan tidak memiliki kearifan yang disebut dengan kearifan nasional. Ia mengatakan kearifan nasional dan kebudayaan Indonesia lahir dari kumpulan budaya dan kearifan lokal atau daerah.

“Muhammad Yamin pernah mengatakan bahwa kebudayaan nasional adalah kemuncak dari budaya daerah, begitu juga dengan kearifan nasional yang merupakan kumpulan dari kearifan lokal,” ucapnya dalam seminar nasional di gedung Auditorium FKIP Unsyiah, Jumat 6 November 2015.

Seminar nasional yang mengangkat tema, “Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Kearifan Lokal”, ini diikuti para akademisi dan praktisi pendidikan, khususnya pendidikan bahasa dan sastra Indonesia seperti dosen, guru, dan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Aceh.

Dalam seminar tersebut, Profesor A. Syukur Ghazali juga mengatakan kearifan nasional memang berasal dari kearifan lokal. Namun, ia tidak memberi batas antara kearifan nasional atau kearifan lokal karena menurut dia kearifan lokal juga merupakan kearifan nasional.

“Jangan terlalu mengkotak-kotakkan antara kebudayaan nasional dengan kebudayaan daerah, karena ketika Anda menjaga kebudayaan daerah atau kearifan lokal di daerah Anda, itu berarti Anda juga sedang menjaga kebudayaan nasional atau kearifan nasional,” ucapnya.

Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia itu diadakan Forum Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (MPBSI) Program Pascasarjana (PPs) Unsyiah bekerja sama dengan Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia (Gemasastrin) dan Ikatan Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (IKA-PBSI).

Selain Prof. Dr. A. Syukur Ghazali, M.Pd., pemateri lainnya dosen MPBSI Unsyiah yang juga Pembantu Dekan III FKIP Bidang Kemahasiswaan, Dr. Wildan, M.Pd., dosen PBSI FKIP Unsyiah yang juga kolumnis sering mengangkat persoalan sastra dan pendidikan, Azwardi, S.Pd., M.Hum.[]