BANDA ACEH – Pertumbuhan ekonomi Aceh masih melambat. Minimnya kegiatan ekonomi produktif serta kondisi infrastruktur yang belum memadai, sehingga tantangan yang dihadapi menjadi kompleks. Hal tersebut disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Aceh, Ahmad Farid pada acara Business Matching Industri Hilir Kopi, di Aula Kantor Perwakilan BI Aceh, Selasa, 16 Mei 2017.
Aceh memiliki berbagai tantangan domestik. Menghadapi tantangan tersebut, BI melakukan berbagai upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh yang sehat, berkelanjutan, yang diiringi dengan langkah-langkah yang diperlukan untuk mitigasi potensi risiko yang bisa datang dari berbagai sumber, kata Ahmad Farid.
Ahmad Farid menyebutkan, salah satu strategi BI yaitu dengan terciptanya kemandirian ekonomi daerah. Di antaranya, melalui pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
“BI akan terus mendorong untuk menumbuhkan UMKM di sektor ekonomi kreatif. Selama ini kesempatan seperti kredit usaha banyak dimanfaatkan oleh pengusaha luar, dan BI akan mendorong untuk digunakan oleh pengusaha lokal seperti ekonomi kreatif kopi, karena untuk devisa negara kopi sangat menyumbang. Kopi Aceh tersebar hampir ke setiap Negara. Di internasional yang dikenal itu kopi Sumatera, kususnya Aceh, Gayo Takengon, ekspornya justru sampai ke Amerika,” katanya.
Ahmad Farid menjelaskan, suatu usaha tidak akan mencapai keberhasilan yang optimal apabila tidak didukung permodalan yang kaut. Faktanya pelaku usaha tidak bisa mencapai jumlah pesanan karena kurang modal untuk melakukan produksi.
“Persoalan tersebut dapat diselesaikan apabila pelaku usaha dapat memperoleh akses kredit dari perbankan. Peran BI memediasi antara perbankan dengan pelaku usaha, dan juga usaha yang memerlukan dana ada hubungan harmonis dengan bank, ujarnya.
Pelaku usaha, kata Farid, susah berhubungan dengan bank. Sementara bank susah menemukan pelaku usaha yang berhubungan dengan bank, sehingga tidak mudah bagi perbankan untuk melakukan assessment (penilaian) risiko dan kelayakan pemberian kredit.
“Dari sisi lain, masyarakat Aceh menganggap ambil kredit pada bank konvensional itu riba atau dosa, sehingga mereka enggan pinjam ke bank. Fenomena ini memberi peluang pada bank syariah di Aceh untuk melakukan ekspansi usaha,” kata Farid.