BANDA ACEH – Pimpinan Bank Indonesia (BI) Perwakilan Aceh melakukan pertemuan dengan ketua dan anggota DPRA, Rabu, 17 Juni 2020, di Auditorium Teuku Umar Kantor BI Perwakilan Aceh.
Perwakilan DPRA yang hadir dalam diskusi tersebut Ketua DPRA Dahlan Jamaluddin, Ketua Komisi III DPRA Khairil Syahrial, anggota Komisi III dan juga anggota Badan Anggaran DPRA.
Kepala Bank Indonesia Perwakilan Aceh, Zainal Arifin Lubis, memaparkan kondisi perekonomian Aceh saat ini. Dia menjelaskan secara garis besar perkembangan ekonomi Aceh saat ini, potensi dan tantangan ekonomi Aceh, strategi pengembangan ekonomi Aceh serta kondisi ekonomi yang terdampak pandemi covid-19.
Menurut Zainal Arifin Lubis, BI Perwakilan Aceh fokus untuk mempercepat pengembangan perekonomian Aceh, di dalamnya ada pengendalian inflasi, mendorong pertumbuhan ekonomi dan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Perbankan yang ada di Aceh, kata dia, sangat dibutuhkan perannya dalam pengembangan UMKM.
Dia menjelaskan perlu adanya sinergisitas lembaga-lembaga negara yang ada di Aceh untuk membangun perekonomian. Kerja-kerja di atas, kata dia, tidak bisa dilakukan Bank Indonesia atau pemerintah sendiri, semua komponen harus terlibat.
Saat ini, sebut dia, Bank Indonesia selalu memberi masukan dan rekomendasi kepada Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten kota untuk membangun perekonomian Aceh.
Masukan itu, tutur dia, bisa dalam bentuk laporan tiga bulanan Bank Indonesia maupun laporan tematik lainnya terkait perekonomian Aceh. Bank Indonesia Perwakilan Aceh sudah dua tahun terakhir mengusulkan kepada pimpinan pusat di Jakarta untuk menambah anggaran pengembangan ekonomi di Aceh.
Dan Alhamdulillah pihak pusat menyetujuinya dan bahkan naik sepuluh kali lipat dana pengembangan ekonomi dan kajian-kajian di BI Aceh saat ini, kata Zainal Arifin Lubis.
Menurut dia, bidang ekonomi yang menjadi tumpuan Aceh saat ini adalah pertanian, kelautan dan pariwisata. Pemerintah, kata dia, perlu fokus pada komoditas yang ingin dibangun. Dia mencontohkan, dalam bidang pertanian, titik fokus harus diarahkan pada komiditas andalan Aceh seperti kopi dan nilam.
Pada bidang kelautan, Aceh punya satu dari tiga tempat di dunia yang cocok sebagai tempat budidaya ikan tuna. Sedangkan dalam bidang pariwisata, Aceh punya potensi wisata alam, religi dan wisata budaya atau heritage.
