TERKINI
EKBIS

Dua Hal Penting Mendidik Anak di Zaman Modern Menurut Waled Landeng

LHOKSUKON - Teungku Zulfadhli Al-Wahidy atau yang akrab disapa Waled Landeng, 35 tahun, mengatakan anak sebagai generasi penerus bangsa harus dipersiapkan dan dididik sedini mungkin…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.1K×

LHOKSUKON – Teungku Zulfadhli Al-Wahidy atau yang akrab disapa Waled Landeng, 35 tahun, mengatakan anak sebagai generasi penerus bangsa harus dipersiapkan dan dididik sedini mungkin sesuai dengan perkembangan zaman mereka.

“Dalam hal ini ada sebuah pesan Khalifah Umar bin Khaththab yang sungguh singkat dan mudah diingat yakni didiklah anak-anakmu, karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu,” kata Waled Landeng, pimpinan Dayah Teungku Chiek Keumangan Kuta Ara Mungkok Al-Aziziyah Landeng, Aceh Utara kepada portalsatu.com, Minggu, 23 Oktober 2016.

Ulama dan tokoh muda yang disegani dan berpengaruh itu menambahkan, mendidik anak merupakan tantangan besar yang benar-benar nyata bagi keluarga Muslim abad ini.

“Bagaimana mendidik anak sesuai zamannya. Dikatakan demikian karena di era kekinian berbagai macam konsep dan model pendidikan sungguh sangat variatif,” kata Ketua Rabithah Thalibah Aceh (RTA) Aceh Utara ini.

Sementara itu kata dia, dari sisi budaya, pergaulan dan perkembangan sosial, anak-anak dinilai sangan rentan 'menelan' begitu saja apa yang menurut mereka menarik tanpa memedulikan batasan norma dan agama. “Tidak mengherankan, jika kemudian anak-anak masa kini tidak begitu tertarik dengan konsep-konsep dasar dan penting dalam Islam,” katanya.

Sekretaris Tastafi dan pengurus Himpunan Ulama Dayah Aceh-Aceh Utara itu juga mengatakan, dalam kondisi ini banyak orang tua kemudian kewalahan dalam menghadapi perilaku anak. Sebagian mereka katanya, ada yang mengambil tindakan esktrem dengan mengisolasi anak dari perkembangan zaman. Sebagian lainnya justru dinilai apatis dan membiarkan anaknya tumbuh sesuai dengan perkembangan zaman yang sedang berlangsung.

“Kita sebagai seorang muslim sejati, tentunya dua jenis respons tersebut sangat tidak dianjurkan. Islam itu tsawabit (tetap) tetapi sekaligus mutaghayyirat (fleksibel). Tsawabit dalam konteks aqidah,” papar dai kondang alumni dayah MUDI Mesra Samalanga ini mengingatkan.

Ulama muda itu menyebutan, mutaghayyirat dalam hal skill penting yang mesti dikuasai seorang anak. Hal ini tidak bisa berlaku sama persis secara praktik sebagaimana Nabi menjalankan pendidikan skill kepada anak-anak. Misalnya terhadap hadits yang mengatakan bahwa anak-anak perlu diajari skill memanah, berenang dan berkuda.

“Dalam konteks modern maka segala hal yang dianggap penting bagi kemajuan pribadi maupun kolektif umat, segenap orang tua perlu mendidik anak-anak mereka menguasai kesemua hal itu. Misalnya menguasai komputer, kimia, kedokteran, atau pun skill lainnya,” katanya.

Waled menambahkan, sedangkan mengenai pendidikan yang bersifat tsawabit (aqidah dan ibadah) maka orang tua harus menempatkannya sebagai yang paling utama. Lebih dahulu dan lebih penting dari penanaman skill. Sebab, kecerdasan skill yang tidak dilandasi dengan aqidah yang kokoh hanya akan menimbulkan kerusakan demi kerusakan.

“Kesimpulaanya pengertian mendidik anak sesuai zamannya adalah mengarahkan anak-anak kita mampu survive dalam zaman di mana dia hidup, sehingga mampu menjadi insan yang mandiri dan kontributif bagi kemaslahatan umat,” katanya.

Ia memberi contoh, mereka yang terdidik secara kognitif dewasa ini banyak yang tidak mampu memegang teguh norma-norma agama, moral dan sosial.

“Tinggi intelektualitasnya namun rendah integritasnya. Semua ini dikarenakan konsep yang keliru dalam pendidikan anak. Di mana atas nama perkembangan zaman aspek yang mutaghayyirat dikejar-kejar, sementara yang tsawabit justru diabaikan,” kata Waled Landeng.[]

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar