Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai
Hujan di malam Jumat ini tiadalah seperti biasa, berhingga sampai pada membuat anak-anak di Bale -Balai- pengajian tiada bisa pulang tepat pada pukul sembilan malam itu. Sehingga mereka harus menunggu dalam ketidak pastian waktu. Pun begitu, adalah kegiatan selingan senggang biar tidak bosan menunggu akan si hujan reda.
Jadi malam ini, long keunak tanyong bak ureng droeneuh ban-bandum (Saya mahu bertanya kepada sekalian handai taulan)? kata Teungku Balee pada sekalian muridnya.
Na keuh geukhen ujeuen (Adalah dikatakan hujan), Na keuh geukhen ie njang rhet dari langet (Adalah dikatakan air yang jatuh dari langit), Na keuh geukhen rahmat (Adalah dikatakan rahmat), puelom malam Jumat (Apalagi malam Jumat). Na keuh geukhen laknak (Adalah juga dikatakan laknak)? Teungku Balee menyudahi sejenak atas pertanyaannya itu.
Sekalian murid pun tertunduk lesu, keringat dingin mulai terasa dipori-pori mereka. Mulut tertutup rapat, tiada terdengar sesuatu kecuali suara air hujan yang kian rentap di atas bubung bale itu.
Akankah malam Jumat ini menjadi malam laknak atawa laknak itu sendiri akan disulap menjadi rahmat? Rintik desahan bergelegar di dalam diri si empunya hati, Hasan nan-nya (namanya).
Sekalian murid itu masih terdiam, bahkan ada yang langsung pingsan. Mereka semua berumur di atas rata-rata. Dan di malam itu hanya dua puluh lima orang murid sahaja yang berhadir ditambah sang teungku dan ditambah satu lagi dengan si Kumbang.
Kumbang adalah harimau peliharaan sang tgk, ia tidak berwujud. Namun maruf akannya dan seluruh murid yang berjumlah seratus empat orang itu tahu bahawa tgk mempunyai seekor harimau.
Kerana memang mereka sering meminta ikut gurenya memberi makan si Kumbang akan pisang mah (pisang kecil) selepas dari shalat magrib di setiap malam Senin dan Kamis. Namun untuk malam jumat ini si kumbang datang sendiri menemani mereka. Tanpa sesiapa yang mengajaknya. Dan untuk malam jumat ini sahaja.
Murid yang berjumlah dua puluh lima orang tadi, hanya tinggal empat sahaja dari mereka yang tiada pingsang. Mungkin empat mereka itu adalah orang-orang pilihan.
Desember, malam Jumat dan Empat orang murid yang tiada pingsang oleh sabab pertanyaan tgk tentang hujan. Hasan pun terduduk diantara Ehsan, Chairul dan Ambia empat mereka masih ada (tiada pingsan) di malam itu.
Teungku pun tiada merasa akan keanehan terhadap mereka yang pingsan dan masih terlihat ia nya duduk dengan penuh ketenangan di tempat kebiasaannya (pada satu sudut di utara Bale). Empat sekawan tadi berbisik-bisik sesamanya dan juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Dan satu hal lagi yang perlu kalian ketahui, surat Al-Fatihah adalah Ummul Qur-an, contohi ia. Kerana tiada termuat kata-kata yang tiada bijaksana/sopan, seperti nama-nama neraka/hal-hal zalim di dalamnya. Oleh sabab itu, dari dua puluh delapan/dua puluh sembilan (alif/hamzah) huruf hijaiyyah. Tujuh huruf tiada terkandung di dalamnya, Teungku Balee -Balai- terus berkata-kata di malam Jumat itu.
Di dalam surat Al-Fatihah, adalah termuat Dua Puluh Satu huruf dari huruf-huruf Hijaiyyah, Teungku terdiam. Banyaklah hal yang belum diberitahukan Teungku pada sekalian mereka, dan menjadilah tugas sekaligus kewajiban sekalian murid untuk mencari tahu sendiri akanpada apa-apa yang belum diketahui oleh diri.
Dengan demikian sang Teungku pun menjawab sendiri akan sekalian pertanyaannya tentang hujan tadi, walau hanya empat mereka yang masih ada. Hujan pun reda, setelah semua pertanyaan tadi terjawab olehnya sendiri tepat pada pukul dua belas malam itu.
Cukuplah Bale dan Empat sekawan yang menjadi Saksi pada malam Jumat bulan Desember ini untukku menjelaskan tentang apa itu Hujan, guman Teungku Wali sembari sebuah senyuman bahagia tercipta di mulut wajahnya.
Kumbang, setelah malam Jum'at kemarin. Berdiskusi dan mempraktekkan jurus-jurus baru itu di hadapanmu, sungguh sampai pada malam Jum'at yang penuh berkah akan hujan ini. Seluruh badanku masih terasa letih akannya lemas pada raga ini, dan sekarang sangatlah cukup untukku beristirahat, Ambia seperti bercakap-cakap sendiri.
Setelah beberapa tahun Teungku meninggal, ia masih sangat mengingat akanpada hal-hal yang telah terjadi dan dilakoninya sewaktu tgk masih ada. Seperti sedianya ia mengenang kembali bagaimana sosok alim itu menjelaskan kepada mereka dulu tentang hujan, dan sekarang hal-hal yang demikian sudah menjadi kenangan untuk dirinya.