Sutiyoso menemui ekskombatan yang mengangkat senjata di ruang damai Aceh, Nurdin alias Din Minimi, dan membuat “Robin Hood” Aceh—sebutan pihak tertentu untuk anak muda ini—menangis dalam pelukannya, tiga hari lalu. Puluhan tahun silam, saat Gerakan Aceh Merdeka (GAM) memberontak terhadap Pemerintah Indonesia, Sutiyoso menangkap Menteri Keuangan (Menkeu) GAM Tengku Muhammad Usman Lampoh Awe. Bagaimana ceritanya?

***

SUTIYOSO akrab disapa Bang Yos saat ini menjabat Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Tokoh militer Indonesia berbintang tiga itu menjadi Kepala BIN setelah dilantik oleh Presiden Jokowi, 8 Juli 2015. Ia menjadi Kepala BIN ke-14 sejak lembaga itu berdiri dengan nama Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI) pada 1946.

Melansir antaranews.com, 8 Juli 2015, Sutiyoso adalah orang pertama yang memiliki pengalaman terlengkap untuk menjadi orang nomor satu di institusi intelijen negara. Tak hanya pengalaman matang di dunia militer yang digelutinya setelah lulus dari Akademi Militer Nasional di Magelang 1968, tetapi juga di birokrasi sipil saat 10 tahun menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta selama menjabat gubernur sejak 1997.

Pria kelahiran Semarang 6 Desember 1944 itu juga berpengalaman memimpin organisasi berbagai cabang olahraga (sepak bola, menembak, basket, bulu tangkis, dan golf). Sutiyoso pernah pula memimpin Asosiasi Pemerintahan Provinsi Seluruh Indonesia. Ia merupakan politisi yang pernah menjadi bakal calon presiden dan memimpin Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) sampai akhirnya mengundurkan diri pada 5 Juli lalu karena kesiapannya menjalankan tugas baru sebagai Kepala BIN.

Di bidang militer, Sutiyoso yang merupakan prajurit pasukan elit TNI Angkatan Darat, Kopassus, lekat dengan pengalaman intelijen dalam berbagai operasi militer seperti Operasi PGRS/Paraku (1969), Operasi Flamboyan, Timtim (1975), dan Operasi Aceh Merdeka (1978).

Sutiyoso pernah bertugas di Kopassus mulai dari jabatan Komando Peleton tahun 1969 hingga menjadi Asisten Operasi Komandan Kopassus tahun 1991. Sempat ditugaskan ke Kostrad sebagai Asisten Operasi dan kembali ke Kostrad menjadi Wakil Komanda pada 1992.

Tahun 1993, Sutiyoso ditugaskan sebagai Komandan Korem 061/Suryakencana, Bogor. Pada 1994 Korem 061/Suryakencana dinobatkan menjadi Korem terbaik seluruh Indonesia dengan Sutiyoso sebagai Komandan Korem terbaik. Sutiyoso dinilai berprestasi setelah menyelesaikan kasus sengketa tanah Rancamaya yang memanas sejak tahun 1989 tersebut. Dalam KTT Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) 1994 di Istana Bogor, Sutiyoso sukses menjalankan tugasnya sebagai penanggung jawab keamanan.

Karirnya meningkat menjadi Kepala Staf Kodam Jaya. Setahun kemudian, 1996, ia dipromosikan menjadi Pangdam Jaya. Sutiyoso kemudian beralih ke dunia politik hingga menjabat Gubernur DKI pada Oktober 1997-2002, dan 2002-2007. Usai menjadi gubernur, Sutiyoso memilih PKPI sebagai tempat berlabuh. Ia menjadi ketua umum pada 2010 menggantikan Meutia Hatta. Gagal melenggang ke Senayan pada Pemilu 2014, PKPI diketuai Sutiyoso memilih merapat ke Koalisi Indonesia Hebat untuk mendukung Jokowi sebagai presiden.

***

Melansir merdeka.com, 10 Juni 2015 (sebelum Sutiyoso dilantik menjadi Kepala BIN), Menteri Sekretaris Negara Pratikno mengatakan, pengalaman intelijen Sutiyoso sudah teruji saat menjalani berbagai misi masa silam, mulai dari Kalimantan Barat, Operasi Flamboyan di Timor Timur hingga penangkapan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Seperti apa kiprah Sutiyoso dalam menangkap petinggi GAM tersebut?

Dalam buku biografi Sutiyoso “The Field General: Totalitas Prajurit Komando” karya Robin Simanullang terbitan Pustaka Tokoh Indonesia terbitan pertama tahun 2013, disebutkan pimpinan teras Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha, cikal bakal Kopassus) menunjuknya sebagai komandan.

Penunjukan ini sangat mendadak, sebab pasukan yang bakal dikirim ke Aceh sebelumnya dibebankan kepada Mayor Yani Mulyadi. Perintah itu diberikan langsung oleh Danjen Kopassandha, bahkan dia mengancam tidak akan memberangkatkan pasukan jika Sutiyoso tak diikutsertakan.

Setibanya di Aceh, Sutiyoso segera mempelajari medan tugasnya yang belum dikenalnya. Dia tak segan bertanya kepada perwira-perwira yang lebih dulu di Aceh, termasuk perihal kekuatan GAM dan sosok pemimpinnya, Hasan Di Tiro.

Operasi dimulai dengan mencari jejak para pemimpin GAM. Hasilnya, Sutiyoso dan pasukannya berhasil mengendus keberadaan juru masak Tiro. Penangkapan pun berlangsung di sebuah rumah di tengah-tengah sawah.

Dari mulutnya, Sutiyoso menemukan posisi Tiro, namun saat pasukan tiba, pimpinan teras GAM tersebut berhasil kabur. Meski gagal, tapi Sutiyoso tidak menyerah, dia tetap melanjutkan pengintaian.

Lagi-lagi, Sutiyoso dan pasukannya berhasil mendapatkan informasi mengenai keberadaan Menteri Keuangan GAM, Tengku Muhammad Usman Lampoh Awe. Pejabat GAM ini ternyata disembunyikan seorang pengusaha asal Aceh. Sutiyoso lantas menyusun siasat untuk menangkapnya.

Sang pengusaha berhasil dibekuk, tapi Usman ternyata sedang berada di Medan bersama saudaranya. Sembari mengancam, Sutiyoso membujuk pengusaha tersebut agar membantunya. Permintaan itu disanggupi dan pengusaha Aceh tersebut berjanji membantu.

Dengan membawa pengusaha, Sutiyoso lantas berangkat menuju Medan bersama tiga anak buahnya. Setibanya di ibu kota Sumatera Utara itu, Sutiyoso melaporkan diri dan memberitahukan rencana penangkapan kepada Kodam II/Bukit Barisan. Ternyata, informasi yang diberikan Sutiyoso membuat mereka berencana bergerak sendiri, hal itu membuatnya kecewa.

Guna menutupi kekecewaannya, Sutiyoso menyusun sendiri penangkapan tersebut. Dia pura-pura menjadi sopir pribadi sang pengusaha. Sutiyoso memintanya untuk meyakinkan sudah memiliki uang untuk membiayai keberangkatan Usman ke PBB, namun uang tersebut disimpan di sebuah hotel.

Usman sendiri diperintahkan Tiro untuk menyampaikan niat mereka (Aceh Merdeka/AM atau GAM) untuk melepaskan diri dari Indonesia kepada PBB. GAM ternyata sedang berupaya mencari dukungan internasional.

“Kita akan mengambil sendiri Usman tanpa dukungan pasukan. Tapi skenarionya harus kita buat sedemikian rupa, sehingga si pengusaha dan sekretarisnya percaya ada pasukan yang mengepung di situ, padahal tidak ada,” ujar Sutiyoso pada pasukannya.

Setelah membeberkan rencananya, Sutiyoso menyopiri mobil yang dia pinjam dari perusahaan LNG. Sedangkan anak buahnya mengikuti dari belakang. Sebelum pengusaha turun, Sutiyoso mewanti-wanti agar menyebutnya sebagai sopir baru asal Makassar dan tidak berkhianat.

Setelah lama menanti, akhirnya sang pengusaha keluar bersama Usman. Meski sempat curiga terhadap dirinya, tapi berkat kegigihan pengusaha tersebut, Usman akhirnya rela masuk ke dalam mobil yang disopiri Sutiyoso.

Tak lama, anak buah Sutiyoso yang sudah menanti di belakang bergerak cepat dan menyergap. Rupanya, penyergapan ini dikira Usman sebagai perampokan. Dari Usman pula, Sutiyoso mendapatkan informasi penting, salah satunya mengenai keberadaan Tiro.

Kisah Sutiyoso ketika memimpin pasukan Sandiyudha dalam operasi intelijen tempur melawan GAM di pedalaman Aceh (1978), turut dijelaskan Robin Simanullang  dalam prolog buku Biografi Militer Sutiyoso “The Field General: Totalitas Para Prajurit Komando”, seperti dikutip dari tokohindonesia.com.

Disebutkan, selama 10 bulan Sutiyoso memimpin operasi di Aceh, nyaris tidak sebutir peluru pun diletuskannya, kecuali satu peluru yang diarahkan tepat ke kaki juru masak Tiro yang mencoba melarikan diri. “Bayangkan, dalam medan tempur sesulit itu, dengan ancaman nyawa bisa melayang seketika, dia sama sekali tak pernah gegabah meletuskan sebutir peluru dari moncong senjatanya”.

“Dia pun tidak pernah memerintahkan anggota pasukannya melepas tembakan untuk membunuh pasukan separatis Gerakan Pengacau Keamanan (GPK-GAM). Kalau pun pasukannya terpaksa menembak, dia pastikan bukan tembakan yang diperintah­kan untuk mematikan melainkan hanya mengancam dan melumpuhkan. Namun, ketika itu, Mayor Sutiyoso dan pasukannya berhasil menangkap hidup-hidup (sebagian menyerahkan diri) semua tokoh GAM (kecuali Hasan Tiro) dan tidak ada satu orang pun yang dia bunuh atau dia perintahkan bunuh,” tulis Robin Simanullang.

***
Sutiyoso yang kini Kepala BIN —yang pada 6 Desember 2015 lalu di Jakarta meluncurkan buku berisi pengalamannya berjudul “Sang Pemimpin”—kemudian turun ke Aceh menemui Din Minimi, pimpinan kelompok bersenjata. Ia pun membawa Din Minimi dan 120 anggota kelompok itu turun gunung. Din Minimi cs turut menyerahkan 15 pucuk senjata dan sekarung amunisi kepada Sutiyoso.

“Saya melakukan negosiasi dengan Din Minimi dan saya pidah ke rumah Din Minimi. Saya tidur bersama mereka dan akhirnya mendapat kesepakatan,” jelas Sutiyoso, dikutip detikcom, Selasa, 29 Desember 2015. (Baca: Kepala BIN Lakukan Negosiasi, 120 Anggota Din Minimi Serahkan Diri)

Sutiyoso menyebut ia melakukan pendekatan dengan Din Minimi melalui orang-orang yang memiliki akses dengan ekskombatan itu, termasuk negosiator asal Finlandia bernama Juha Christensen. “Untuk mengetahui nomor telepon Din, saya menggunakan pihak lain yang mempunyai akses kepadanya, termasuk Saudara Juha,” kata Sutiyoso, dikutip cnnindonesia.com. (Baca: Kisah Negosiator Finlandia Penghubung Kepala BIN-Din Minimi)

Menurut Sutiyoso, sebelumnya ia berkomunikasi secara intens sekitar sebulan dengan Din Minimi lewat telpon. “Jadi, tidak serta-merta, ada proses, terutama sebulan terakhir,” kata Sutiyoso, dikutip kompas.com.

Setelah itu, saat menemui Din Minimi di sebuah tempat yang dirahasiakan, Sutiyoso diminta hanya didampingi dua orang. Sutiyoso menyanggupi hal itu. Ia hanya mengajak seorang ajudan dan seorang pengawalnya saat menemui Din Minimi. “Selama perjalanan, saya tahu saya diawasi terus, diberhentikan beberapa kali, tetapi tidak apa. Risikonya sudah saya perhitungkan,” ucapnya.

Menurut dia, di tengah pembicaraan, Din Minimi lantas mengajaknya melanjutkan perbincangan ke rumahnya di Julok, Aceh Timur. Saat itu, Sutiyoso akhirnya mengetahui Din Minimi sudah empat tahun tidak pulang ke rumah. “Sampai saya baca psikologisnya bahwa Din Minimi ini mau menyerahkan diri,” ucap Sutiyoso.

Pendekatan kekeluargaan dilakukan Sutiyoso, menurut Ketua Aceh Human Foundation (AHF), Abdul Hadi Abidin, berhasil dengan baik, sehingga Din Minimi turut menyerahkan senjatanya sambil menangis. “Saya lihat setelah Bang Din menyerahkan (senjata), dirinya langsung memeluk Sutiyoso dengan erat sambil mengeluarkan air matanya dan Bang Din berkata 'Pak Sutiyoso jangan pergi meninggalkan saya',”  kata Abdul Hadi akrab disapa Adi Maros.

Mendengar perkataan tersebut, Bang Yos—sapaan Sutiyoso—pun sempat meneteskan air matanya. “Saya tersentuh, saya betul-betul ikhlas untuk Din Minimi,” kata Bang Yos kepada Adi Maros. (Baca: Kala Din Minimi Dianggap Adik oleh Kepala Badan Intelijen Negara)

Bang Yos menyebut Din Minimi bukan pemberontak yang mau memisahkan diri dari NKRI.  Ia menilai Din Minimi dan kawan-kawan hanya sebuah kelompok yang kecewa lantaran tidak puas dengan pimpinan atau elite GAM yang saat ini duduk di kursi pemerintahan. “Bang Din tidak seperti apa yang kita lihat selama ini, mereka hanya merasa saat ini ditelantarkan oleh pemerintah,” katanya. (Baca: Kepala BIN: Bang Din bukan Pemberontak)

Kepala BIN juga menilai tuntutan Din Minimi sangat rasional, termasuk pemberian amnesti. “Permintaan kelompok Din Minimi saya rasa semuanya sangat wajar dan rasional. Keseluruhan itu telah saya sampaikan kepada presiden, serta koordinasi dengan Menkumham, Komisi III DPR RI, Komnas HAM dan akan diproses,” ujar Bang Yos. (Baca: Kepala BIN: Tuntutan Din Minimi Rasional)

Dan, akhirnya orang nomor wahid di republik ini, Presiden Jokowi pun berkata, “Nanti akan kita berikan, tapi ada prosesnya”. (Baca: Jokowi: Pemerintah akan Proses Amnesti untuk Din Minimi).[] (idg)