BANDA ACEH – Dr Husaini M. Hasan, Sp.OG, sang mantan Sekretaris Negara Aceh Merdeka menawarkan beberapa konsep membangun daerah setelah puluhan tahun dilanda perang. Konsep ini dinilai bisa diterapkan oleh pejabat-pejabat eks-kombatan yang sedang dan mungkin akan memerintah Aceh di masa depan.

Dr Husaini Hasan menawarkan konsep pembangunan Aceh tersebut dalam bukunya “dari Rimba Aceh ke Stockholm.”  Meskipun program-program yang ditulis pria kelahiran Sanggeu, Pidie pada 3 Juli 1944 ini, tidak serta merta diterapkan di Aceh kekinian, namun setidaknya Pemerintah Aceh mau menerima masukan terkait pembangunan daerah agar lebih terarah. Baik dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah atau Rencana Pembangunan Jangka Panjang. Itupun dengan catatan: jika pejabat Aceh ingin membangun daerah ini lebih baik di masa depan.

Dalam buku yang lebih menitikberatkan perjalanan bersama deklarator GAM, Dr. Teungku Hasan Muhammad Di Tiro, B.S.,M.A.,Ph.D.,LL.D., tersebut, sang penulis menyebutkan ada beberapa hal yang bisa dilakukan Pemerintah Aceh untuk membangun daerah.

Husaini Hasan mengatakan hal terpenting bagi rakyat Aceh sekarang adalah bagaimana memanfaatkan masa damai ini untuk memulihkan kembali perekonomian rakyat, “agar dapat menaikkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat di segala sektor.”

Dr. Husaini mengatakan untuk dapat melaksanakan hal ini ada beberapa langkah yang mutlak harus dilakukan. Hal pertama adalah, adanya kesadaran dan kerjasama antara pemimpin dengan rakyat, bahu-membahu, interaktif dengan segenap lapisan masyarakat Aceh dalam membangun Aceh.

Hal kedua adalah memiliki program yang jelas dan terperinci jangka pendek dan jangkan panjang untuk dilaksanakan secara kontinuitas dan berkelanjutan, “tidak peduli siapa yang akan menjadi pemimpin Aceh.”

Dia juga menyebutkan perlunya support moral dan enthusiasm dari ulama-ulama dan tokoh-tokoh Aceh, para intelektual, elite Aceh di dalam dan di luar Aceh untuk keberhasilan program pembangunan ini.

Selanjutnya adalah penyediaan dana yang countinuity untuk membiayai pembangunan Aceh. “Saya mengharapkan program-program pembangunan Aceh disusun oleh para Intelektual Aceh sesuai dengan bidangnya masing-masing dan dengan sukarela menyumbangkan ilmu-ilmu mereka melalui siaran resmi atau seminar-seminar yang diperuntukkan untuk pembangunan Aceh,” tulisnya lagi.

Dia kemudian memaparkan beberapa dasar pembangunan Aceh berdasarkan pengalamannya tinggal di luar negeri. Salah satunya adalah merujuk kehidupan ekonomi Aceh di masa kegemilangan Kerajaan Aceh. Menurut Doktor Husaini, Aceh sebelum invasi penjajah asing, mampu hidup secara independent dengan memproduksi kebutuhannya sendiri. “Aceh saat itu menjadi lumbung padi di Asia Tenggara,” ujarnya.

Konsep swasembada pangan ini bisa dilaksanakan dengan adanya saluran irigasi yang dibagi rata untuk seluruh pelosok daerah. Saat itu, masjid dan menasah menjadi inti pemerintah desa untuk mengatur pembagian air kepada rakyat. “Sehingga dalam pemerintahan gampong ada posisi yang disebut ‘Waki Lueng’, bermakna wakil saluran yang merupakan penanggung jawab menjaga pintu air, membuka dan menutupnya menurut musim,” tulisnya lagi.

Dia juga turut mencontohkan produksi tradisional masyarakat Aceh seperti minyak yang diambil dari sari kelapa busuk. Kelapa tersebut kemudian diperah, dimasak, dan menjadi minyak makan. Ampasnya tidak dibuang, tetapi sangat bagus dijadikan minyak urut, dan minyak rambut. Sementara ampas kelapa sisa, dikeringkan dan dijadikan bumbu masakan atau dalam bahasa Aceh dikenal dengan sebutan pliek.

Batang kelapa bisa dijadikan jembatan darurat dan papannya bisa menjadi bahan baku perumahan. Daunnya juga bisa dijadikan bleuet, yang bisa dipergunakan untuk alas, dinding dan sebagainya. Sementara buah kelapa dijadikan kopra, minyak, dan sabun. “Sabut kelapa dipintal menjadi tali dan keset kaki. Batoknya dijadikan peralatan dapur, semua material dari batang kelapa dapat digunakan,” tulisnya.

Dengan kata lain, Dr Husaini Hasan mengajak warga Aceh untuk kembali membudidayakan kelapa sebagai salah satu penyokong ekonomi daerah.

Menurut Husaini Hasan, Aceh juga memiliki sumber daya alam lain yang bisa menggenjot perekonomian penduduk. Dia menyebutkan seperti enau dan tebu yang bisa dijadikan gula atau makanan. Jika merujuk sejarah perekonomian Aceh, dulunya daerah ini juga sudah bisa membuat tenunan sendiri “pok-teupeun” penanaman kapas untuk pemintalan benang. Aceh dulunya juga memiliki peternakan ulat sutera untuk penenunan sutera.

“Sutera Aceh pada masa itu sangat terkenal, bahkan mengimbangi kualitas sutera Jepang. Saya berpendapat, kebudayaan rakyat yang positif ini harus dihidupkan kembali, supaya rakyat itu kreatif dan berdikari, independent, dan tidak malas. Apalagi mengingat pasaran dunia sekarang berfokus di Asia maka Aceh harus mengambil peluang ini dengan menghidupkan kembali industri-industri rakyat di gampong-gampong. Misalnya industri pembuatan tali pinggang, topi, tas, sepatu, dompet, industri tekstil, sutera dan lain-lain,” tulis Husaini Hasan.[] (Selanjutnya baca: Aceh Perlu Fokus Mengembangkan Budidaya Ternak dan Bank Syariah)