Dalam sebuah seminar tentang pendidikan, seorang pemakalah berujar kira-kira seperti ini, Mari kita mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan! Salah satu peserta yang duduk di samping saya ketika itu berkata pada teman di sampingnya, Ketertinggalan kok dikejar, yang harus dikejar kan kemajuan. Ngapain mengejar ketertinggalan.
Pernyataan salah seorang peserta seminar yang mempermasalahkan pemakaian kata ketertinggalan oleh pemakalah ketika itu selayaknya memang perlu diluruskan. Saya katakan demikian karena memang kata tersebut tidak cocok digunakan dalam kalimat Mari kita mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan! Pemakaian ketertinggalan pada kalimat tersebut sejatinya melanggar norma-norma logika berbahasa.
Dilihat dari segi konteks kalimat tersebut, ketertinggalan dapat dimaknai sebagai dalam keadaan tertinggal. Bila dikaitkan dengan mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan, ini berarti kata tersebut bermakna mengejar keadaan tertinggal di bidang pendidikan. Para peserta ketika itu diajak mengejar ketertinggalan di bidang pendidikan, bukan mengejar kemajuan. Barangkali inilah sebabnya pendidikan di negeri ini tak pernah maju karena yang dikejar selalu yang tertinggal alias kedaluwarsa. Lihat saja, metode dan model pembelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah/ perguruan tinggi di antaranya adalah metode atau model tahun 50-an dan 60-an yang diadopsi dari negara lain.