Oleh Taufik Sentana*
Hasan Langgulung (alm) merupakan profesor pendidikan Islam dan psikologi yang terbesar di Asia Tenggara. Azyumardi Azra menganggap ia sebagai rujukan utama dalam perkembangan pemikiran pendidikan Islam modern di Indonesia. Ia lahir di Rappang, Sulawesi Selatan 16 Oktober meninggal di Malaysia, 2 Agutus 2008 pada umur 73 tahun.
Sebelum membahas klasifikasi ilmu, dalam kertas kerjanya Hasan Langgulung terlebih dahulu membahas tentang metodologi sains. Menurutnya dasar utama metodologi sains adalah tazkiyyatunnafsi sebagaimana yang telah dikenalkan oleh 'ulama-ulama' kita sebelumnya. Hal tersebut diperlukan agar kuasa rasional akal sejalan dengan fitrah penciptaan manusia dan tunduk pada sifat sifat Allah.
Adapun klasifikasi ilmu menurut Hasan Langgulung sebagai usaha para pemikir untuk menggabungkan beberapa cabang ilmu agar lebih mudah dicerna, diingat dan dipelajari.
Sejak masa Aristoteles klasifikasi ilmu telah ada. Ilmu dibagi kepada ilmu teoretis, ilmu alam (thabi'i), matematika, metafisika dan ilmu praktis tentang hubungan pribadi,keluarga dan mengelola kota. Lalu beberapa ilmuwan muslim awal mengadopsi dan mengembangkan klasifikasi tadi, seperti Alkindi, Alfarabi, Ibnu Sina dan Alghzali serta lainnya. Sedang Ibnu Khaldun yang datang jauh sesudah mereka juga mengkalisifikasi ilmu yang berbeda pula. Menurut Khaldun secara umum Ilmu terbagi dua, yaitu ilmu berdasarkan wahyu dan berdasarkan akal, lalu ia membuat rumpunnya.