JERUSSALEM – Serangan-serangan terus berlangsung di berbagai tempat di Yerusalem, hanya beberapa saat setelah Israel melancarkan operasi keamanan besar-besaran di kawasan Arab kota itu. Rabu (14/10), polisi memblokade akses masuk ke Jabal Mukaber, sebuah distrik tempat tinggal tiga lelaki yang diduga membunuh tiga warga Israel Selasa (13/10).
Beberapa jam setelahnya, polisi menembak mati seorang Palestina yang menikam seorang perempuan palestina di stasiun bis utama Yerusalem. Seorang Palestina lain juga berusaha menikam seorang petugas polisi dekat kawaasan Kota Tua. Ia juga ditembak mati.
Sejak awal Oktober, tujuh warga Israel terbunuh dan puluhan luka dalam serangan gelombang tembakan dan tikaman, kata pejabat Israel. Setidaknya 30 warga Palestina juga terbunuh, termasuk para penyerang, dan ratusan terluka, menurut kementerian kesehatan Palestina.
Hari Rabu, kabinet Israel memberi kewenangan bagi polisi untuk menutup sebagian Yerusalem. Peningkatan penikaman dan penembakan ini terjadi menyusul ketegangan selama berminggu-minggu terkait akses ke kompleks Masjid al-Aqsa.
Berbicara untuk pertama kalinya sejak meletusnya kekerasan, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan, langkah Israel itu bisa “memicu konflik agama yang bisa membakar segalanya.”
Ia juga menuding Israel melakukan “eksekusi terhadap anak-anak kami dengan darah dingin,” terkait ditembaknya seorang bocah Palestina berusia 13 tahun yang bersama seorang bocah lain berusia 15 tahun menikam seorang warga Israel hari Senin.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut ucapan pemimpin Palestina itu sebagai “dusta dan menghasut,” sambil mengatakan bahwa bocah itu masih hidup dan dirawat di Rumah Sakit, lapor Jerusalem Post.
Disebutkan Netanjahu, langkah-langkah keamanan Israel terbaru itu diarahkan kepada “mereka yang mencoba membunuh dan siapa pun yang membantu mereka.”[] sumber: bbc.co.uk