TAKENGON – Pegaspalan hotmix menjadi metode yang bisa dilakukan untuk meningkatkan jalan Kabupaten di Aceh Tengah. Namun, jalan Putri Ijo yang sudah diaspal berkali-kali tetap saja rusak dalam waktu singkat, sehingga memerlukan biaya pemeliharaan yang relatif besar.

Setelah diteliti, ternyata ruas jalan tersebut memiliki karakter daya dukung tanah yang rendah, karena dasarnya merupakan tanah rawa sehingga tidak stabil.

“Sudah dilakukan penelitian hingga kedalaman 15 meter di Jalan Putri Ijo belum ditemukan tanah keras,” kata Kepala Dinas Bina Marga Aceh Tengah Khairuddin Yoes didampingi pejabat pelaksana teknis kegiatan jalan Putri Ijo, Ummu Hanik dalam jumpa pers kamis 24 Desember 2015.

Berdasar pengalaman tersebut, pihak Dinas Bina Marga memakai Rigid Pavement atau perkerasan kaku yang unggul dalam distribusi beban sehingga lebih tahan lama dan otomatis menekan biaya pemeliharaan daripada perkerasan lentur yang selama ini dilakukan.

“Ini Rigid Pavement merupakan yang pertama dilakukan di Aceh Tengah, walaupun selama ini sudah lumrah diterapkan dalam konstruksi jalan. Rigid pavement pada jalan putri ijo tidak dibuat dengan sistem menerus sepanjang jalan tetapi dibuat slab per slab dengan ukuran satu slab 4 x 5 meter,” kata Khairuddin.

Hal tersebut menurut Khairuddin agar apabila terjadi kerusakan badan jalan tidak perlu dibongkar keseluruhan, cukup hanya pada slab yang mengalami kerusakan.

Ketika meninjau proses pengerjaan jalan, Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin mengatakan, peningkatan jalan Putri Ijo memakan biaya yang relatif besar dari pengaspalan biasa, tapi masyarakat bisa lebih nyaman dan lebih lama dapat memanfaatkan kondisi jalan yang baik,” demikian Nasaruddin.[]